Indonesia Berdakwah

Asslc.Prof Dr. Ir. Hendri Dwi Saptioratri Budiono, M.Eng Melepas Jabatan Dekan Dengan Sejumlah Legacy

Hendri Dwi Saptioratri Budiono, Dekan yang meninggalkan sejumlah legacy di FTUI. [Transindonesia.co /Mirza]

TRANSINDONESIA.co | Bagi Hendri DS Budiono, meninggalkan panggung FTUI sebagai Dekan yang akan ditanggalkannya beberapa hari ke depan bukanlah hal terlalu di risaukannya. Seperti katanya,”Jabatan hanya titipan dari Allah SWT, suatu saat kita diberi namun ada kalanya itu harus dikembalikan dan kita tetap jadi orang biasa lagi meski tetap bergelar Assoc. Prof Namun yang terpenting, selama kita menjabat, legacy apa yang bisa kita wariskan dan tentunya bisa dilanjutkan oleh penerus kita dengan  inovasi yang lebih besar dah dahsyat lagi”.

Bicara tentang Hendri Dwi Saptioratri Budiono, tidak dapat kita kesampingkan pada sosok megah gedung i-CELL, Gedung Integrated Creative Engineering Learning Laboratory (i-CELL). Bangunan itu berdiri, di eranya sebagai Dekan dan semoga bisa menjadi kebanggaan civitqs akademika FTUI.

Gedung ini menerapkan konsep smart building yang terdiri atas 8 lantai dan 1 rooftop laboratorium dengan luas total bangunannya sekitar 8.410 meter persegi. Selain smart building, gedung ini juga mengusung konsep green building yang ramah lingkungan dan efisien dalam upaya pengolahan energi, pencahayaan, sirkulasi udara, serta memiliki fitur teknologi water harvesting dan solar panel sebesar 101 kWp. Gedung i-CELL merupakan salah satu upaya FTUI dalam mengubah proses pendidikan dari Teaching Approach ke Learning Approach yang berfokus pada mahasiswa dan sebuah perwujudan laboratorium penelitian yang terintegrasi.

“Ketika mewujudkan itu (i-CELL) di 2019 lalu, nggak kepikiran bahwa itu bisa, dengan rencana biaya sekitar 60 milyar rupiah. Agar jalan, saya ‘bekalin’ Prof Nandy (Pimpro i-CELL) dengan 40 M. Dalam perjalanannya, biaya sebesar itu bisa kita dapatkan setengah dari kerjasama dengan mitra FTUi juga sumbangan para donator dan sponsor. Contoh, logo Pertamina yang kita liat di ruang lantai 2 dqnnlantai 8 (ruang praktikum kimia) adalah salah satunya. Sambil berpraktek, diharapkan para mahasiswa kelak ketika kelar, bisa menggantungkan mimpi menjadi bagian yang menentukan di Pertamina, contohnya”.

Pada Selasa (4/1) kemarin, Hendri menjelaskan fasilitas tersebut pada serombongan guru dan kepala sekolah sebuah SMA Negeri di bilangan Pademangan Jakarta Utara yang ingin mengenal lebih dekat apa dan bagaimana FTUI itu. Dengan harapan setelahnya, ada banyak lulusan dari SMAN 40 bisa ikut merasakan kemegahan dan belajar karena bisa kuliah di FTUI.

“Konsep dasarnya adalah bagaimana mahasiswa FT dari beragam disiplin ilmu bisa terintegrasi mewujudkan gagasan dan berpraktek. Ada 8 lantai plus rooftop yang bisa digunakan dan tiap-tiap lantai punya kekhususan tersendiri. Tidak semua bisa dikunjungi karena terbatas waktu, Di lantai 1 selain ada hanggar besarunt mahasiswa beraktifitas juga ada 5 area, ada bagian khusus praktek yang berhubungan dengan kayu, plastik hingga logam, kacadan lempung. Sehingga, mereka sejak awal sudah saling bersinergi antara sesame anak teknik bahkan dengan disiplin yang lain. Contoh lain dilantai 5, “Disini mahasiswa FTUI berkolaborasi dengan anak-anak kedokteran dalam menyciptakan organ/bagian tubuh pengganti organ asli dengan mayerial titankum, ada produk penyambung tulang2 wajah yg rusak dan harus disambung dengan screw joint (mini plate implant face)”, ujar Hendri menjelaskan.

Beberapa produk hasil, rekayasa engineering FTUI pun dipamerkan di  lantai 2.Bukan hanya pada produk hasilnya saja, bahkan secara khusus Hendri pun menjelaskan tentang kekhususan Lab Kimia Teknik dimana meja tempat para laboran itu bekerja, karena kekhususannya terpaksa harus didatangkan dari Jerman.

