Indonesia Berdakwah

“Takdir” Perang Baratayudha

Ilustrasi Kisah Mahabrata

TRANSINDONESIA.CO | Perang besar Baratayudha seakan telah ditakdirkan demikian untuk menghukum orang orang yang berdosa. Kejumawaan ketamakan akan kekuasaan menjauhkan dari kebenaran. Upaya pencegahan perang telah dilakukan dari pihak kurawa yang dilakukan dialog dari Sanjaya maupun Basudewa Krisna di pihak Pandawa.

Pada saat Krisna hadir di Hastinapura Sangkuni maupun Duryudana merencanakan penangkapan terhadap Krisna.

Sejatinya, Krisna sudah berupaya melakukan upaya dari memberitahukan tentang siapa sebenarnya Raja Angga Karna. Meminta ibu Kunti menemui Karna dan mengatakan yang sebenarnya bahwa dirinya adalah ibunya. Dan mengatakan bahwa Karna adalah kakak tertua dari Pandawa. Kalau Karna tidak memihak Kurawa maka perang dapat dicegah.

Faktanya, Karna tetap membela Duryudana walau sudah mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Karna juga menolak permintaan Dewi Kunti ibunya maupun mengabaikan permintaan istrinya Rosali. Karna paham betul jika pilihannya keliru dan ia telah terjebak persahabatan semu dengan Duryudana.

Krisna juga mengingatkan kepada Bisma yang Agung untuk berani bertindak mengangkat senjatanya mencegah perang. Faktanya, Bisma juga telah terjebak sumpah janjinya akan menjadi pelayan Hastina dsn penjaga tahta Hastinapura. Bisma merasa ingin membebaskan dirinya dari dosa dosanya dengan gugur di medan laga.

Bisma tidak mampu menegakan kebenaran dan keadilan dan tetap memihak Kurawa. Ia sedih dan meratap kepada ibunya Dewi Gangga atas dosa dosanya, dan ia melihat keturunannya saling berperang memperebutkan tahta Hastinapura. Bisma berupaya menyampaikan berbagai pendapatnya kepada Raja Destrarata di saat sidang penentuan perang, naum tak mampu mencegah angkara murka Duryudana. Bisma juga melarang Karna ikut dalam perang Baratayudha agar dapat mencegah perang besar, namun lagi lagi dipatahkan Duryudana.
Krisna juga menegur keras terhadap Bisma memahami bahwa sikap dan perannya yang ikut menjadi penyulut terjadinya perang  saudara.

Guru Durna juga memahami bahwa membela Kurawa adalah kesia-siaan. Ia ingin meninggalkan Hastinapura bahkan di saat Bisma yang agung gugurpun ingin meninggalkan Kurusetra. Namun desakan Aswatama anak kesayangannya hingga harus terjebak pada janji dan sumpah yang berdampak pada kehancuran bangsa Kuru. Durna tidak terkalahkan namun ia terikat cinta buta kepada Aswatama. Walaupun ia sempat mengutuk anak kesayangannya yang terus memojokkan agar tetap di pihak Kurawa. Sumpah dan janji menjadi Supata dan Karma. Pembelaan kepada pihak Kurawa menjadikan sesuatu yang berakibat korban yang begitu besar baik materi maupun nyawa para ksatria.

Dendam Drupadi yang dihina pihak Kurawa pada saat kekalahan Yudistira pada saat bermain dadu di Hastinapura. Sumpah Bima yang akan membunuh semua Kurawa, merobek robek Dursasana dan meminum darahnya, serta meremukkan paha Duryudana. Sumpah para Pandawa lainnya yang akan menuntut balas atas haknya yang telah dirampas Kurawa.

Kebencian antara Kurawa dan Pandawa sudah memuncak dan kompleks sulit untuk dicegah. Ditambah lagi sikap Raja Gandara Sangkuni yang terus memprovokasi dengan sikap liciknya yang seakan akan menghasut Duryudana. Sangkuni memainkan kelicikannya bagi kebahagiaan para Kurawa.

Sikap ksatriannya telah hilang demi dendam dan kekecewaannya atas adiknya Dewi Gandari yang bersuamikan buta dan harus menutup mata seumur hidupnya. Sangkuni berjanji unyuk membahagiakan adiknya dengan selalu memberi angin segar dan berjuang agar keponakannya yang menjadi raja Hastina. Terus memanjakan para Kurawa walau cara yang mengabaikan kebenaran dan keadilan.

Kejumawaan Duryudana yang didukung dan diikuti Dursasana berserta 98 adik adiknya. Sikap angkara murka Duryudana menjadikan tabiat yang buruk. Penuh kejumawaan, tamak, ingin menang sendiri, merasa palin dari paling disakiti hingga paling benar. Bahkan Krisna mengatakan bahwa Duryudana sama sekali tidak memiliki kebenaran dan yang ada hanyalah ketidakbenaran.

Persahabatan semu dengan Karna, memaki dan memaksa orang tua ikut berperang seperti Bisma yang Agung dan Guru Drona. Sebenarnya sejak kelahirannya disarankan untuk dikorbankan karena akan menjadi penyebab perang saudara. Namun semua itu ditolak oleh Destrarata. Para tetua Hastinapura mengetahui sepak terjang dan kekejaman Duryudana dan sikapnya yang selalu ingin menang sendiri serta semua keinginannya harus dipenuhi.

Takdir Baratayudha memang harus terjadi segala upaya dan usaha sudah dilakukan, namun semua persyaratan damai ditolaknya. Basudewa Krisna memerankan kedewataannya untuk menghukum yang berdosa. Bharatayudha menjadi palagan pemenuhan supata dan karma. Semua yang berdosa akan dihukum di tegal Kurusetra. Kerugian dan kerusakan serta kesedihan di kedua belah pihak sama sama menderita baik yang kalah maupun yang menang.

Perang menghabiskan energi, mengorbankan jiwa para pahlawan dan orang orang terbaiknya, memboroskan biaya, merusak alam. Dan menyisakan duka yang tak berkesudahan.

Senja di Tegal Parang 221021
Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.