Indonesia Berdakwah

Turki Berperan Penting sebagai “Penjaga Gerbang” Laut Hitam

Penjaga Pantai Turki melakukan patroli di perairan Turki (foto: dok Reuters)

TRANSINDONESIA.co | Ketegangan memuncak atas kemungkinan invasi Rusia ke Ukraina, para pengamat mengatakan Turki berperan penting sebagai penegak konvensi internasional yang mengatur masuknya angkatan laut ke Laut Hitam. Turki menyadari konflik apapun akan membawa tekanan baik dari Moskow maupun mitranya, NATO, terhadap perannya sebagai penjaga gerbang ke Laut Hitam.

Sudah semakin banyak kapal perang NATO yang dikerahkan ke Laut Hitam untuk mendukung Ukraina selagi Rusia menumpuk pasukannya di perbatasan dengan Ukraina.

Akses ke Laut Hitam hanya melalui selat Bosporus di Istanbul, yang diatur oleh Konvensi Montreux tahun 1936. Konvensi yang dilaksanakan oleh Turki itu membatasi kapal-kapal angkatan laut dari negara-negara non-Laut Hitam, negara-negara yang tidak berbatasan dengan Laut Hitam, sampai maksimal 10.000 ton per kapal dan hanya untuk 21 hari.

Pensiunan Duta Besar Turki yang ahli urusan maritim, Mithat Rende mengatakan, “Jika terjadi sesuatu yang buruk maka Ukraina harus dilindungi atau dibela. Menurut konvensi Montreux, ada batasan apa yang bisa dibawa oleh NATO sebagai kekuatan angkatan laut.”

Konvensi Montreux memiliki sejarah penting bagi Turki karena memulihkan kedaulatan dan kendali Turki atas terusan bagian dalam yang menghubungkan Laut Hitam dengan laut lepas.

Namun sebagian pengamat memperingatkan, peran Turki sebagai penjaga gerbang Laut Hitam membuatnya dalam posisi sulit dengan mitra NATO-nya dalam situasi tegang.

Profesor Mustafa Aydin dari jurusan hubungan internasional di Universitas Kadir Has mengatakan, “Selama perang Rusia dengan Georgia tahun 2008, Amerika dan sekutu NATO lainnya berusaha membawa lebih banyak kapal ke wilayah itu. Pada awalnya, Turki tidak mengizinkan permintaan pertama Amerika itu, karena melanggar batas berat kapal. Pada akhirnya AS mengubah permintaan itu menjadi dua kapal kecil, bukan satu kapal besar dan kemudian diizinkan melintas.”

Namun Turki juga menghadapi tekanan dari Rusia. Tahun lalu, kapal-kapal perang Amerika menggunakan terusan Bosporus di Istanbul untuk berperanserta dalam latihan angkatan laut NATO-Ukraina. Itu mengundang kecaman dari Presiden Rusia Vladimir Putin.

Para pengamat memperkirakan, tekanan dari Rusia akan meningkat jika NATO meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di Laut Hitam.

Kepala Institut Kebijakan Luar Negeri Turki di Ankara, Huseyin Bagci mengatakan, “Rusia juga menekan Turki agar tidak terlibat, baik sebagai anggota NATO maupun tetangga baik Ukraina. Rusia tidak menyembunyikan setiap kesempatan untuk mengritik dan, tidak mengancam, tetapi memberi tahu Turki agar jangan salah langkah.”

Turki berharap pembicaraan pekan ini akan meredakan ketegangan yang meningkat dan kedua pihak akan mencegah kegiatan militer lebih lanjut di kawasan itu, eskalasi yang bisa membawa masalah baru bagi Turki dalam peran bersejarahnya sebagai penjaga gerbang Laut Hitam. [ps/ka]

Sumber: Voaindonesia

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.