Ilustrasi - Foto Istimewa.
The true intelegent is not knoledge but imagination. (Albert Einstein)
TRANSINDONESIA.co | Berimajinasi bukanlah menghayal, bukan berangan angan kosong, bukan mabuk. Imajinasi adalah berpikir dan menggunakan jiwa serta rasa untuk menembus labirin ruang waktu dan kebendaan. Bagai berselancar tanpa lautan namun bisa merasakan deru ombak, bermain sepak bola tanpa lapangan dan bola namun bisa menemukan hiruk pikuk suporternya.
Memancing tanpa pancingan namun merasakan bau amis ikan dan nikmatnya tarik menarik senar pancingan. Menikmati surga tanpa harus mengalami kematian. Menjelajah waktu tanpa harus meninggalkan kekinian. Imajinasi antara waras dan kegilaan memang tipis tis saja batasannya bedanya hanya bisa mengendalikan diri dan tahu arah pulang. Itulah asiknya menyelami hidup dan kehidupan dalam imajinasi bebas merdeka apa saja bisa, semau kita.
“Isi kepala” kompleks akan ada imajinasi, ilusi, pengetahuan, niatan, mengolah rasa, menstimul indera, kekuatan sekaligus kelemahan, keberanian juga ketakutan, dan banyak lagi lainnya. Isi kepala ya itulah misteri hidup tiada kata yang tepat untuk menggambarkannya.
Beragam rangkaian kata untuk menjelaskan satu kata. Bisa berbeda, bervariasi, bahkan bertentangan satu sama lainnya. Satu tema bisa seribu karya, namun benang merahnya ada pada jiwa, pikiran, indera. Memang akan sulit dikata tentang rasa.
Bagaimana menceritakan asam lambung naik atau mata pedih karena sesuatu. Bisa saja dimengerti namun ada sesuatu yang berbeda. Seni sering dikatakan adanya imajinasi. Memahami imajinasi memerlukan dialog antara indera dengan jiwa untuk memahami pikiran melalui apa yang dapat ditangkap indera sebagai suatu rasa.
Rasa ditangkap melalui nada, suara, kata, rupa, warna, gerak atau gabungan kesemuanya itu. Seni, berkaitan kekuatan. Kekuatan jiwa, kekuatan pikiran dan kekuatan indera.
Memang ketiga unsur dasar tadi bisa dijabarkan dalam berbagai pendekatan dan sangat kompleks. Pengungkapan rasa jiwa dalam imajinasi bisa saja datar atau bertingkat tingkat, atau seperti labirin, bisa juga kosong atau padat. Memahami rasa jiwa banyak pendekatan dari kesadaran hingga alam bawah sadar. Dari kewarasan sampai kegilaannya. Dari kecerdasan sampai kebodohannya.
Seni refleksi manusia dan kemanusiaan
Tatkala seni kuat maka sejatinya peradabannya pun kuat. Dalam menguasai dan mendominasi sumber daya seni dapat menjadi pendekatannya. Seni yang menjadi tradisi, menjadi budaya.
Seni menjadi jembatan transformasi atas gatra kehidupan di semua lini. Seni budaya menjadi ikon kekuatan suatu bangsa dan negara. Semakin tinggi tingkat pemahaman dan tingkat apresiasi terhadap seni, maka kekuatan, kedaulatan, daya tahan, daya tangkal dan daya saing suatu bangsa akan semakin kuat. Demikian juga sebaliknya. Karena seni berkaitan dengan imajinasi dan manusiawi.
Seni pilar keteraturan sosial bagi semakin manusiawinya manusia? Tentu saja. Seni bukan sebatas keindahan, keceriaan namun juga kedukaan, kesusahan dsb. Seni refleksi jiwa manusia.
Seni akan tumbuh berkembang tatkala mentradisi dan dirawat serta ditumbuh kembangkan.
Seni bisa menjadi jembatan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan, pertahanan, hukum, teknologi dsb.
Seni bukan sekedar hafalan atau pengetahuan melainkan imajinasi.
Pameran yang bertajuk BEYOND IMAGINATION
Merupakan pameran besar komunitas perupa IA (Indonesian Artist) atau Seniman Indonesia, yang akan terselenggara 3-31 Mei 2025
di Art Space Gedung Jakarta Design Center.
Tema tersebut memberi spirit dan makna bahwa seni rupa Indonesia sudah melampaui mazab dan aliran yang ada baik pada seni modern dan kontemporer barat maupun Indonesia.
Tema Beyond Imagination ketika dikaitkan dengan sebuah seni memiliki arti bahwa seni yang melampaui (diluar) sebuah imajinasi yang identik dengan kecerdasan ide.
Seni merupakan basis mencerdaskan kehidupan bangsa. (Chrysnanda Dwilaksana)
Kemayoran 080325
