In Memoriam KP Hardi Danuwijoyo.
TRANSINDONESIA.co | Hari ini membawa di WA grup KP Hardi Danuwijoyo pelopor GSRB ( gerakkan seni rupa baru) dikabarkan meninggal dunia, karena sakit.
Suhardi sejak tahun 70 an sudah aktif berkiprah dalam dunia seni rupa. Beliau aktif sebagai pelaku sejarah seni rupa Indonesia. Pengalaman pengalamannya bersama para Maestro dalam berkesenian menjadi sejarah yang merupakan literasi seni budaya di Indonesia.
Kenangan secara intens melalui WA bersama pak Hardi pada th 2021 menjadi kenangan dan motivasi dalam dunia seni.
Cdl: Sugeng sonten pak
KP Suhardi: Matursuwun pak chrys…top sehat kuat dan berkah gusti.
Cdl: Amin sami sami pak. Mugi tansah wilujeng sarto sehat.
KP suhardi: ini karya saya tentang gereja katedral dari cat air.
Cdl: Mantaf pak
Pak Hardi dari dulu sangat produktif dan kritis
KP Suhardi: Cat air. Karya begini biasanya saya lukis rame rame dengan teman pelukis…satu obyek bisa 5 lukisan on paper…pak chrys kalau saya ajari tehniknya juga gampang…..
Cdl: Iya pak
Menyenangkan melukis kalau on the sport
KP Suhardi: Iya..memang begitu….juga yang penting belajar tehnik.mudah kok pak….dulu beberapa kali saya mengadakan pameran untuk Polri. Masa pak Sutanto sebagai Kapolri, organisator nya pak Komjen Mujiwaluyo.
Cdl: njih pak leres meniko jaman pak Muji Kadiv Humas. Pas saya ke Galnas
Saya numpang narsis dengan karya pak Hardi. “SUHARDI PRESIDEN RI TH 200”
KP Suhardi: Weiiiii….ini yang dibeli Galnas.
Cdl: Njih leres pak
KP Suhardi: Saya cepet nglukis potret,tinggal Poto dibesarin di kertas folio,kemudian diblak pakai karbon diatas kanvas.ketemu skets nya ,terus tinggal diberi gelap terang,warna senada.
Cdl: Setuju pak teknik bervariasi dan karya ini masa modern art bileh dikatakan tidak terikat teknis dan konsepnya bisa lebih merdeka
KP Suhardi: Siippppp.kalau memerlukan Monggo .gratis..saya sejak dulu ngajari pelukis muda sampai kapok karen etika standart nya lemah, makanya senirupa kita tidak dipedulikan oleh pemerintah, karena kurang intelek dan personal branding nya lemah.
Cdl: kurang punya perbowo?
KP Suhardi: pada masa awal kemerdekaan, seniman juga berjuang dan pemikir menjadi sparing Bung Karno dalam ngatur kesenian bangsa ini. Banyak buktinya dari foto para seniman dulu berdiskusi bahkan berdebat tentang seni bersama Bung Karno.
SENIMAN DILEMAHKAN pada era orba,keterusan hingga sekarang. Menurut saya yang cukup optimal justru di era pak Jokowi
Cdl: Kering pak ?
Kesenian dan kebudayaan mungkin belum dijadikan keutamaan bagi kemanusiaan dan peradaban. Seolah olah ekonomi menjadi pujaan dan beres semua bila ekonomi maju. China maju karena selain ekonomi dan teknologi juga terus menumbuhkembangkan seni dan budaya. Eropa kuat termasuk Amerika, Australia, Jepang, Korea, Thailand kuat seni budayanya. Bahkan Singapore pun sangat care dan menjadi acuan negara negara lainnya.
KP Suhardi: Iya pak…itulah .saya bikin buku : Wayang, Keris,dan pemerintah Ndak malu….hahaha
Cdl: tidak kreatif pak, karena budayanya menunggu diperintah dan membebek apa kesukaan ndoronya.
KP Suhardi: Saya setiap punya ide dan alhamdulilah TUHAN memberi jalan dengan mudah.
Cdl: Amin. Setuju pak
Perjuangan dan pengalaman pak Hardi akan menjadi inspirasi anak anak muda mengenal para maestro Indonesia dengan cara berbeda
Berkenan menulis buat buku Nashar pasca pameran tribute to Nashar pak?
Ijin foto2 bs mjd bagian buku jg ?
KP Suhardi: Anaknya 3 saya baik semua.terakhir Dita mau pameran.datang kerumah saya tuliskan sambutan dan saya sangoni uang. Bisa..nanti saya edit nya.ambil tulisan yang dikompas saja..mewakili…pak Nashar itu sakit berat, jantungnya, paru bengkak, digeletakin di gudang lukis IKJ yang bocor…. saya diberitahu,langsung saya laporkan ke dinas kebudayaan,trus kita bawa opname di Carolus… terus saya pamerkan yang aku tulis dan bisa sembuh.
Saya kenal dengan Ke 3 anaknya pak Nashar: buyung, Dita ,Yadi.
THN 1974 pameran dengan saya. Pak Nashar teorinya dicemooh kaum akademisi. Tiga nonnya Nashar dianggep aoutididak yang berteorinya salah.
