Jak Habitat-KSBA: Akuarium Keadilan

"kisah juang warga Akuarium, mempertahankan hak hidup, merawat semangat, dan mendokterkan martabat".

TRANSINDONESIA.co | Esai ini belajar kisah perlawanan, melawan klaim biautifikasi kota  yang menggusur warga. Belajar. Mencari ilmu. Itu tak melulu ke laboratorium. Tak harus ke kampus. Bisa di tanah lapang, langsung bertungkus lumus,  berkubang: empiris dan humanis di lekuk kampung. Dengan mencerna ilmu kudu kepada warga kampung.

Sungguh, banyak pelajaran di “sekolah kampung” bernama Kampung Susun Bahari Akuarium (‘KSBA’), Jakarta Utara. Kosakata kampung tak hendak dibuang.

Ups, jangan remehkan sekolah KSBA, ada  jejak laboratorium laut di sana. Teruskan membaca, bung. Pelan-pelan saja, seperti elusan angin laut Teluk Jakarta, dalam pengaruh atmosfer langit kampung yang bertuah-feat-karomah. Setelah membaca ini, anda bertuah.

Ibukota Negara Jakarta –pun kota-kota besar lainnya– memang sarat beban.  Diserbu urbanisasi, kota terseok tanpa UU Perkotaan. Biautifikasi wajah kota dengan menyingkirkan warga tak punya akta, seakan kelakuan beretika.

Jakarta butuh banyak warga pemberi dharma, yang banyak turun tangan. Bukan angkat tangan dan pangku tangan. Perlu lebih banyak dharma yang melebihi beban kota. Membuat sebanyak-banyak Good Citizens. Dengan satu “Goodbener”, yang melayani dan peoples darling.

Bangun kotanya,  bahagiakan warganya;  itu bukan sembarang frasa. Membuat sebanyak-banyak kebahagiaan, bagi sebanyak-banyak orang, itu narasi yang analog dengan tujuan hukum dari Pak Jeremy Bentham, dia tokoh hukum kemanfaatan, atau utilitarian asal Inggris yang menulis buku ternama ‘Greatest Happiness Principle’.

**

Selasa, 27/09, dari siang ke petang amba-feat- my “&” Ina Aie Tanamas,  bersua tokoh. Dia bagaikan pustaka berjiwa, ialah: pak Taopas –sang Ketua RT,  dan uni Dharma Diani, perempuan paro baya yang Ketua Koperasi Konsumen Aquarium Bangkit Mandiri dan aktivis penggerak PKK.

“Saya lahir di Kampung Akuarium”, ujar Diani tampak bangga dengan. Pemilik nama pertama Dharma itu, pernah menjadi Ketua RT ketika masih usia SMA.

Keduanya, Taopas dan Diani, tokoh warga aseli Kampung Akuarium yang energik dan loyal, karena tuntutan zaman. Bagai pelaut handal yang dilepas tarung di lautan garang. Mereka mewakili sikap umum warga pejuang.  Yang surplus tabah. Yang menjaga martabat manusia merdeka. Yang survivor. Survival of the fittest di tanah bertuah Kampung Akuarium.

Saya meraih banyak pelajaran dari “sekolah bertuah” Akuarium. Pelajaran pertama, jangan remehkan orang  biasa, justru dia luar biasa. Jangan anggap enteng uni Diani, sang perempuan pejuang kaya dharma. Periksalah jejak digital, dia bak sosok Hajar zaman sekarang, aseli kelahiran tanah Akuarium. Dia bukan sosok buatan. Bukan pengamat perkotaan pembuat opini pesanan.

Mereka, pars prototo, punya jiwa bangsa (volk geist). Demi mempertahankan tanah,  yang halal dan thoyyib dipertahankan. Memperjuangkan ruang spasial dan guyup sosial,  yang diperebutkan pemilik kapital. Karena Kampung Akuarium itu bukan sembarang tanah pun ruang spasial biasa, namun sangat sesuatu yang bermuatan spesial –semenjak dulu kala.

