Indonesia Berdakwah

Presiden Kuba dan Putin Bertemu, Bicarakan ‘Situasi Internasional’ Terkini

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan konferensi pers bersama setelah melangsungkan pertemuan di Moskow, Rusia, pada 2 November 2018. (Foto: Reuters/Maxim Shemetov)

TRANSINDONESIA.co | Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, dengan merujuk pada percakapan yang dilakukannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin (24/1), mengatakan dalam cuitan di Twitter bahwa dia dan Putin berbicara “tentang hubungan baik negara kami dan…tentang situasi internasional saat ini.”

Dengan merujuk pada kerumitan hubungan natara Amerika Serikat (AS) dan Rusia yang terjadi saat ini, cuitan Diaz-Canel itu merupakan referensi resmi pertama atas kebuntuan diplomatik antara kedua negara adidaya tersebut.

Rusia sekali lagi menunjukkan penentangannya di tengah meningkatnya ketegangan yang terjadi antara pihaknya dan negara-negara barat soal Ukraina, dan mengisyaratkan bahwa penolakan AS untuk tidak mengindahkan tuntutannya dapat memacu kerja sama militer yang lebih erat dengan sekutu-sekutu di Amerika Latin.

Dalam beberapa hari terakhir, beberapa pejabat senior Rusia telah memperingatkan bahwa Moskow dapat mengerahkan pasukan atau aset militer ke Kuba dan Venezuela jika AS dan NATO bersikeras untuk ikut campur tangan di “depan pintu” Rusia.

Di tengah penumpukan pasukan besar-besaran di wilayah perbatasannya dengan Ukraina, kemampuan Rusia untuk memobilisasi pasukan di Belahan Barat, ribuan mil jauhnya, sangat terbatas, menurut pendapat para ahli.

Tetapi bahkan jika pembicaraan tentang pengerahan pasukan itu sebagian besar hanya merupakan gertakan, pembangunan strategis Rusia di Amerika Latin adalah nyata, dan dapat menimbulkan ancaman keamanan nasional. Wilayah Amerika Latin selama ini diesbut oleh para pembuat kebijakan Amerika sebagai “halaman belakang Washington.”

Dalam satu dekade terakhir, ketika pengaruh Amerika di kawasan itu telah berkurang, Moskow — dan pada tingkat lebih rendah musuh-musuh lainnya seperti China dan Iran — diam-diam telah memperkuat hubungan dengan pemerintah otoriter di Nikaragua, Kuba, dan Venezuela melalui penjualan senjata, kesepakatan pembiayaan dan keterlibatan diplomatik yang intensif.

Moskow membantu Venezuela merancang mata uang kripto, menghapus utang Kuba senilai $35 juta, dan mengoperasikan kompleks anti-narkotika berteknologi tinggi di Nikaragua yang diyakini banyak orang sebagai tempat berpijak terselubung bagi mata-mata di seluruh kawasan itu.

Berkali-kali, Rusia telah menunjukkan kesediaannya untuk menggunakan militernya yang cukup besar sebagai posisi tawar setiap kali negara itu merasa terancam oleh Amerika. [lt/ka]

Sumber: Voaindonesia

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.