Pengecam Nomor Satu Trump Kalah di Pemilu Pendahuluan

TRANSINDONESIA.co |
“Saya tidak melakukan hal ini sendiri. Tentu saja kita semua merasa sangat berterima kasih kepada Presiden Trump yang mengakui bahwa Wyoming hanya memiliki satu perwakilan di Kongres dan kita harus memperhitungkan hal itu. Dukungan nyata dan tak tergoyahkan Trump sejak awal telah mendorong kita meraih kemenangan malam ini.”

Demikian petikan pidato Harriet Hageman, pengacara industri peternakan yang menempati posisi ketiga dalam pencalonan gubernur sebelumnya, setelah memenangkan pemilu pendahuluan di negara bagian Wyoming Selasa malam (16/8).

Empat ratus mil dari lokasi itu Liz Cheney menyampaikan pidato kekalahannya. “Ini perjuangan kita bersama. Saya seorang anggota Partai Republik yang konservatif. Saya sangat percaya dengan prinsip dan cita-cita partai ini ketika didirikan. Saya suka sejarahnya dan saya suka dengan apa yang diperjuangkan partai kami. Tetapi saya jauh lebih mencintai negara ini.”

Sejak awal Liz Cheney, yang sudah tiga kali menjabat di Kongres, dan sekutunya telah menyadari prospek mereka dalam pemilu pendahuluan Partai Republik di Wyoming tidak begitu cerah, terlebih setelah Trump memberikan dukungan pada Harriet Hageman. Trump menang telak di Wyoming dalam pemilu presiden tahun 2020 dengan meraih lebih dari 70% suara. Lebih dari sepuluh ribu orang datang ketika Trump berkampanye untuk Harriet Hageman di kota Casper, bulan Mei lalu.

Meskipun demikian, putri mantan wakil presiden Amerika itu sudah melihat jauh ke depan untuk karir politiknya di luar Capitol Hill setelah kekalahannya Selasa malam. Hal ini mencakup kemungkinan bertarung dalam pemilu presiden tahun 2024, yang kembali akan membuatnya berhadap-hadapan dengan Trump.

Pengaruh Trump di Kalangan Pemilih Republik Kuat

Kemenangan Harriet Hagemen dengan selisih 30 poin dari Liz Cheney menunjukkan pergeseran cepat Partai Republik ke kanan. Partai Republik semula dikenal sebagai partai yang didominasi kekuatan konservatif yang berorientasi pada keamanan nasional dan ramah bisnis. Namun kini partai yang juga dikenal sebagai “Grand Old Party” itu sekaan menjadi milik Trump, lebih tertarik pada daya tarik populisnya – dan di atas segalanya sangat percaya dengan sikapnya yang tidak mengakui kekalahannya dalam pemilu presiden tahun 2020.

Kebohongan semacam itu telah ditolak mentah-mentah oleh hampir semua pejabat pemilihan federal dan negara bagian, serta jaksa agung pilihan Trump sendiri dan hakim yang ditunjuknya. Hal ini mengubah Cheney dari seorang kritikus yang sesekali mengecam Trump, menjadi suara paling keras di dalam Partai Republik yang berulangkali mengingatkan bahwa Trump merupakan ancaman terhadap demokrasi.

Liz Cheney juga merupakan pejabat tertinggi Partai Republik di panel DPR yang menyelidiki kerusuhan 6 Januari 2021 di gedung Kongres oleh para pendukung Trump.

Lisa Murkowski Siap Bertarung di Alaska

Namun Liz Cheney bukan satu-satunya anggota Partai Republik mengkritisi Trump dan kini menghadapi perlawanan dari tokoh yang didukung Trump. Di negara bagian Alaska, Senator Lisa Murkowski akan berhadap-hadapan dengan Kelly Tshibaka yang didukung Trump dalam pemilu sela 8 November.

Sementara Sarah Palin, mantan gubernur dan calon presiden Partai Republik tahun 2008 yang juga didukung Trump, akan berhadapan dengan Nick Begich III dari partainya sendiri, dan Mary Peltola dari Partai Demokrat. Pemenangnya akan diumumnkan pada 31 Agustus ini. Pemenang pertarungan ini akan menggantikan Don Young, yang meninggal Maret lalu, hingga masa jabatannya selesai.[voa]

Share
Leave a comment