Indonesia Berdakwah

Ngalap Berkah Seni dari Sang Maestro

Penulis, pencita seni dan budaya.
TRANSINDONESIA.co |  Ngalap berkah dapat dikatakan suatu usaha mencari dan mendapatkan restu atau kekuatan spiritual dari Tuhan Yang Maha Kuasa melalui restu para leluhur yang suci, sakti atau berbudi luhur agar kekuatannya atau semangat membaranya dapat menurun atau tertransformasi ke diri kita atau pengalap berkah. Dalam senipun ada para maestro sebagai pendahulu yang dalam perjuangannya telah menorehkan tinta emas bagi tumbuh dan berkembangnya seni. Mereka patriot dan pejuang kemanusiaan yang membangun peraradaban.
Proses panjang yang beliau beliau lakukan berat bahkan tragis. Tidak hanya dalam proses berkaryanya namun juga dalam hidup dan kehidupannyapun kadang ikut dipertaruhkan. Para maestro seni rupa Indonesia maupun dunia patut untuk mendapatkan kehormatan dan penghormatan yang selayaknya agar para generasi muda dapat ngalap berkahnya.
Kita dapat melihat para maestro seni sejak jaman reineisans sampai modern dan post modern seperti : Gioto, Leonardo Davinci, Michelangelo, Raphaelo Santi, Albrech Durer, Paul Pieter Rubens, Rembrandt, ingres, nicoulas pousin, vandyck, jan Van Eyck, Fransisco de Goya, Edgar Degas, El Greco, Eungene Delacroix, Marc Chagall, Claude Monet, Manet, Henry Matisse, Vincent Van Gogh, Paul Gauguin, Paul Cezane, Wassily Kandinsky, Edward Munch, Pablo Picasso, Salvador Dali, Piet Mondrian, Andy Wahrol, Basquiat dan masih banyak lainnya. Para maestro dari Indonesia antara lain kita dapat ngalap berkah dari : Raden Saleh, Abdulah Surio Subroto, Affandi, S Sudjojono, Hendra Gunawan, Basoeki Abdulah, Dullah, Soedibyo, Trubus Sudarsono, I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gd Sobrat, I Gusti Made Poleng, I Nyoman Tjokot, Nashar, Zaini, Rusli, Oesman Effendi, Salim, RJ Katamsi, Amri Yahya, Handrio, Ahmad Sadali, G Sidarta, Abas Ali Basah, Widayat, Tedja Suminar, Sudjana Kerton, Henk Ngantung, Hariyadi, Bagong Kusudiarjo, Sapto Hudoyo, dan masih banyak lainnya.
Pelukis Asing yang berpengaruh bagi perkembangan seni rupa di Indonesia antara lain : Antonio Blanco,Miguel Covarrubias, Walter Spies, Rudolf Bonnet, Rudolf Bonnet, Adrien Jean Le Mayeur,Arie Wilhelmus Smith dll.
Karya karya para maestro menunjukan budi luhurnya sebagai pejuang peradaban. Para maestro menjari ikon atau simbol perjuangan di masa lampau, masa kini maupun masa yg akan datang. Seni tidak sebatas ide, konsep maupun teknis semata namun juga memerlukan kekuatan spiritual. Terutama dari para pendahulu, para maestro, para pahlawan atau para leluhur yang motivasi bagi generasi muda untuk mempertahan hingga menumbuhkembangkan.
Ngalap berkah dari para maestro menjadi daya penyemangat, pengingat. Kekuatan secara spiritual ini menurut saya sangat luar biasa walau secara fisik nampaknya biasa biasa saja. Spirit para leluhur akan dapat digunakan sebagai pendorong dan pengingat untuk tetap on the track. Ngalap berkah dapat dikatakan nguri uri atau menjaga dan melestarikan warisan budaya leluluhur senior atau orang orang yang kita hormati.
Dalam hal seni budaya dengan mempelajari, mengamati, memberi ruang apresiasi atas benda – benda yang pernah digunakan atau sebagai bagian dari proses berkarya, atau malah menjadi sesuatu yang menjadi kebiasaan semasa hidupnya. Ngalap berkah sejatinya juga mempelajari proses berkarya atau proses kreatif yang dapat dijadikan inspirasi dan kekuatan tersendiri. Salin itu bisa juga melakukan napak tilas agar tetap terjaganya semangat dan spirit luhur para pendahulu.
