Oleh: Chrysnanda Dwilaksana.
TRANSINDONESIA.co | Seni merupakan bahasa universal yaitu kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban. Seni, budaya dan pariwisata dapat menjadi jembatan atas saluran komunikasi sosial, berbagai kepentingan dari ideologi religi politik kemanusiaan hingga membangun solidaritas sosial.
Seni, budaya dan pariwisata juga untuk mengatasi berbagai konflik dengan cara beradab. Seni: suara, gerak, rupa, nada, kata/sastra menunjukkan budaya sebagai kekayaan bangsa sekaligus refleksi peradabannya.
Tatkala berbicara kebudayaan sebagai fungsi maka yang dilihat adalah apa yang ada di balik fenomena, berupa keyakinan, pemikiran, konsep bahkan teori yang digunakan secara selektif prioritas untuk mengeksploitasi sumber daya atau mendistribusikan sumber daya.
Dengan seni, budaya dan pariwisata kebuntuan akan komunikasi sosial dan kebuntuan akan pemecahan masalah primordial dapat disalurkan melalui berbagai simbol atau ikon atau tanda. Katarsis kepenuhan kesesakkan jiwapun dappat disalurkan. Seni budaya dan pariwisata ikonnya menjembatani bukan membangun tembok pemisah.
Kepentingan atas hidup dan kehidupan.
Dengan ikon atau tanda maka penggunaan tafsir dan imajinasi pun akan berkembang. Apa yang dilihat dikatakan dan disampaikan tidak sebatas pada satu sisi namun dapat dengan cara yang holistik atau sistemik.
Penjabaran atas seni, budaya dan pariwisata dalam kehidupan ini akan berkembang pada kebudayaan yang menunjukkan karakteristiknya sesuai dengan corak masyarakat yang variatif.
Kebhinekaan atau perbedaan menjadi sesuatu yang biasa dan menjadi kekuatan sekaligus kekayaan. Pendekatan atas seni, budaya dan pariwisata sebagai jembatan peradaban dapat di lihat bagaimana sejak jaman renaisance ditunjukkan dari karya leonardo da vinci dalam sketsa orang dengan ekspresi yang berlebihan maupun dalam kajian ilmiahnya.
Karya Michelangelo pada last judgement yang menggambarkan tokoh terhormat dalam visual tokoh berdosa berat. Karya Fransisco de Goya dari spanyol yang menggambarkan kritik sosial penembakan Mei, Maya yang telanjang, foto keluarga kerajaan dengan wajah wajah ideot. Karya karya Honore Daumier yang sarat dengan kritik sosial yang karikatural atau sindiran.
Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh nampak bagaimana kepala orang bule digambarkan tidak proporsional sedikit lebih besar sedangkan gambar orang orang Jawa atau pengikut Pangeran Diponegoro begitu perfek.
Karya karya Raden saleh lainya berupa perkelahian antara banteng dengan harimau maupun perkelahian dengan singa, perburuan yang merupakan suatu simbol perlawanan terhadap kolonialisme melalui seni yang ikonik.
Karya karya pada masa orde baru orde reformasi sarat dengan kritik atau sindiran atas politik hukum kemanusiaan hingga ketidak adilan. Gambar gambar karikatur mulai muncul pada masa pra kemerdekaan yang menjadi tajuk visual pada surat kabar.
Kita dapat melihat karya karya Agustin Sibarani, GM Sudarta, Pramono Pramoedjo, Dwi koendoro, Priyanto Sunarto, dll. Karya karya karikatur yang kartunal menjadi trend karikatur kritis namun ada humornya. Mempletat pletotkan wajah pejabat atau oramg orang terkenal memerlukan kepiawaian tersendiri untuk melebih lebihkan yang lebih dan mengurang ngurangi yang kurang.
Pemikiran dan kepiawaian menggambar menjadi suatu kesatuan memvisualkan ide gagasan dalam karikatur yang kartunal. Dalam nada dan suara lagu dengan syair balada atau lagu lagu ala country yang dinyanyikan Iwan Fals, Doel Sumbang, Leo Kristi, Franky Sahilatua, dll, juga merupakan penggabungan imajinasi atas kritik melalui analogi kehidupan sosial.misal saja lagu: Umar Bakri, si Gali, Ambulan zigzag, Sarjana muda, dsb.
Lagu lagu jenaka dari Doel Sumbang dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Lagu lagu orkes sinten remen. Penampilan teater Gandrik, teater Koma, indonesia kita, hingga ludruk. Jula juli Kartolo juga menunjukkan adanya kritikan yang dengan humor.
Novel karya Pramudya Anantatoer karya Tetralogi pulau Buru, Nyanyi sunyi seorang bisu, Gadis pantai dsb. Karya Novel Romo Mangun : Romo Rahadi, Burung burung manyar, Lusi Lindri, Genduk Duku, Roro Mendut dsb. Tulisan Gerundelan Orang Republik dan banyak lagi lainnya. Tarianpun dapat sebagak simbol ritual hingga kritik sosial. Seperti; Bedoyo Ketawang, hingga tari tari modern karya Bagong Kusudiarjo, Didik Nini Thowok, dsb.
Puisi dan syair syair lebih mengarah pada kritik dari yang lembut hingga tajam. Lihat saja syair Chairil Anwar, Rendra, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, dll.
Seni, budaya dan pariwisata dalam pendekatan pemolisian menjadi jembatan peradaban. Kawasan pariwisata masa pra sejarah, masa kerajaan, masa kolonial hingga masa kini sangat beragam.
Namun sering kali seni, budaya dan pariwisata hanya sebatas pelengkap saja. Dengan political will yang kuat akan seni budaya dan pariwisata terus berkembang dalam olah jiwa, olah rasa, olah pikir dan olah raga.
Olah rasa dibiarkan bagai bibit bibi unggul hidup di tengah ilalang. Bagi yang dapat bertahan hidup tumbuh dan berkembang.
Pendekatan seni, budaya dan pariwisata memanusiakan manusia dan demi semakin manusiawinya manusia. Tentu saja anti premanisme yang kontra produktif dan menginjak injak hukum, kemanusiaan dan merusak peradaban. (CDL)
