Indonesia Berdakwah

PBB: Krisis Pangan Akibat Perang Ukraina Dorong Tingkat Pengungsian

Seorang anak kecil melihat ke arah luar jendela bus saat proses evakuasi warga dari kawasan Irpin, Ukraina, berlangsung pada 9 Maret 2022. (Foto: AP/Vadim Ghirda)

TRANSINDONESIA.co | Badan pengungsi PBB (UNHCR) memprediksi krisis ketahanan pangan yang dipicu oleh perang Ukraina akan mendorong lebih banyak orang di negara-negara miskin untuk meninggalkan rumah mereka, sehingga meningkatkan tingkat pengungsian secara global.

Sebuah laporan badan PBB, Kamis (16/6), menunjukkan bahwa sekitar 89,3 juta orang di dunia terpaksa mengungsi sebagai akibat dari penganiayaan, konflik, pelecehan dan kekerasan pada akhir 2021. Sejak itu, jutaan orang lainnya telah meninggalkan Ukraina atau terpaksa mengungsi di wilayah-wilayah perbatasannya. Terhambatnya ekspor biji-bijian dari Ukraina yang merupakan salah satu produsen andalan dunia, akan mengerek harga-harga pangan sehingga diyakini akan mendorong pengungsian di tempat lain.

“Jika Anda memiliki krisis pangan dengan kondisi yang saya jelaskan – perang, hak asasi manusia, iklim – itu hanya akan mempercepat tren yang saya jelaskan dalam laporan ini,” kata Filippo Grandi. Ia menggambarkan angka-angka itu sebagai sesuatu yang “mengejutkan.”

“Jelas dampaknya jika tidak segera diselesaikan akan cukup dahsyat.” Saat ini sudah terdapat lebih banyak orang yang melarikan diri dari negaranya sebagai akibat dari kenaikan harga dan pemberontakan kekerasan di wilayah Sahel Afrika, katanya.

Secara keseluruhan, jumlah pengungsi meningkat setiap tahun selama satu dekade terakhir, menurut laporan UNHCR. Seaat ini, jumlah pengungsi lebih dari dua kali lipat dari 42,7 juta orang yang kehilangan tempat tinggalnya pada 2012.

Grandi juga mengkritik apa yang disebutnya “monopoli” sumber daya yang diberikan ke Ukraina, sedangkan program lain untuk membantu para pengungsi kekurangan dana.

“Ukraina seharusnya tidak membuat kita melupakan krisis lain,” katanya, menyebutkan konflik dua tahun di Ethiopia dan kekeringan di Tanduk Afrika.

Ia mengkritisi tanggapan Uni Eropa terhadap krisis pengungsi yang “tidak setara.” Dia membandingkan perselisihan antara negara-negara atas penerimaan kelompok-kelompok kecil migran yang menyeberangi Laut Tengah dengan perahu dengan kemurahan hati negara-negara Uni Eropa saat menerima para pengungsi Ukraina sejak invasi Rusia pada Februari lalu.

“Tentu saja itu membuktikan poin penting: menanggapi masuknya pengungsi, kedatangan orang-orang yang putus asa di pantai atau perbatasan negara-negara kaya tidak dapat dikendalikan,” katanya. Laporan itu mengatakan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menampung 83 persen pengungsi dunia pada akhir 2021.[voa]

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.