TRANSINDONESIA.co | Oleh: Prof. Chrysnanda Dwilaksana
Apa dan bagaimana sering diutamakan dari pada mencapai tujuannya. Misalnya dengan berbagai sistem elektroniknya atau gedung bangunannya atau dengan mata pelajarannya. Cara yang dipuja puja sebagai keutamaannya maka manusia sebagai aset utamanya terabaikan digangi dengan nilai, ranking yang sarat dengan permainan dan berbagai tipu daya.
Di dalam proses belajar mengajar, moralitas merupakan pilar dasar pendidikan. Tujuannya adalah mencerahkan menjadikan peserta didik cerdas dan bijaksana bukan sebatas pandai. Tatkala moralitas ini luntur maka pendidikan berisi permainan dan berkembang preman preman yang transaksional. Mereka yang bermain main dan melecehkan pendidikan akan terlihat tatkala berkuasa. Tamak, amarah, arogan yang menjadi tabiatnya. Kepandaiannya hanya untuk kesenangan bagi diri dan kroninya semata dan tentu menjajah rakyatnya.
Dibera digital dengan kehadian AI dalam berbagai bidang kehidupan mampu menggeser banyak profesi. Menurut saya pendidikanpun bisa digeser tatkala keutamaannya diabaikan atau cara yang diagung agungkan. Di sinilah hakekat pendidikan untuk mentransformasi, mencerahkan menjadikan siapa bukan sebatas apa dan bagaimana. Manusia adalah aset utama bangsa ini. Pada pendidikanlah tergabtung masa depan bangsa. Proses belajar bukan lagi sebatas di kelas atau cara cara konvensional yang membelenggu melainkan ada di mana saja, dengan cara apa saja, kapan saja dan dengan siapa saja bisa.
Bukan Mei bulan pendidikan sebagai ikon atau penghargaan kepada para pejuang peradaban. Hakekatnya pendidikkan merupakan suatu cara untuk :
1. Menyadarkan
2. Mencerahkan
3. Memanusiakan bagi semakin manusiawinya manusia
4. Regenarasi dan kaderisasi
5. Membangun dan menumbuhkembangkan peradaban
6. Mencerdaskan kehidupan bangsa
7. Mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial
8. Menjaga kedaulatan, daya tahan, daya tangkal bahkan daya saing suatu bangsa.
9. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat
Ke sembilan point di atas saling terkait satu sama lainnya dan bukan seperti urutan abjad kegunaanya, melainkan menjadi satu kesatuan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pendidikkan seringkali diagung agungkan, namun tak sedikit faktanya justru bertentangan dg apa yg diagungkan, kita bisa melihat :
1. Political will yang kurang menunjukkan keberpihakkannya untuk membangun SDM bangsa pembelajar,
2. Penyiapan dan penghargaan kepada para guru dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi, bahkan pada sekolah sekolah kedinasan
3. Sistem pembelajaran yang membuat sekolah ala sapi glonggong, terus diisi yang beban dan membosankan,
4. Kualitas infrastruktur dan sistem pendukung yang masih di bawah standae yang tidak sebagaimana semestinya,
5. Semangatnya sekedar lulus dengan nilai tinggi, punya gelar. Namun kemanfaatanya bagi hidup dan kehidupan sering dipertanyakan,
6. Anggaran yang disunat atau dijadikan proyek bancakan,
7. Lembaga pendidikan belum menjadi ikon centre of excellent
Masih banyak lagi lainya yang perlu diperbaiki dan dijadikan momentum perbaikan agar lembaga pendidikan masih layak dipertahankan dan ditumbuhkembangkan.
Di erarevolusi industri 4.0 dengan AI proses pembelajaran menghadapi masa kenormalan baru. Pertanyaan kualitas dan mutu pendidikan serta hasil didik pembelajaran yang bisa ada di mana saja dengan cara apa saja. Bagaimana dengan penugasan dan sistem kontrolnya? berkuarang. Mampukah sistem pendidikkan di era new normal sistem pendidikan berubah dan merubah sistem pendidikkan? Mau tidak mau memang harus berubah proses pembelajarannya antara lain :
1. Membangun literasi
2. Menemukan dan mengimplementasikan keutamaan pendidikan
3. Membangun proses pembelajaran melalui dialog untuk proses transformasinya
4. Para guru menjadi pembelajar yang terus menerus menginspirasi, memotivasi menstimuli yang menjadi ikon sebagai sang pencerah.
5. Para siswa diajak untuk berkarya dan menghargai karya mereka dan karya temannya yang dilakukan dlm dialog virtual atau melalui media sosial. Masing masing anak dapat membuat blog, vlog atau lainnya secara pribadi untuk menunjukkan atau memamerkan karya karya mereka.
6. Proses pembelajaran mengajarkan cara berfikir konstruktif, dekonstruktif, kritis, analitik dsb sehingga menstimuli imajinasinya tumbuh dan berkembang.
7. Para stake holder pendidikan mwnjadi mitra mendukung proses belajar mengajar dengan dibangunnya wadah atau foru untuknsaling berdialog menemukan akar masalah dan menemukan solusi solusi cerdas
8. Cara cara yang kontraproduktif dikembangkan dalam metode kekinian yang saling mendukung satu sama lainnya
9. Target produktifitas dan kualitas guru, peserta didik menjadi standar dari suatu transformasi di era new normal.
10. Sistem administrasi, sistem operasional dan sistem pendukung lainnya memerlukan model yang mengacu apa keutamaan visi dan misi pendidikan untuk menghasilkan siapa bukan sekdar apa dan bagaimana.
Masih banyak cara lain yang dapat dikembangkan. Kepekaan, kepedulian dan bela rasa akan kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban ditanamkan dalam pendidikkan sebagai sesuatu yang penting dan mendasar. Dengan harapan tidak ada lagi yang main main dengan pendidikkan atau mempermainkan pendidikan. Kita teringat akan pesan romo mangun :” pada pendidikkanlah tergantung masa depan bangsa”. Filsuf Gelner mengingatkan pula :” segala sesuatu ada karena dimengerti”. Rene de crates mengatakan :” cogito ergo sum” ketika saya berpikir maka saya ada. Einstein mengingatkan :” the sign of intellegent is not knoledge but imagination”. Kalau boleh saya simpulkan bahwa pendidikan: merupakan upaya untuk mencerdaskan bangsa, menjadi ikon peradaban, ikon kemanusiaan, ikon kedaulatan ketahanan kemampuan daya tangkal sekaligus daya saing suatu bangsa. Apa bagaimana pendidikan bisa bervariasi dan memang prinsipnya mampu melahirkan siapa, manusia manusia unggul berbudi luhur sebagai patriot bangsa.
“Selamat hari pendidikkan”
Pendidikkan, perjuangan sepanjang hayat untuk menyelamatkan anak bangsa.**
Lembah Someah 010523
