Bambang Ekalaya dan Model Belajar Virtual

TRANSINDONESIA.co | Bambang Ekalaya seorang ksatria yang amat mengagumi Begawan Durna. Ia ingin belajar memanah pada Begawan Durna, namun Bambang Ekalaya ditolak oleh sang Begawan, karena sudah terikat janji untuk mengajar para ksatria Hastina Pura, khususnya Para Pandawa dan Para Kurawa. Saking cinta dan bangganya kepada Begawan Durna diam diam Bambang Ekalaya membuat patung Begawan Durna yang di dudukan seolah sebagai guru spiritualnya yang mengajar dan melatih dan mengawasinya. Bambang Ekalaya berlatih memanah dengan penuh semangat dan bersungguh sungguh hingga kepiawaiannya tak kalah dengan murid kesayangan sang Begawan yaitu Arjuna.

Arjuna memiliki rasa khawatir yang yinggi, jangan jangan Bambang Ekalaya akan mengalahkan dirinya. Arjuna komplain kepada sang Begawan. Demi murid kesayangannya hingga sang Begawan tega meminta Bambang Ekalaya memotong kedua ibu jarinya hingga Bambang Ekalaya menemui ajalnya. Sukma Bambang Ekalaya akan menjemput Sukma Begawan Durna pada saat perang Baratayudha yang ditakdirkan mati di tangan Drestajumna putra prabu Drupada.

Ala belajar Bambang Ekalaya belajar di era digital bisa dikatakan belajar virtual.

Di era digital dengan kehadiran AI dalam pendidikan bisa membantu mentransformasi pengetahuan dan ketrampilan. Hakekat pendidikan untuk mentransformasi, mencerahkan menjadikan siapa bukan sebatas apa dan bagaimana. Manusia adalah aset utama bangsa ini. Pada pendidikanlah tergantung masa depan bangsa. Proses belajar bukan lagi sebatas di kelas atau cara cara konvensional yang membelenggu melainkan ada di mana saja, dengan cara apa saja, kapan saja dan dengan siapa saja bisa.

Pendidikan virtual pada prinsipnya sama dengan pendidikan aktual yang merupakan suatu cara untuk:

1.Menyadarkan

2.Mencerahkan

3.Memanusiakan bagi semakin manusiawinya manusia

4.Regenarasi dan kaderisasi

5.Membangun dan menumbuhkembangkan peradaban

6.Mencerdaskan kehidupan bangsa

7.Mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial

8.Menjaga kedaulatan, daya tahan, daya tangkal bahkan daya saing suatu bangsa.

9.Meningkatkan kualitas hidup masyarakat

Ke sembilan point di atas saling terkait satu sama lainnya dan bukan seperti urutan abjad kegunaannya, melainkan menjadi satu kesatuan bagi kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pendidikan virtual dengan adanya media dan aplikasi yang berbasis aplikasi maka cara berpikir secara logika, etika dan estetika untuk menyelesaikan berbagai masalah. Atau bisa saja secara kreatif imajinatif seperti berpikir model helicopter view atau secara konseptual, teoritikal, aplikasi pada studi kasus.

“Belajar dan menjadi pembelajar merupakan moralitas untuk membangun hidup dan kehidupan yang lebih baik demi semakin manusiawinya manusia”.

Belajar bisa dari mana saja, dari apa saja dan dari siapa saja bahkan di mana saja. Belajar tidak sebatas di ruang kelas yang berisi tembok tembok pembelenggu kemerdekaan berpikir atau guru guru yang menakut nakuti yang melemahkan sehingga tidak lagi menjadi pemberani. Tatkala belajar didoktrin dan dijejali berbagai hal tanpa memahami kemanfaatannya maka sebenarnya itu sekedar menghabiskan jam belajar.

” non scolae set vitae discismus” belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup”

Belajar model konseptual maupun teoritikal merupakan kampuan mengabstraksikan dalam menemukan hakekat atau inti akan sesuatu dengan menghubung hubungkan antara konsep konsep yang merupakan prinsip prinsip yang mendasar dan berlaku umum untuk menjelaskan sesuatu fenomena. Teori tatkala memiliki kekuatan dan kesahihan, memiliki power dan menjadi ikon. Namun bukan disakralkal atau didewakan sehingga para orang hanya menghafal bahkan membanggakan menggunakan teori ini itu seakan sebagai pemgecer teori dan lupa bahwa sejatinya tepri sebagai acuan atau kerangka berpikir akademisnya.

