Indonesia Berdakwah

FITRAH BERBUAT BAIK

Ilustrasi. [Transindonesia.co /FB Aa Gym]

TRANSINDONESIA.co | KH. Abdullah Gymnastiar

Entah itu di Afrika sampai di daerah kutub sekalipun, setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik, menolong, berbagi, berlaku sopan, jujur, dan semacamnya. Mereka menyukai yang namanya kebaikan, kejujuran dan kebenaran. Hal ini dapat dirunut kembali dari sejak penciptaan manusia itu, Allah Ta’ala sudah memberikan kepada manusia semacam software berupa kecenderungan pada kebaikan dan kebenaran. Agama kita menyebutnya sebagai fitrah.

Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah bersih dan suci. Baru setelah lahir dia mulai terkontaminasi oleh keburukan. Namun demikian, yang namanya fitrah akan selalu melekat pada setiap manusia, walaupun dia diabaikan, tidak diakui dan tidak disadari.

Islam membawa manusia kembali pada fitrahnya, lalu menguatkan dan menyempurnakan kecenderungan bawaan pada kebaikan dan kebenaran tersebut. Islam mengembalikan dan menyempurnakan nilai- nilai kemanusiaan yang sudah ada secara alami. Bersama hidayah Islam, kebaikan dan kebenaran tadi akan tampak semakin jelas.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetap lah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S ar-Rum 30:30)

Hal ini sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau diutus Allah setelah sebelumnya ada nabi-nabi lain yang membawa dan mencontohkan akhlak yang baik. Maka, beliau hadir sebagai penutup para nabi yang bertugas menyampailan risalah Islam untuk menyempurnakan akhlak tersebut. “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.: Kehadiran Islam mengantarkan kecenderungan pada kebaikan dan kebenaran menuju puncak kemuliaan.

Ibarat senyum, ada yang senyum supaya dianggap manis, karena sedang difoto, dan karena pekerjaan atau takut pada atasan. Namun, ada juga senyum yang ikhlas. Hal yang sama berlaku pula pada sedekah. Motif orang bersedekah bermacam-macam. Tapi yang paling bagus adalah yang bersedekah dengan ikhlas. Puncak Kebaikan itu adalah ketika kita Lillahi Ta’ala dalam melakukannya.

Selain sebagai penguat Fitrah, Islam Juga menjadi pengingat atau penawar bagi kelalaian manusia. Manusia memiliki kekurangan, yaitu menyukai aneka kesenangan yang sementara sifatnya juga berpikiran sempit. Manusia sangat mudah berkeluh kesah disaat sempit dan kikir ketika lapang. Manusia pun gampang melupakan hari kemudian.

Oleh karena itu kecenderungan bawaan untuk mencari kebaikan dan kebenaran selayaknya dimaksimalkan dengan Islam. Seluruh pikiran dan amal perbuatan, seluruhnya hanya tertuju kepada Allah. Islam bukanlah penghalang, tetapi penguat dan penyempurna fitrah.
“Hai manusia, kamu lah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. “ (Q.S Fathir 35:15)

Saudaraku, jika setiap perbuatan baik sudah lillahi ta’ala, dan jika hati sudah bulat hanya kepada Allah, disanalah akhlak mencapai kemuliaan. Inilah sebuah keadaan dimana kenikmatan dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya dihidangkan oleh Allah Ta’ala.[*]

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.