Boleh dicatat, Kampung Akuarium tepatnya RT.1 dan 12, RW 04, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Kampung spesial dan keren ini bermula dari dibangunnya laboratorium Belanda di Utara Pasar Ikan, yakni Visscherij Station/VS (1905) untuk penelitian lautan (Oseanografi).

Sepuluh tahun kemudian,  VS berubah menjadi Vissherij Station te Batavia (1915), lalu mengubah diri menjadi Laboratorium voor Onderzoek der Zee  (disingkat “LOZ”), yang artinya Lembaga Penelitian Laut. LOZ ini menjadi Lembaga Oseanografi Nasional (“LON”) LIPI. Merujuk sejarawan JJ Rizal, ada banyak eks akuarium raksasa LOZ. Tahun 1977, LON LIPI pindah ke Kompleks Bina Samudera di Ancol Timur.

Eureka, itulah kiprah tanah bertuah Kampung Akuarium. Yang bentuknya  unik dan koordinat posisinya eksotik. Yang bak berlian  hinggap di mahkota Batavia nan elok molek menghadap Teluk Jakarta. Pun demikian gemahripah lautan yang menyambut adihadapannya. Mirip tanah bertuah tanduk emas (Golden Horn) di persuaan selat Bosporus dan Laut Marmara, Turki, dulu Ustmani.

Di luar angin laut berhembus. Semilirnya menerobos kolong Blok D KSBA yang tersusun 5 lantai, jangkung berbentuk heksagon. Hawa sejuk ramah itu perlahan mengusap wajah kami yang betah bertukar ujar, dan bergantian sabar mendengar. Kimiawi pembicaraan kami; cocok, bahkan cocok kali!

Tampak bocah belia bermain di lantai dasar –yang disepakati  warga– wajib lepas alas kaki, untuk menambah panjang usia keramiknya. Beberapa lelaki duduk dan bercakap-cakap di depan kantor Koperasi. Di ruang setelahnya ruang kerja pendamping dari Rujak Center for Urban Studies. Saya rakus menengok situasi petang di kolong Blok D, dan dalam diam mencatatkan narasi Akuarium di kolong hati. Pelajaran ke satu setengah:  biasakanlah banyak diam, tabah mendengar, melepaskan tanduk.

Suasana wicara hangat. Plot cerita Diani  runtut. Pasih mengulang lagi kenangan dan kisah juang warga Akuarium, mempertahankan hak hidup, merawat semangat, dan mendokterkan martabat. Ya…, tak hanya sekadar rela sengsara mempertahankan tanah bertuah. Yang akhirnya membawa nikmat.

Sebelum menjulang nikmatnya karya KSBA yang diresmikan 17 Agustus 2021, seperti untaian fakta pada paragraf di muka, sungguh inilah lokasi tanah istimewa. Yang warganya pernah digusur paksa,  keluarga terberai, malam gelap karena listrik dipadamkan, lampu jalan sak tunggal menjadi andalan, pun kemudian dimatikan, air pun mengalir tidak, walau hanya kumpulan tetes air sisa yang sedikit. Debu mengepul ke udara tatkala siang panas menusuk kulit. Donasi dihambat masuk lokasi, walau selalu ada jalan menuju Akuarium.

Banyak juga yang tak tahan, kurang sabar, menyerah, putar haluan hidup ke lokasi lain. Hanya warga yang tabah skala juara terus bertahan. Yang biasa tidur di bedeng triplek sementara. Yang banyak burai air mata, sebagai pengalaman nyata dan mahal, menjadi katalog ilmu hidup, yang dari hari ke hari sejak pemimpin baru Jakarta (2017), cahaya kehidupan warga Kampung Akuarium bercat putih bertambah cerah, dan semakin berkah. Pucuk atap KSBA menjulang. Saya bisa melihatnya dari ruas jalan tol Ancol ke arah Kelapa Gading.

**

Penulis saat bertandang ke Kampung Akuarium bertemu Taopas (tengah) Ketua Rukun Tetangga Kampung Akuarium, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa 27 September 2022. [Transindonesia.co /Dokumentasi MJ]

Kini, KSBA yang bervisi Kampung Wisata Bahari itu menjadi karya yang menarasikan jurus Jak Habitat, yang acap diwartakan dan dibincangkan forum Horizontal Learning (HL)  Perkim dihelat BAPPENAS (2022), pun fora housing and urban transforming cq. Forum Urban 20 (U20),  barusan.