Cdl: Ini luar biasa pak yang perlu diangkat lagi menyentil para birokrat seni budaya maupun akademisi yang lupa bahwa pemikiran itu bisa dari mana saja.
Gigih dan kokoh beliaunya
KP Suhardi: Saya waktu itu diejek..tapi saya kan jago senimodern barat, jadi kandas mereka.
Cdl: Kadang yang diikuti yang diamini banyak orang setiap ada yang baru dan bisa memperbaharui selalu dibuli bahkan bisa dimatikan karakternya kalau bisa
KP Suhardi: Ketika beliau hidup dibiarkan miskin supaya lukisannya bisa dibeli Rp 250.000,- setelah meninggal karyanya digoreng kelompok kelompok dengan kurator yang se olah olah kenal.
Cdl: Para kolektor membuatkan ini itu demi koleksinya mumbulkah ?
KP Suhardi: Pak Hendra juga digitukan..lihat kalau ada perayaan Hendra yang pidato dll semua ciputra dkk.
Cdl: Dikapitalisasi pak
Yang dianggap sukses berhasil bukan yg berjuang tetapi yang bisa digoreng untuk menghasilkan uang.
KP Suhardi: Saya simpen file yang bikin tak berkutik pefitnah.
Cdl: Apalagi era post truth pembenaran mengalahkan kebenaran, hoax merajalela
KP Suhardi: Monggo kalau senggang mohon diwaos,betapa saya berniat ngentaskan kemiskinan pelukis malah dibales air tuba.
Cdl: Luar biasa pak.
Kebenaran akan tetap mjd kebenaran dan mjd sejarah seni bangsa indonesia pak
KP Suhardi: Sebuah buasnya politisi masih berbudi dan hormat dgn senior..di seni tidak ada itu..tetapi di Belanda,Eropa mereka hormat dgn senior dan prestasi
Saya pameran berdua dgn pak Sudjojono di UI nov 1978
Cdl: Sejarah pak . Ini semangat generasi muda yg perlu mjd inspirasi bagi generasi milenial
KP Suhardi: Iseng iseng klik google ada semua.
Cdl: Nggih pak
Ada keabadian ditorehkan
KP Suhardi: Pendidikan tinggi seni tidak menjamin adanya adab dan atitude.padahal untuk, punya market hrs memiliki personal branding.
Cdl: Itu pak. Ajaran dalam seni yang semestinya merakyat malah menjauhkan dari rakyat membuat kasta baru
KP Suhardi: para pengamat bahkan pakar dan Genk dagang..tampak lemah dalam membedakan lukisan palsu dengan coretan dan warna…..itu yang direkayasa jadi tokoh lelang.
Cdl: Politik dagang pak
Pak Hardi masih nampak lincah masih seger gesit. Tetap semangat dan sehat sell pak
KP Suhardi: Alhamdulilah bentar lagi 70
Cdl: Sehat panjang umur Tuhan memberkati pak.
KP Suhardi: Pak chrys sudah dapat 2 naskah tentang pak Nashar..
Otentik 23 tahun yang lalu, tdk dibikin bikin.
Cdl: Siap pak matur nuwun
Sebagai referensi
KP Suhardi: Kliping kliping ini yanng nylametin saya dari tackling para seniman ….
Cdl: Bukti sejarah pak
Pak hardi sudah membuat vlog seni rupa menjadi saksi dan bukti sejarah
KP Suhardi: Hahaha..sudah S2 dari UI…kan Yulianto bilang,ada diskusi sejarah GRSB kok Hardi tidak diajak?
Cdl: Denga cerita otentik seperti di youtube ini akan mwnjadi bukti tidak bisa ditrackling
KP Suhardi: Saya berikan 5 bundel tebal kepada Asikin,katanya untuk keperluan penulisan…ehh ternyata omong kosong.
Monggo pak kalau memerlukan dokumen itu matursuwun, itu copy dari asli…oleh mas Fadli Zon di copy bagus untuk perpustakaannya.jadi saya masih punya asli. Saya juga menjadi narsum soal lukisan palsu
Cdl: Iya pak ini saya nonton juga
Sejarah tetap sejarah sebagai pembelajaran
Kalau dibelak belokkan membingungkan.
KP Suhardi: Saya sangat beruntung.. mohon dilihat kliping Hipta dll, kan foto foto dikoran muat lukisan teman teman yang saya ajak, bukan saya saja.
Cdl: Ya pak saya coba tanya kliping kliping tersbut pak
KP Suhardi: Ini ada saya sbg narsum.thn 85 an.oleh TVRI..ada Umar Khayam, But Mochtar, Sapto Hudoyo
Cdl: Tks pak
Luar biasa
KP Suhardi: Bikin iri yang merasa lebih pinter,wong saya juga tidak menonjolkan diri
Cdl: maturnuwun pak sharing pengetahuannya ini bisa menjadi bahan referensi buat saya
Pengalaman pak Hardi dan berbagai koleksi dokumen serta kliping media menjadi pelengkap bagi literasi seni budaya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan menghargai para pahlawannya. Para seniman budayawan merupakan pahlawan pahlwan kemanusiaan. Ingat pesan Bung Karno: “JAS MERAH” jangan sekali kali melupakan sejarah. (Chrysnanda Dwilaksana)
