Tempered Radical dan 10 Point Emergency Policing

TRANSINDONESIA.co |Tempered radical dapat dipahami sebagai kelompok atau golongan yang diluar dari main stream, yang berpikir berbeda “out of the box” yang mungkin dianggap aneh cara pandangnya diluar cara mememandang pada umumnya “vokal tetapi loyal”. Yang menganut nilai-nilai yang berbeda dengan yang lain dan yakin untuk berjuang untuk menegakannya.

Orang-orang yang tergolong tempered radical memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap institusinya, walau kadang dianggap sebagai duri dalam daging.

Mereka mengkritisi, membuat otokritk yang pahit dan keras namun, itu sebagai obat. Ibarat memasukan virus bukan untuk mematikan melainkan untuk kekebalan dan kekuatan serta ketahanan. Merekalah sebenarnya sebagai early warning system untuk perbaikan institusi.

Dalam birokrasi yang patrimonial dan sarat dengan nuansa feodalisme orang-oraang tempered radical biasanya akan disingkirkan, dianggap benalu, bahkan bisa dimatikan hidup dan penghidupanya. Karena dianggap sebagai pengganggu kenyamnan dan kenikmatan yang sleama ini dinikmatinya.

Dalam mengembangkan dan membangun inisiatif anti korupsi dan membangun capacity building, orang-orang tempered radical haruslah ditemukan terlebih dahulu sebagai penjuru, pilar-pilarnya, agen-agen perubahan, baru bangun sistemnya.

Mengapa demikian? Orang yang tergolong tempered radical ini sebagai pejuang yang berani menjadi fighter melawan arus bahkan, sang naga preman birokrasi.

Disitulah letak loyalitasnya, dalam menegakkan keyakinan dan kebenaran yang diyakininya walaupun susah payah dan mengalami banyak kesulitan di jalan terjal berliku tetap gigih untuk terus maju, pantang menyerah.

Militansinya tidak diragukan lagi bagi kemajuan dan kekuatan organisasi untuk tumbuh menjadi sehat, rasional dan anti KKN.

Tidak serta merta dengan mudah menemukan orang-orang tempered radical, namun memberi peluang dan apresiasi kepada orang-orang yang baik dan benar untuk dapat hidup tumbuh dan berkembang, sehingga kualitas mereka akan terus meningkat.

Proses memberi tempat bagi orang baik dan benr sangatlah efektif untuk menemukan para tempered radical. Tatkala mereka memimpin maka loyaitas,ketulusan hatinya, kepekaan dan kecerdasan berpikirnya bermanfaat bagi kemajuaan institusi.

10 Point Emergency Policing

1. Model Pemolisian Transplantasi sebagai penjaga, pengamat, jembatan penghubung, pelatih, back up system dsb, hingga yang diback up dapat berfungsi kembali

2. Pola-pola pemolisian secara managerial setidaknya mencakup: 4 unsur:
a. Kepemimpinan,
b. Administrasi (SDM, perencanaan dan program-program, sarana, prasarana dan anggaran),
c. Operasional,
d. Capacity building.

3. Implementasinya dapat mengacu pada  community policing/polmas.

4. Di back up dengan sistem-sistem online yang berbasis elektronik.

5. Personilnya  bersifat ad hoc meruoakan gabungan dari berbagai fungsi maupun antar wilayah.

6. Perkantoran dengan membangun tenda-tenda lapangan, kontainer atau memanfaatkan tempat-tempat/ lokasi yang biasa diberdayagunakan.

7. Membangun posko-posko sebagai pusat K3i yang berisi peta-peta dan jaringan-jaringan  elektronik  maupun  kontak- kontak person.
Dapat dibuat pengkategorian : Merah : Rawan dua, Kuning : Rawan satu, hijau : kondisi normal. Model pergeseran  pasukan untuk back up kontijensi dengan peta rute dari dan ke lokasi sasaran dengan berbagai alternatifnya.
Pemberdayaan teknologi indormasi dan komunikasi.

8. Kesiapan Logistik, transportasi darat, laut maupun udara, ambulans, untuk evakuasi dan bantuan kemanusiaan.

9. Rumah sakit lapangan dan perlengkapan, obat obatan dan tenaga medisnya.

10. Operasionalnya dapat menerapkan model Asta Siap. Siap : Posko, Piranti Lunak, model penanganan lapangan, siap mitra, jejaring, personil, logistik, anggaran. Chrysnanda Dwilaksana

Share
Leave a comment