Kecintaan terhadap seni merupakan dasar bagi pengembangan dan pelestarian karya karya para maestro. Dari kecintaan dan kebanggaan akan seni budaya saya bersama teman teman berupaya memberikan ruang dalam komunitas Kampoeng Semar. Kami mencoba mengingat kembali maestro maestro yang seolah dalam kesunyian. Kami telah memamerkan karya I Nyoman Tjokot dan Cokotisme, ippe Maaruf, Pramono Pramudjo dan Nashar.
Orisinalitas Karya Tjokot dan Cokotisme
I nyoman tjokot seringkali dianggap sebagai orang di jamannya. Setiap jaman ada orangnya setiap orang ada jamannya. Tjokot buka dari keluarga seniman, ia petani seperti orang kebanyakkan. Entah apa yang merasuk ke dalam jiwanya untuk berani memulai mengukir kayu yang ditemukannya. Dan mengikuti saja spt bentuk kayunya. Tjokot tidak pernah belajar secara formal. Kalaupun belajar, gaya tjokot tentu akan berbeda bahkan bisa bertentangan dari karya gurunya. Kesan pertama melihat karya tjokot seakan belum selesai ( un finish). Kaya tjokot memang tidak difinishing seperti diamplas atau dihaluskan kemudian divernis. Tjokot mengawetkan kayu yg dipilih untuk karyanya dengan minyak tanah dan kapur. Motif atau bentuk yang dibuat nampak tidak seperti karya karya tradisional lainnya.
Tjokot berani keluar dari main stream dengan gayanya sendiri. Kejujuran ketekunan dan konsistensinya tidak sia sia. Tjokot berhasil menyandang nama besar sebagai seniman perintis atau pelopor gaya atau aliran tjokotisme. Karya tjokot terinspirasi dari ceritera ramayana, legenda bali, alam, flora dan fauna yang dikemas dalam imajinasinya sendiri. Orisinalitas karya Tjokot ini yang membuat banyak pengamat seni kagum dan menempatkan karya Tjokot pada posisi sebagaimana semestinya sebagai seorang maestro. Apresiasi atas karya I nyoman Tjokot dapat dilihat dari yang tangible maupun yang untangible. Yang tangible unik dalam wujud dan bentuk yang ekspresif impresif bahkan jg primitif. Yang untangible dapat dirasakan adanya taksu atau spiriit atau hasrat yang muncul di balik fenomena yang ada.
Seni merupakan dialog antara jiwa dan kata. Tatkala mampu menemukan atau merasakan taksunya maka seakan ada getaran getaran jiwa dengan karya melalui indera menyentuh hati ada rasa. Di situlah kepekean para pengamat dari luar mampu menangkap hal hal yang untangible dari suatu karya. Bisa saja karya Tjokot dianggap modern art atas tribal art. Sesuatu yang baru tentu akan menimbulkan sengatan atau benturan bahkan akan menjadi sesuatu yang tidak mudah diterima.Aliran Tjokotisme dilanjutkan anak cucunya. Banyak tempat menyimpan atau memiliki karya karya anak cucu Tjokot, namun cara seakan hanya ikut-ikutan saja. Kita bisa lihat yang ada di musium seni rupa dan keramik semuanya dicat hitam.
Mungkin untuk memudahkan perawatan atau pengawetan. Juga di taman mini ditaruh di halaman tanpa keterangan referensi atas suatu karya. Karya seniman Indonesia memiliki nilai humanisme dan nilai nilai spiritual tinggi namun tatkala tanpa ada yang peduli perlahan akan menguap satu persatu. Memang setiap pinjaman ada orangnya dan setiap orang ada jamannya.
Namun tatkala kita memahami bahwa hidup itu pendek dan karya karya itu abadi (ars longa vita brevis) mengapa kita tidak menjaga dan merawat keabadian. Di Bali sendiri aliran Tjokotisme juga seakan mulai menguap sirna. Apa yang ada hanya di musium atau galeri galeri tertentu. Menemukan dan merawat aliran atas suatu karya seni memang akan hidup tergantung dari apresiasi atau ruang untuk dpat diandalkan setidaknya untuk bertahan hidup. Orisinalitas karya karya maestro Indonesia belum dikemas secara maksimal. Masih sebatas angin anginan byar pet hangat hangat tahi ayam. Konsistensi pengkajian pengemasan dan memarketingkannya hampir hampir tidak ada. Semua ditabur begitu saja bahkan secara politispun tidak tersentuh sama sekali. Tatkala tidak ada yang peduli maka apa yang pernah ada apa yang pernah dirintis ditemukan dan dilakukan para seniman tidak akan menjadi suatu keabadian karena habis sekedar untuk mencari makan.
