Indonesia Berdakwah

Taiwan Sebut China Bisa Memblokade Pelabuhan Utamanya

Kapal cepat militer yang mengibarkan bendera Taiwan pada 16 Juli berpatroli di perairan di sekitar pos pertahanan garis depan Taiwan, Pulau Jinmen, yang terletak hanya beberapa kilometer dari China. (Foto: Reuters)

TRANSINDONESIA.co | Kementerian Pertahanan Taiwan, Selasa (9/11), mengatakan Angkatan Bersenjata China mampu memblokade pelabuhan dan bandara utamanya. Negara pulau itu menggambarkan aksi tersebut sebagai ancaman militer yang “mematikan.”

China tidak pernah meninggalkan penggunaan kekuatan agar Taiwan yang demokratis berada di bawah kendalinya. Beijing bahkan telah meningkatkan aktivitas militer di sekitar pulau itu, termasuk berulang kali menerbangkan pesawat perang ke zona pertahanan udara Taiwan.

Kementerian Pertahanan Taiwan, dalam sebuah laporan yang dikeluarkan setiap dua tahun, mengatakan China telah meluncurkan apa yang disebutnya perang “zona abu-abu.” Hal itu berdasarkan adanya 554 “penyusupan” yang dilakukan oleh pesawat-pesawat perang China ke wilayah barat daya zona identifikasi pertahanan udara antara September tahun lalu dan akhir Agustus.

Analis militer mengatakan taktik itu ditujukan untuk menaklukkan Taiwan lewat aksi yang melelahkan, Reuters melaporkan tahun lalu.

Pada saat yang sama, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) bertujuan untuk menyelesaikan modernisasi pasukannya pada 2035 untuk “mendapatkan keunggulan dalam kemungkinan operasi melawan Taiwan dan kemampuan yang layak untuk menolak pasukan asing, yang merupakan tantangan besar bagi keamanan nasional kita”, kata kementerian Taiwan.

“Saat ini, PLA mampu melakukan blokade bersama di pelabuhan kunci, bandara, dan rute penerbangan keluar kami, untuk memutus jalur komunikasi udara dan laut kami, dan berdampak pada aliran pasokan militer dan sumber daya logistik kami,” kata kementerian tersebut.

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Kementerian Pertahanan China tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan Taipei sudah menjadi negara merdeka dan berjanji untuk mempertahankan kebebasan dan demokrasinya.

Tsai telah menjadikan penguatan pertahanan Taiwan sebagai prioritas, berjanji untuk memproduksi lebih banyak senjata yang dikembangkan di dalam negeri, termasuk kapal selam, dan membeli lebih banyak peralatan dari Amerika Serikat, pemasok senjata terpenting dan pendukung internasional pulau itu.

Pada Oktober, Taiwan melaporkan 148 pesawat Angkatan Udara China terbang di wilayah selatan dan barat daya zona udara Taiwan selama empat hari, meningkatkan suhu ketegangan antara Taipei dan Beijing.

Peningkatan latihan militer China di zona identifikasi pertahanan udara Taiwan baru-baru ini adalah bagian dari apa yang dilihat Taipei sebagai strategi pelecehan yang direncanakan dengan hati-hati.

“Perilakunya yang mengintimidasi tidak hanya menghabiskan kekuatan tempur kami dan menggoyahkan iman dan moral kami, tetapi juga mencoba untuk mengubah atau menantang status quo di Selat Taiwan untuk akhirnya mencapai tujuannya ‘merebut Taiwan tanpa perlawanan’,” kata kementerian itu.

Untuk melawan upaya China dalam “merebut Taiwan dengan cepat sementara menolak intervensi asing”, kementerian berjanji untuk meningkatkan upayanya pada “perang asimetris” untuk membuat serangan apa pun menyakitkan dan sesulit mungkin bagi China.

Serangan tersebut termasuk serangan presisi yang dilakukan oleh rudal jarak jauh dengan target China, penyebaran ladang ranjau pesisir serta meningkatkan pelatihan cadangan. [ah/au/rs]

Sumber: Voaindonesia

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.