Delegasi Konferensi Tingkat Tinggi Wali Kota Forum U20 asal Berlin, Jerman, Ana-Maria Trasnea, memuji kegigihan warga Kampung Susun Akuarium memperjuangkan haknya atas tempat tinggal.

KSBA itu bak laboratorium sosial ikhwal “elmu” tak sekadar ilmu perumahan dan perkotaan dalam perubahan (housing & urban transformation). Perempuan tangguh Diani dan lelaki tabah pak RT Taopas adalah “guru besar” buatan zaman dari gemblengan “abc-xyz” pengalaman terjal advokasi  hak atas kampung, dari dharma juang yang cadas di ruang sosial. Istilah pun kosakata kampung susun itu dibenihkan dan mencuat dari “postulat”  warga tanah bertuah itu.

Bagi saya, Jak Habitat  yang menaungi jurus KSBA itu tak sekadar dedikasi pada inovasi menjawab beban kota. Namun Jejak Bijak Gubernur Anies Baswedan (saya menyebutnya Anies Prudence) kepada keadilan sosial atas hak perumahan dan ruang spasial juncto sosial, sebagian ikhtiar perlawanan yang membebaskan kemiskinan perumahan rakyat Jakarta.

Tak berhenti pada pidato,  namun ada gagasan, narasi dan Karya juang warga Akuarium, yang mengajarkan perjuangan, pun melahirkan generasi pejuang nan hebat. Kokoh sebagai laboratorium sosial ikhwal dinamika perkotaan. Pas menjadi “sekolah hidup” dan tujuan belajar, belajar, belajar. Seakan menghidupkan lagi elan riset LOZ kepada LON LIPI sampai ke KSBA. Di sini saya belajar banyak, dan  merasa masih kurang ilmu.

Petang menghilang. Magrib datang. Suara ebang menjulang. Angin laut tetap tenang, hawanya khas bahari sekali.  Saya dan my ‘&’ perlahan minta pamit,  segera beranjak ke musalla ‘Al Mak’mur’, mengisi shaf sholat fardhu magrib  berjamaah. Suara anak-anak jemaah ‘Al Ma’mur’ menguncah hati saya hampir pecah, dan membasah.

Langit magrib teduh, awan merah masih ada dan berjaya di angkasa Ibukota Negara Jakarta. Sejenak hendak bangkitkan tungkai kaki, beta sempatkan rangkaikan doa dan membacakan al Fatiha, kiranya pahala kebaikannya dihantarkan kepada dan untuk amaliah juncto jasa mulia para ulama, pun tokoh pembuka tanah bertuah bersejarah, yang kini KSBA. Saya cemburu kepada tanah bertuah itu. Banyaklah membaca Al Fatihah, anda bertuah!

Tiba di lapangan parkir. Bersisian kali yang menghubungkan KSBA ke mulut teluk, saya ambil foto senja bercorak jingga. Dari jendela mobil kami menengok KSBA yang gagah, menjulang bak  sepotong kawasan water front city, yang perlahan mengeluarkan cahaya dari unit kamar vertikal warga.

Kami pulang dengan hati yang kenyang, yang barusan tadi memamah banyak gizi bagi hati, dengan jiwa yang bergelora bak samudera.

Dari lekuk hati amba bergumam, inilah “laboratorium” KSBA yang tak hanya mengajarkan  “abc-xyz” perjuangan mempertahankan ruang, namun karya itu benteng pengawalan berdaulatnya sang keadilan. Sebagai karya, karya, karya –yang dibangun sebagai monumen mengingatkan keadilan atas kota. Kosakata keadilan jangan dibuang di kota-kota Indonesia. Belajar dari Akuarium Keadilan, sebagai karya Jak Habitat-KSBA. Dari Jakarta untuk Indonesia. Tabik.

Advokat Muhammad Joni, SH.MH, Ketua Umum Konsorsiim Nasional Perumahan Rakyat (Kornas Pera)

Share
Leave a comment