IPE MAARUF:
Karya Karyanya Refleksi Hati yang Bergembira
Karya karya ipe maaruf memang mengingatkan kembali akan waterllilies karya claude monet yg dalam ukuran raksasa. Namun pada karya ipe dalam ukuran yang boleh dikatakan relatif kecil. Dalam karya karya ipe yang kecil mengingatkan kembali pada karya arie smith yang ceria penuh warna warni cerah riang gembira. Dalam karya alam lingkungan orang orang kampung dalam kegiatan sehari hari seakan karya muncul imaji kita akan paul gauguin di pulau Tahiti.
Garis kuat lenturdalam sket sket orang orang dalam berbagai aktifitas mengingatkan kita pd henry matise dan juga karya karya I Gusti Nyoman Lempad. Di dalam menginterpretasi karya ippe maaruf yang ingin ditunjukkan bukan membanding bandingkan melainkan untuk menunjukkan bahwa karya ipe bukan semata mata pada sketsanya.
Seringkali kita melihat suatu sosok atau suatu fenomena belum secara holistik. Karya karya ipe sebagai seorang maestro telah mencakupi kualitas Monet Cezane, Matise Gauguin Lempad bahkan Arie Smith. Standar estetika barat menjadi hegemoni dengan standar pengemasan dan marketingnya yang mampu menunjukkan positioning deferentian dan brand nya sehinngga mampu mendunia atau mengglobal. Sedangkan di negara kita boleh dikatakan sangat lemah nyaris tak terdengar walau diakui sebagai maestro lagi lagi banyak bullyan yang melemahkan atau membranding yang mengunci cara berpikir holistik atau sistemik unyuk menunjukkan makna di balik fenomena.
Ipe tetaplah ipe bukan monet bukan gauguin bukan matise dan bukan arie smith namun kesemuanya itu mendukung dan menunjukkan kemaestroan seorang ipe. Ipe maaruf merupakan aset bangsa kita yg mampu menorehkan tinta emasnya dlm sejarah seni rupa Indonesia. Ipe bujan dicetak bukan dididik melainkan given atau anugerah bagi bangsa Indonesia. Dalam berbagai diskusi tentang Ipe Maaruf dalam menapakki panggilan hidupnya benang merah sebagai point point yang layak menjadi catatan sbb :
1. Ipe melukis dengan hati yang bergembira tatkala hatinya merasa belum sreg atau tidak nyaman maka ia akan melepaskannya dan pada saat hatinya bergembira kembali merampungkannya
2. Di dalam mengeksplorasi materi dan caranya berkarya seakan akan dirinya sedang bermain main dg kegembiraannya tadi. Apa yg dilihat dirasakan yg membuatnya bergembira inilah yang ingin dicapainya yaitu karya karyanya menjadi temannya dan penyemangat hidupnya bahkan menjadid obat dan penghiburannya dikala sakit. Ipe tidak ingin membuat karya yang menakutkan atau membuatnya sakit.
3. Ia senantiasa mengatakan: ” belajarlah terus menerus dr apa saja di mana saja kapan saja bahkan ddengan siapa saja bahkan dg anak kecil sekalipun kita bisa belajar krn kegembiraan dapat ditemukan dari apa saja dan di mana saja “.
4. Ipe maaruf menunjukkan bahwa guru yang terbaik adalah diri kita sendiri karena dari dalam diri kita ada kekuatan yg sangat luar biasa tinggal kita mampu mengenalinya dan mampu menggalinya atau tidak.
5. Tatkala melukis janganlah menjadi beban lepaslah biarkan mengalir dengan hati bergembira.
6. Memori dan semangat hidup ipe maaruf sangat luar biasa bukan semata mata pada hal yang kebendaan atau tangible tetapi pada jiwa atau sesuatu yang untangible
7. Karya ipe merupakan aliran dan ungkapan jiwanya yg bergembira dengan penuh warna warni sebagai wujud keceriaan hatinya
8. Ipe berkomitmen dan konsisten dalam menjalani panggilan hidupnya
9. Ipe maaruf mampu menemukan dan menunjukkan gayanya yg kuat di dalam berkarya. Ipe bukan sebatas sketser melainkan ia seniman sejati yang setia menjalani panggilan hidupnya.
