Indonesia Berdakwah

Ulama Berpengaruh Irak Al Sadr Serukan Pengikutnya untuk Lanjutkan Aksi Duduk

Para pendukung dari Ulama Syiah Irak yang berpengaruh, Muqtada al-Sadr, melakukan salat di dalam gedung parlemen di Baghdad, Irak, di tengah aksi protes menduduki gedung parlemen pada 1 Agustus 2022. (Foto: AP/Anmar Khalil)

TRANSINDONESIA.co | Ulama Syiah berpengaruh di Irak, Muqtada Al Sadr, pada Rabu (3/8), menyerukan kepada para pengikutnya untuk melanjutkan aksi duduk mereka di zona kompleks pemerintahan Irak. Ia juga mendesak pembubaran parlemen dan mendorong diadakannya pemilu lebih awal, menandakan perebutan kekuasaan yang semakin dalam dengan para pesaingnya.

Associated Press melaporkan untuk pertama kalinya sejak ribuan pengikutnya menyerbu Gedung parlemen di Baghdad pada Sabtu (30/7) lalu, Al Sadr mengatakan “para revolusioner” harus tetap tinggal dan melanjutkan aksi duduk mereka.

Ia menolak opsi dialog dengan lawan politiknya dalam “Kerangka Koordinasi” – sebuah aliansi partai-partai yang umumnya didukung Iran.

Dalam pidato yang disiarkan di televisi dari kota suci Najaf di bagian selatan negara itu, Al Sadr mengatakan tidak ada gunanya melanjutkan dialog, terutama setelah orang-orang menyampaikan maksud mereka.

Pada Selasa (2/8), ia mengarahkan para pengikutnya untuk mengosongkan gedung parlemen, tetapi tetap berada di sekitarnya.

Sebelumnya pada Minggu (31/7), doa massal dikumandangkan di Zona Hijau, sebuah distrik di mana terdapat parlemen dan gedung-gedung pemerintahan, yang dijaga ketat oleh aparat keamanan.

Setelah aksi duduk yang menimbulkan kemacetan di ibu kota Irak, Baghdad, Al Sadr mengirim isyarat kepada para saingan politiknya bahwa perundingan yang dilakukan tidak membuahkan hasil.

Beberapa pejabat politik Syiah mengatakan kepada Associated Press bahwa mereka telah membuat proposal untuk meminta Al Sadr menarik pengikutnya dari parlemen. Sebagai gantinya badan legislatif akan tetap tertutup, sehingga menghambat saingan-saingannya untuk membentuk pemerintahan tanpa keberadaannya.

“Dialog dengan mereka tidak akan membawa hasil apapun selain kehancuran, korupsi dan ketergantungan pada negara, terlepas dari janji dan tanda tangan mereka,” ujar Al Sadr merujuk pada lawan-lawan politiknya.

Al Sadr menggarisbawahi keberadaan “wajah lama” – mengacu pada partai-partai mapan – yang menurutnya tidak akan ada lagi setelah pemilu awal dan pembubaran parlemen.[voa]

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.