Indonesia Berdakwah

Australia akan Investasikan Rp1 Triliun untuk Pengembangan Ilmu Kuantum

Scott Morrison, Perdana Menteri Australia menyampaikan pidato, selama KTT COP26, di SECC di Glasgow, Skotlandia, Senin, 1 November 2021. (Foto: AP)

TRANSINDONESIA.co | Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Rabu (17/11), mengatakan negaranya akan mengalokasikan A$100 juta atau sekitar Rp1 triliun untuk mengembangkan teknologi kuantum. Canberra mengalokasikan dana itu setelah mengidentifikasi sembilan bidang teknologi yang diyakini penting untuk kepentingan nasionalnya.

Teknologi kuantum, berdasarkan prinsip-prinsip inti fisika, masih belum terlalu berkembang. Namun teknologi tersebut menjadi primadona para investor yang bercita-cita untuk melakukan revolusi industri di berbagai bidang mulai dari perawatan kesehatan dan keuangan hingga kecerdasan buatan dan prakiraan cuaca, sebagaimana dikutip dari Reuters, Rabu (17/11).

Dalam beberapa bulan terakhir, Australia telah menjanjikan pengeluaran miliaran dolar untuk memodernisasi perekonomiannya dan mengurangi ketergantungan pada China. Hal itu diyakini dapat dicapai dengan memacu industri manufaktur di berbagai sektor, seperti sumber daya dan mineral, serta mendukung pengembangan teknologi rendah emisi.

Dalam rangka mempercepat rencana ekonominya itu, Australia akan mendukung sembilan teknologi, yang pertama adalah teknologi kuantum. Sebagian besar dari A$100 juta yang dijanjikan akan digunakan untuk mengkomersialkan penelitian kuantum Australia dan menjalin hubungan dengan pasar global dan rantai pasokan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi kuantum memiliki potensi untuk merevolusi berbagai industri,” kata Morrison dalam pidatonya, Rabu (17/11).

Pengumuman tersebut disambut baik oleh sektor teknologi informasi Australia.

Morrison mengatakan pengembangan teknologi lain yang akan didukung oleh negara tersebut, termasuk diantaranya adalah keamanan siber canggih, komunikasi, ketepatan mineral, kendaraan otonom, dan antibiotik baru. ​Namun, dia juga memperingatkan implikasi etis dari perkembangan baru tersebut.

“Kita perlu bertanya pada diri sendiri apa yang harus dilakukan dengan teknologi – bukan hanya apa yang bisa dilakukan,” kata Morrison. [ah/rs]

Sumber: Voaindonesia

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.