Melukis dan berkesenian bagi ipe adalah kegembiraan mungkin sebagai katarsis yang membuat terus kuat berkarya hingga di usia yang tidak lagi muda. Ipe berjalan dalam kesunyian namun hatinya penuh kegembiraan. Itu mungkin yang membuatnya terus bersemangat berkarya.
Guyon Maton Pramono
Pramono Pramoedjo maestro karikatur indonesia yang cerdas lugas menangkap situasi kehidupan sosial yang tidak sebagaimana mestinya, lalu melakukan kritik dengan teknik gambar yang piawai penuh rasa humor yang tinggi namun tetap santun. Pramomo sejak usia muda hingga saat ini sudah mulai memasuki usia senja tetap kritis kreatif inspirarif bagi siapa saja. Goresan penanya menunjukkan bahwa dirinya profesional. Konten dari gambar yang sarat dengan simbol menunjukkan kecerdasannya.
Simbol simbol yang digunakan agar ada imajinasi permenungan dan dialog. Tentu saja tidak frontal, tidak sarkas atau kasar, dan ketajaman kritiknya dilembutkan dengan gaya humor. Apa yang dilakukan pramono merupakan guyon maton, bercanda namun ada pesan moral atau kritik yang disampaikan dalam visual yang lebih mudah ditangkap oleh publik. Pramono paham bahwa mengkritik itu bukan suatu kebencian atau ingin membunuh karakter atau fitnah melainkan suatu bentuk kepekaan kepedulian dan bela rasa bagi kemanusiaan.
Pembelaan Pramono pada kaum yang termarjinalkan nampak di situ spirit dan kualitas daya nalar dan kelembutan hatinya. Kritik terhadap kemacetan lalu lintas Jakarta Pramono menggambarkan dalam jalan yang bagai tumpukan atau lilitan kain di tugu monas yang sedang diurai dengan banyak pendapat dari bawah terowongan jembatan layang jalan toll hingga bedol kota.semua digambarkan dengan jenaka. Tentang pers sendiri digambarkan sebagai pena terbang bergigi pada ujung penanya yang ditunggangi kepentingan mengejar dan seolah akan memakan atau memberangus kebebasan pers. Tentang Demokrasi yang digambarkan sebuah pohon yang di dedaunannya ada ular sedangkan di bawahnya ada seorang ibu-ibu yang menggambarkan sebagai rakyat sambil berkata:” daun mulu kapan buahnya” sambil menadahkan wadah mengharap ada buah jatuh. Masih banyak lagi karya karya yang dibuatnya secara piawai lugas jleb dan jenaka namun tetap santun. Kartun memang bukan obat dewa namun itu sebagai pelipur lara. Kemaestroan Pramono tidak diragukan lagi ribuan karyanya telah puluhan tahun memghiasi halaman media. Kecintaan dan kebanggaan akan dunia kartun ia tekuni puluhan tahun hingga di usia senjanya. Hatinya penuh kegembiraan dan hidupnya bersahaja. Pramono patut diteladani bukan sebatas sebagai maestro saja namun sebagai kepala keluargapun ia menjadi suami dan ayah yang luarbiasa. Kecintaan kepada istrinyapun ia tunjukkan hingga detik ini dg seusia lebih dari 70 tahun masih merawat istrinya yg sedang sakit. Mungkin dirinyapun sdh mulai renta namun hati dan jiwanya bergembira. Ia buktikan kesetiaanya dan cintanya kepada istri dan keluaganya dalam keadaan untung dan malang susah dan senang dalam sehat ataupun sakit dalam hidup dan kehidupannya, spt apa yang ia ucapkan dalam janji perkawninannya. Kondisi rumahnyapun mencerminkan rumah yang tertata rapi bersih refleksi juga dari karya karyanya. Hidup dijalaninya sebagai suatu panggilan atau jalan hidup yang mau tidak mau memerlukan kesetiaan ketekunan untuk piawai dalam menapaki dan mengatasi bernagai hambatan tantangan bahkan ancamam. Menjadi kartunis sarat dengan tekanan di masa orde baru, seolah olah kebebasan berekspresinya dikebiri. Dirinyapun pernah dicari cari anggota tentara dan ia berkelit lalu tidak masuk kantor di rumah selama seminggu. Kelucuan hidup sang kartunis seringkali tidak kalah lucu dan karyanya. Kelakar hidup mungkin menjadi bagian kelucuan karya karyanya. Kartun tidak sebatas membesarkan kepala namun juga memberi nyawa atau meniupkan aura jiwa. Ada salah satu karyanya yg menggambarkan dalang dan wayangnya berwajah raksasa dasa muka dan seolah olah oleh sang dalang raksasa tadi sebagai pahlawan walau menjadi ancaman atau perilakunya kontra produktif. Gambar ini menunjukkan betapa dalang sangat mementukan dan berkuasa. Dari dalang wayang sampai dalang kerusuhan semua memiliki kekuatan apa yg dimainkan itu refleksi dalannya. Wayang tidak mampu berbuat sesuatu tanpa dalang. Dalangnya cakil maka arjunapun bisa dikalahkan buto cakil. Guyon maton Pramono menjadi kelakar kehidupan dalam kritik secara karikatural yang akan menyadarkan menyentil bahkan menyengat dengan senyuman. Semoga yang dikritik tidak marah namun mau berubah.