“Meja kerja ini, panjang dan nggak boleh ada sambungan, takutnya nanti ada tumpahan asam ke lantai. Sayangnya produk di sini nggak ada yang memenuhi standar. Tapi jangan salah kursi praktenya tetap produk lokal dimana alas duduknya berbahan jati terbaik”.

Prof Hendri tengah menjelaskan fasilitas yang ada di i-CELL FTUI. [Transindonesia.co /Mirza]

Ketika diajak ke rooftop, tampak rangkaian solar panel terpasang yang menghasilkan daya  101 kWp di area yang cukup luas, juga teknologi water harvesting.

“Air hujan yang turun, ditampung lewat jalur-jalur yang ada di bawah itu”, Prof Nandy sembari memperlihatkan jalur tampungan air,”Kemudian, air itu di tamping di bawah dan di filtrasi, jadi air baku untuk keperluan di WC”.

Tour kampus pun berlanjut, dengan mengunjungi smart class roomnya FTUI. Terlihat jelas, bagaimana pola belajar hybrid, terutama pasca pandemic Covid-19 ini, jadi sebuah keharusan. Ruang kelas, yang tertata dan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang ketat, tetap menyediakan ruang tuk interaktif antar mahasiswa dan dosen baik itu yang mengikuti secara online maupun offline.  Terlihat dalam satu ruang kelasnya, layar papan tulis digitalnya seharga sebuah mobil penumpang kelas menengah.

“Jujur, ini kami rancang jauh sebelum masa pandemi datang. Idenya, bahwa waktu para dosen selain harus mengajar, dia juga harus penelitian juga dan beragam aktivitas lainnya. Dengan adanya fasilitas ini, hal itu bisa diselaraskan untuk bisa dikerjakan bareng, sejalan”,ujar Prof Nandy.

Dalam kesempatan perbincangan mengakhiri acara Tour of Campus ini,  Hendri pun menegaskan,” Gedung i-CELL merupakan salah satu upaya FTUI dalam mengubah proses pendidikan dari Teaching Approach ke Learning Approach yang berfokus pada mahasiswa dan sebuah perwujudan laboratorium penelitian yang terintegrasi”.

Tentunya, setelah sudah tidak jadi Dekan FTUI lagi, kesibukan yang mendera  jadi lebih sedikit berkurang. Namun bukan berarti ide dan kreativas lantas jadi tumpul. I-Create  (Integrated Creative Education And Technology Enterprise) adalah satu terobosan lagi, meski masih dalam bentuk rancang design.

“Mayoritas, pelaku di FTUI, baik itu mahasiswa maupun dosen, menghendaki pola hybrid pembelajaran jadi cocok untuk dilakukan, kebetulan Covid-19 hadir jadi milestonenya. Sebuah gedung 20 lantai yang kami rancang dan ancer-ancer anggarannya sekitar 300 Milyaran deh. Namun karena berlaku moratorium di UI untuk pembangunan bangunan baru. Mungkin untuk sementara itu baru sekadar tahap design. Tidak tertutup kemungkinan rancangan semacam itu bisa diimplementasikan di tempat dan keperluan yang lain, yang memerlukan konsep berkehidupan hybrid”.

Rasanya, sajian kopi ala barista yang selama ini disajikan oleh Hendri yang juga jago bermusik ini, akan hilang atau mungkin sedikit berkurang, karena pojokan yang berisi mesin exspresso akan berpindah tempat nantinya.

”Sengaja, saya menghadirkan itu di ruangan Dekan. Bahwa ketika ada permasalahan yang harus dilakukan pendekatan dari hati ke hati,maka ngopi dulu, baru ngomong. Seperti falsafah ngopi yang saya pegang. Kopi itu harus digoreng (roasted) dan itu saya lakukan sendiri di rumah dengan mesin roasting saya dan jadi kegiatan saya dikala senggang. Dengan kopi yang nikmat, otomatis segala kebuntuan dan hal yang nggak mungkin, setelah meneguk secangkir kopi atau menerima es kopi dalam varian rasa, itu akan mencair dan titik temu pun akan kita raih”.

Prof. Dr. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng, yang menggantikan sebagai Dekan FTUI, tentunya akan melanjutkan estafer keberhasilan yang berhasil ditoreh oleh FTUI. Namun, melanjutkan tradisi barista seorang dekan, boleh jadi bukan keahlian dan passion Prof Heri. Namun, Hendri pun menyambar dengan sebuah kalimat lugasnya,”Saya siap koq, jika beliau butuh hadirkan seorang barista handal di lingkungan FTUI. Biar aroma harumnya kopi akan bisa mencairkan suasana dan sinergi tetap akan hadir di lingkungan FTUI”.[Mirza]

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.