Indonesia Berdakwah

Virus C19 Vs Kebijakan: Siapa Lebih Pintar?

Muhammad Joni dan Dr.Chazali H.Situmorang penulis buku "Dinamika Kebijakan Pemerintah". [Transindonesia.co /MJ]

TRANSINDONESIA.co | Sabtu separo siang 12-2-2022,  kami tak perai. Sabtu yang  berhasil membuat gol. Diskusi mengolah “bola” yang mengutamakan pikiran strategis dan langkah taktis dengan tokoh “pemain” berkelas juara: Dr.Chazali H.Situmorang,  Apt., M.Sc., yang berinitial CHS bukan GHS.

Ini diskusi budiman yang tak nakal dan bebas asap rokok, pun kibar bendera offside. Tak ada seinci dinamika untuk memproduksi hoax.
Kami tak bersera soal yang buruk dan enggan kopi yang buruk.

Di sudut kedai kopi Bidakara yang nyaris sunyi. Di luar sana ada nuansa hijau, walau tak ada rindang pohon seri. Macam ada payung teduh imajiner hasil jasa baik hawa dan cuaca Sabtu Jakarta yang tenang dari penglaju (commuter) yang acap tergesa. Bukan tergesa bangga, saya orang pertama memeroleh buku baru yang terdiri dari 62 opini karya bang CHS.  Berikut paraf –yang ajaib bak tanda Garpu Tala– dan pesan  ditorehkan:  “Untuk Adinda Joni. Semoga bermanfaat untuk masyarakat”.

Sore itu saya, bang Chazali dan Wahyu Triono Ks  menghadap meja. Memesan kopi specialty, kudapan ringan dan terlibat diskusi  berisi yang legit dimakan. Sesekali keluar diksi, dibumbui sedikit puji, dan grenek ala anak Medan. Kami sempat menguliti  Perpres 110 Tahun 2021 yang mengeleminir Direktorat Jenderal (Ditjen) Fakir Miskin di Kementerian Sosial. Menggantikan Perpres 46/2015 yang ada Ditjen Fakir Miskin-nya, padahal  Presiden masih sama.

Mengutip CHS, sekarang ini musibah menimpa Kemensos. Perpres 110/2021 tentang Kementerian Sosial, nomenklatur Ditjen yang menangani fakir miskin dihapus. Akibatnya, masih menurut CHS,  Kemensos tidak boleh lagi menangani fakir miskin. Pekerjaannya cukup memberikan bantuan sosial untuk korban bencana alam, korban bencana sosial, jaminan sosial dalam skema program keluarga harapan (PKH), pemberdayaan sosial dan rehabilitas sosial.

Sayang sekali host Alimbas TV Hadhy Priyono dan jurnalis senior Hasriwal As Hasibuan tak sempat hadir. Walau tetap hadir. Kehadiran tak harus sama menghadap meja.

Dalam bagian pengantar bukunya,  CHS ada menyebut virus C-19 itu pintar. Seperti hendak menyindir kepada derajat jenius kebijaksaan yang harus dijaga pada manusia. Namun, seperti layaknya teknokrat tulen, bang CHS hendak mengatakan,  pemerintah tak boleh kalah mengolah “bola” kebijakan publik.

Apa pun tarik-menarik dan turun-naik kebijakan yang sudah diambil, dikritisi, dikoreksi, diubah sana sini, pun diolah lagi, namun aha.. pengambil kebijakan musti dan ditantang lebih pintar lagi. Tak hanya demi kebijakan yang mengatasnamakan  wewenang juncto kuasa, namun kebijakan melampaui. Lebih dari sekadar pintar yang  berbasis sains,  yang berbaur dengan hal ikhwal dan aura aroma kepentingan yang  lebih kompleks dan meluas. Menjadi dinamika dalam seni bernegara dalam membuat kebijakan publik. Pembuat kebijakan tak hanya modal kapasitas, dan kapabelitas. Namun juga kompetensi. Terlebih lagi, butuh jam terbang pengalaman dan afirmasi pemihakan, jika meminjam Prof. Riant Nogroho.

Begitu narasi cepat saya  yang melintas untuk buku berjudul ‘Dinamika Kebijakan Pemerintah Menghadapi Pendemi Covid-19 – Analitis Tematis Kebijakan Publik’  karya Dr. Chazali H.Situmorang (2021), hasil editor tunggal Wahyu Triono KS.

