101 Karikatur: Kudu Dimusuhi Bajingan

Penghianatan akan nilai nilai inti atau core value tanpa disadari, bahkan dipuji puji.

TRANSINDONESIA.co | Tema untuk gambar karikatur “Kudu Dimusuhi Bajingan” seakan sarkas dan kasar, namun sejatinya merupakan suatu sengatan keras, agar ada rasa haru dan mau berbenah untuk berubah. Bagi profesi apa saja yang baik dan benar, dan profesional maka hukumnya wajib memerangi kejahatan, yang tentu saja berdampak dimusuhi bajingan.

Bajingan jelas licik, penuh dengan cara curang, menghalalkan segala cara, berani meminta dan mengatur jabatan dan kekuasaan untuk disalahgunakan. Tak heran kalau birokrasi bagai pasar, wani piro oleh piro, demi mencari keuntungan pribadi maupun kelompok.

Penghianatan akan nilai nilai inti atau core value tanpa disadari, bahkan dipuji puji. Hilangnya budaya malu berbuat cela ini yang membuat birokrasi semakin lemah dan penuh ketakutan. Berani karena benar, takut karena salah.

Tatkala ada penyimpangan tidak berani menegakan aturan atau hukum, maka pertanyaanya adalah : mengapa takut? Apakah juga bersalah atau penuh kesalahan. Sapu kotor tak akan mampu dipakai membersihkan.

Konsep di atas akan dijadikan model karikatur, gambar kartun yang satir dan surealis imajinatif dapat digunakan sebagai refleksi atau cermin diri untuk berbenah atau setidaknya kembali ke jalan kewarasan. Tema yang dapat digambarkan dalam karikatur yang satir, surealis dan imajinatif waras antara lain:

1. “Pasar Birokrasi” yang sarat preman dan pedagang yang bertransaksi: wani piro.
2. “Gaya hidup borju” membuat yang ideal dengan yang aktual berbeda bahkan bertentangan.
3. “Pemerasan”
4. “Penyuapan”
5. “Lips service”
6. “Mencla mlence, osuk dele, sore tempe, malem tahu”, dsb
7. “Singa dipimpin kambing mengembik, sebaliknya kambing dipimpin singa akan memgaum”.
8. “Pawang dituntun yang dipawanginya”
9. “Tantangan vs tentengan”
10. “Putri duyung yang mendamba ekornya menjadi kaki manusia”
11. “Gembala berpesta menyate domba dinikmati bersama serigala”
12. “Prewangan”
13. ” Siapa Sponsormu?”
14. “Tak lagi beda anjing sama kambing”
15. “Logika Koprol”.
16. “Legowo, wis ngeleg isih nggowo”.
17. “Seremonialan”
18. “Mahal, jelek, lama, tidak berfungsi”
19. “Membuat jebakan tikus malah menjadi sarang tikus”
20. “Layu sebelum berkembang”
21. “Gergaji : come to you come to me”
22. “Berani karena benar, takut karena salah”
23. “Tugas pokok menjadi pokoknya tugas”
24. “Topeng topeng bopeng”
25. “Ngenthit”
26. “Mafia birokrasi”
27. “Celometan bedhil sisan”
28. “Plesetan”
29. “Pokok e yang Pekok e ”
30. “Bener yen ora umum iku salah, salah yen wis umum iku dadi bener”
31. “Pembenaran vs Kebenaran”
32. “Sopo salah seleh”
33. “Ayo ngguyu ”
34. “Geger genjik udan kirik”
35. “Koplak jaya”
36. “Karnaval Birokrasi”
37. “Pesugihan”
38. “Ela elo sawo di pangan uler”
39. “Crime in organization ”
40. “Di sini senang di sana di sayang”
41. “Ada uang di sayang, tak ada uang siap ditendang”
42. “Main mata dengan Dewi Keadilan”
43. “Tebang pilih apa tebang habis”
44. “Mencela,mengeluh, menuntut, menyalahkan dan menghakimi”
45. “Kebo kabotan sungu”
46. “Pemburu di kebon binatang dan pemancing di kolam birokrasi”
47. “Asu gede menang kerahe”
48. “Bener durung temtu pener”
49. “Birokrasi kroni”
50. “Bijaksana vs bijaksini”
51.”Ndas kloset”
52. “Anjing menggonggong dikencingi kafilah”
53. “Mbuh”
54. “Bisa apa saja kecuali tugas pokoknya”
55. “Buluh bekti glondong pangareng areng”
56. “Matilah dengan idealisme”
57. “Songong melampaui sombong”
58. “Asuki”
59. “Di bawah tak berakar, di tengah dimakan rayap, di atas tak berpucuk”
60. “Captive mind”
61. “Silent suicide”
62. “Birokrasi panjat pinang”
63. “Balung Kere”
64. “Pimpinan saya ambil alih”
65. “Jimat birokrasi”
66. ” Ndoro cant do no wrong”
67. “Micek mbudeg”
68. “Kampret merindukan Batman”
69. “Penyamun di sarang perawan”
70. “Krendes : kere ndeso”
71. “Sluman slumun slamet, slamet sluman slumun”
72. “Kacang goreng : kakean cangkem golek rangking, Kacang garing: kakean cangkem gak entuk rangking”
73. “Wong pinter = dukun ”
74. “Asjep: asal njeplak”
75. “Dominan dan mendominasi”
76. “Ngapusi terpimpin”
77. “Cangkriman”
78. “Kirotoboso”
79. “Jula Juli
80. ” Kaum mapan dan nyaman”
81. “Lamis ala kue lapis”
82. “Dum duman ”
83. “Hemat boleh pelit jangan”
84. “Sedikit tak mengapa, yang penting rutin”
85. “Ngono wae nesu”
86. “Ngelmu apa ilmu”
87.  ” lTersesat dalam labirin birokrasi”
88. ” LHanya satu yang tidak mungkin :makan kepalanya sendiri”
89. “Ngedan ben keduman”
90. “MBangga akan salah dan dosa”
91. “Mengatasnamakan”
92. ” Nekat mengalahkan bakat”
93. “Ahli vs lihai”
94. “Bukan modal ludah”
95. “Tambal sulam”
96. “Berlayar tanpa navigasi”
97. “Juragan Bogor, biar bonyok asal kesohor”
98. “Para penjilat”
99. “LPejabat apa penjahat”
100. “Ganti untung”
101. “Makelar “

Tema karikatur di atas tentu saja bisa berkembang dan divariasi dalam rupa dan kata yang sarat makna. Walau membuat hati panas, kuping memerah dan rasa pahit, ini bukan kebencian, bukan kesalahan dan bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk belajar dari kesalahan. Tentu saja bukan untuk menang menangan, merasa paling benar apalagi menghakimi.

Semua ini niatan baik untuk berkaca dan merefleksikan diri untuk selalu waras, eling lan waspodo. Walaupun jaman edan, maka sopo sing edan dan ngedan akan terkena kutukan karmanya, yang berjaya dan selamat, terhormat dan hidup menjadi berkat tetap bagi yang berani dimusuhi bajingan, karena selalu eling lan waspodo. Menjadi gembala domba yang tidak bersekongkol dengan serigala. Chrysnanda Dwilaksana

Pontianak 230922

Share
Leave a comment