Indonesia Berdakwah

Mantan Presiden Afsel Rekam Pesan Minta Maaf ‘Rezim Apartheid’ sebelum Meninggal

Presiden Afsel Nelson Mandela (kiri) bersama Wapres F.W. de Klerk pada 8 Mei 1996. (foto: dok. AP)

TRANSINDONESIA.co | Mantan Presiden Afrika Selatan FW de Klerk merekam pesan untuk bangsa itu sesaat sebelum kematiannya pada hari Kamis (11/11), di mana ia “tanpa kecuali” minta maaf atas “rasa sakit, luka, penghinaan dan kerusakan” yang ditimbulkan rezim apartheid.

De Klerk mengawasi berakhirnya kekuasaan minoritas kulit putih sebagai presiden apartheid terakhir di negara itu. Bersama Nelson Mandela, de Klerk dianugerahi Nobel Perdamaian.

Namun demikian de Klerk merupakan sosok kontroversial di Afrika Selatan.

Banyak yang menyalahkan de Klerk atas aksi kekerasan terhadap warga kulit hitam dan aktivis anti-apartheid Afrika Selatan selama ia berkuasa. Sementara, sebagian warga kulit putih Afrika Selatan melihat upayanya mengakhiri sistem apartheid sebagai sebuah pengkhianatan.

Dalam pesan yang dirilis yayasannya, de Klerk menggambarkan sikap menerima “hal-hal yang tidak dapat diterima” dalam apartheid itu sebagai “pertobatan.”

De Klerk memuji konstitusi yang ia bantu rundingkan, tetapi mengatakan “sangat prihatin” tentang apa yang digambarkannya sebagai “merusak banyak aspek konstitusi yang kita lihat hampir setiap hari.”

De Klerk mendesak semua warga Afrika Selatan untuk “bergandeng tangan” dan “bersatu,” dengan mengatakan meskipun jalan di depan kita adalah “jalan yang sulit,” mereka akan dapat mengatasi tantangan itu dan memenuhi “potensi luar biasa” bangsa mereka.

Mantan presiden itu meninggal dunia di rumahnya di Fresnaye, Cape Town, dalam usia 85 tahun, setelah berjuang melawan kanker. [em/jm]

Sumber: Voaindonesia

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.