Dari sela-sela diskusi kami ada sunyi, seperti thomakninah, saya mengendapkan pikiran beberapa jenak. Kepada helai-helai buku 248 halaman yang tergeletak di meja itu saya bertanya dalam hati. Berdialog kepada ribuan kata bertenaga walaupun dia hanya diam. Duhai aksara dan paragraf, alahai ajar dan nalar. Turunkanlah cahaya di Bidakara, berikan pencerahan kepada beta. Wahai rajawali dan burung angkasa. Turunlah engkau sekejap saja. Beri daku jawaban atas sebuah tanya. Beta sudah bertanya kepada Al Ghazali, Ibnu Rusy, Hans Kelsen, John Austin, dan Ibnu Sina. Kepada siapa kebijakan feat hukum positif itu meletakkan pemihakan?

Sebagai praktisi hukum, saya ragu dan tak bisa menolak mentah-mentah pendapat Donald Black dalam ‘The Behavior of Law’ yang menalar bahwa ada stratifikasi dalam hukum.

“Sudah lama diakui, bahwa orang-orang kaya memiliki keunggulan hukum,”  Tulis DB, yang lahir tahun 1941, profesor ilmu-ilmu sosial di Universitas Virginia, di Harvard DB mengajar di Fakuktas Hukum dan Sosiologi.

Analog tatkala mengutip Rousseau dalam ‘The Social Contract’:68. Katanya:

“Semangat universal hukum, di semua negara, adalah mendukung yang kuat dan menentang yang lemah, membantu mereka yang memiliki harta melawan mereka yang tidak memilikinya. Ketidaknyamanan ini tidak terhindarkan, tanpa kecuali”.

Saya ngeri membaca DB dan Rousseau yang tidak ngeri dan tidak rumit menjelaskan  Perilaku Hukum: sosiologi dan hukum di bumi manusia.

Apa gol rumit  yang hendak dibuat bak akrobatik ngeri namun cantik jika berhadapan antara trilema:  lockdown, kepentingan ekonomi atau nyawa manusia?  (halaman 17). Bagaimana bangunan logika penguasa menarik rem darurat penangkal kematian?  (h.111). Bola Panas RUU IKN (h.232). KPK Menyoroti Data Bansos, Apakah Sudah Akurat (h. 178). Bagaimana tulisan ke-30 bertenaga dahsyat “menggagalkan”  vaksinasi mandiri yang melanggar Perpres 99/2020. Sorak sorai siapa sedang dipersiapkan.

Buku karya terbaru Dr. Chazali H. Situmorang yang mulai berkarir di BKKBN Propinsi Sumatera Utara  (1983),  pernah Sekjen Departemen Sosial (2007-2010),  Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Sosial dan Perumahan Rakyat Kemenko Kesra (2013-2015), Ketua DJSN (2011-2015), dan juga Ketua Harian PP IKA USU, dosen Universitas Nasional ini menitipkan banyak harapan. Seperti banyak jabatan yang disandang mantan guru SAA dan pernah Ketua Umum HMI Cabang Medan –yang ada rindang pohon serinya.  Termasuk harapan kepada BPJS Kesehatan yang merupakan badan hukum publik agar terus survive mengolah “bola” Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),  dan dicintai peserta cq. rakyat Indonesia. Seperti asa tatkala ada momentum bola cantik, membuat gol tak boleh ditunda.

Kami mengakhiri diskusi yang tak selesai 2×45 menit. Berjanji  untuk membuka kedai dan menalar lagi. Editor Wahyu Triono mengangguk ketika kami minta menjadi administrator-nya. Menjelang tetes terakhir kopi Mandailing specialty, saya berujar lugas yang spesial.

“Abang harus jadi Champion-nya. Momentum mencetak gol jangan lepas”.

Senyum khas bang Chazali pun lepas ke langit berpayung teduh Jakarta.

Kita menjadwalkan cetak gol, eh.. buku baru lagi. Kami tak mengharamkan sang hitam kopi, dialog bukan monolog, dialektika bukan sakwasangka, dan tak hendak menutup toko filsafat. Itu bukan ilmu “hitam”. Menjamin tadak offside dan tak terlibat adiksi asap rokok yang karsinogenik. Hanya kopi pintar dan buku bergizi saja. Saya bersorak sorai. Ahooi. Tabik. (Muhammad Joni)

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.