Teori merupakan suatu karya cipta penemunya bisa berdasar pengalamannya bisa juga dari hasil risetnya atau hasil dari konstruksi berpikirnya dengan menggunakan atau mengkritisi teori teori yang terdahulu. Teori dapat dipahami sebagai hakekat hubungan antara konsep konsep yang merupakan prinsip prinsip yang mendasar dan berlaku umum untuk menjelaskan atau menerangkan suatu fenomena. Berpikir teoritis merupakan berpikir yang abstrak atau imajinatif yang mampu menemukan prinsip mendasar yang berlaku umum bukan pragmatis.

Teori bukan dihafal bukan sebatas dijejer jejer atau dipajang namun digunakan untuk menjelaskan apa makna di balik suatu gejala atau fakta. Tatkala tanpa kemampuan imajinasi maka teori sebatas dihafal dan tidak akan dapat mengurai dalam konstruksi/ kerangkanya atau dekonstruksinya. Tatkala teori dihafalkan atau tidak dijadikan kerangka berpikir atau mengkonstruksi maka teori itu akan tumpul atau flat atau datar saja. Tidak akan mampu menjadi sarana menyelami kedalaman atau membongkar labirin atas suatu fenomena. Bahkan kadang malah membelenggu akibat dihafal atau semacam kewajiban saja. Tatkala menulis atau membuat kajian atas sesuatu apabila sudah menempel teori ini itu di mana mana seolah olah sudah benar.

Pola pembelajarannya berubah dari aktual ke virtual dan membranding para siswa sehingga bukan sebatas apa bagaimana dan mengapa melainkan mampu membangun menjadi siapa.

Beberapa hal yang dapat dibangun atau setidaknya dapat diterapkan di masa transisi menghadapi perubahan besar kehadiran AI dapa lembaga pendidikan setidaknya melalui:

1.Membangun sistem literasi

2.Melakukan pembelajaran melalui dialog secara proaktif dan problem solving

3.Keutamaan ilmu yang dipelajari dijadikan core value dan standar keberhasilannya

4.Lembaga pendidikan mampu berwibawa dan menunjukkan kualitasnya dalam penyelenggaraan pendidikan atau proses belajar dengan baik dan benar

5.Para dosen atau Guru guru mampu mengikuti perubahan yang begitu cepat, memposisikan sebagai pilar lembaga pendidikan yang berkualitas dan memiliki kompetensi akademik serta mampu memotivasi mahasiswa berani kreatif serta menjadi ikon kecerdasan atau keahlian

6.Fasilitas pendidikan membuat sistem back office, application berbasis AI dan net work berbasis IoT yang mampu memberikan dukungan pendidikan secara virtual dalam model literasi ada sistem dialog peradaban dan branding memanfaatkan media dan jejaringnya.

7.Para siswa atau peserta didik dimotivasi dan dilatih belajar dengan cara berpikir kreatif inovatif problem solving dan visioner

8.Proses belajar mengajar yang berbasis pada :

a. keilmuan,

b. pemahaman dan pengembangan teori dan konsep,

c. studi kasus ,

d. problem solving, yang dikembangkan dalam pemikiran kebaruan sebagai pembaruan

9.Forum diskusi sebagai basis dialog peradaban bagi pengembangan ilmu pengetahuan

10.Penerbitan untuk menampung karya para dosen atau guru dan siswa /peserta secara elektronik atau cara konvensional

11.Jurnal ilmiah

12.Kerjasama dalam maupun luar negeri untuk kegiatan akademik : penelitian ilmiah, debat publik, bedah buku, bhakti masyarakat dll

13. Ada ikatan alumni

14.Aktif dlm kegiatan forum akademis nasional maupun internasional bench mark seminar work shop dan studi nasional dan internasional

15.Ada publikasi pengajarannya ke media sehingga dapat dijadikan referensi dan literasi

16.Menjadi anggota forum atau asosiasi akademik nasional maupun internasional

Model belajar Bambang Ekalaya menginspirasi model belajar secara virtual dengan spirit dan cara berpikir dalam mind set kekinian yang berani melepaskan ala old mind. (Chrysnanda Dwilaksana)

 

Tegal Parang Idul Adha 170624

Share