Panggilan Jiwa Nashar
“Berkesenian ya berkesenian bukan cari makan karena cari makan ya cari makan”
Kalimat di atas menurut saya keras dan menunjukkan kecintaan kebanggaan dan penghayatan atas hidup berkesenian Nashar yang begitu dalam. Ia tidak mempedulikan bagaimana ia mesti mencari makan atau urusan lain. Ia memasrahkan hidupnya untuk melukis, siang malam ia terus melukis dan melukis. Ia menikmati dan menghayati terlihat dalam karya karyanya ada jiwanya yg mengalir dalam karyanya. Getaran- getaran atas torehan warna dan pilihan warna menjari harmoni satu dengan lainnya. Apa yang dikatakan Ayip Rosidi tentang Nashar bahwa ia melukis ya melukis tidak memikirkan untuk laku atau tidak orang lain suka atau tidak. Nashar benar benar mencoba menghayati apa yang ia lakukan dalam melukis.
Pertanyaan dari Chairil Anwar membuatnya terus merenungkan berkaitan dengan masalah penelitian atas jiwa penderitaan. Chairil anwar memuji Nashar rajin menggambar membuat sketsa melukis tentang penderitaan dan dikatakannya juga Nashar cukup peka akan penderitaan, namun apakah sudah meneliti atas jiwa yang sedang menderita. Mungkin itulah yang menjadi spirit dan passion Nashar dalam melukis dan melukis dalam kondisi laparpun ia bisa melukis siang dan malam. Nasharpun terpacu apa kata Affandi untuk terus melukis dan kalau mencari uang ya secukupnya selebihnya gunakan untuk melukis. Nashar yang mulanya oleh Sudjojono tidak berbakat, namun oleh Sudjojono diberi peluang dan kesempatan mencoba lagi bahkan saat diperbolehkan ikut belajar ini membuat
Nashar sadar bahwa jalan hidupnya menjadi pelukis. Ayah Nashar menginginkan ia menjadi insinyur. Namun panggilan jiwanya unyuk menjadi pelukis ternyata jauh lebih besar walaupun pada saat itu menjadi pelukis dalam pandangan orang kebanyakan adalah kesia siaan termasuk juga ayahnya. Menjalani suatu panggilan jiwa itu tidak mudah dan tentu juga sarat atau penuh perjuangan bahkan pengorbanan. Dari berbagai tulisannya Nashar menunjukkan kepiawaiannya menyampaikan pikiran dalam kalimat kalimat. Ia memiliki kekaguman akan Vincent van Gogh pelukis ekspresionis dari Belanda. Iapun berkali kali menunjukkan betapa perjuangan Van Gogh di dalam melukis walaupun hidupnya tragis. Nashar dalam berkarya mengajarkan untuk berdialog mengenal dengan alam lingkungan karena itulah guru sejatinya. Melukis menurutnya memerlukan adanya suatu dorongan dari dalam yang akan menggerakkan jiwa dan inderanya. Melukis baginya benar benar sebagai panggilan jiwanya. Nashar mengajarkan juga jangan terjebak pada kulit kulitnya namun tangkaplah jiwanya. Hal yang absurd tidak mudah untuk dimengerti dan dipahami namun itulah hakekat dari melukis. Mungkin saja kalau nashar menggambar seorang pejabat atau siapa yg ia lukis adalah penderitaannya sebagai manusia. Dari berbagai cerita orang orang yang dekat dengan nashar ia tidak mempedulikan akan karyanya bahkan kadang disuruh membelinya berapa saja harganya.
Nashar bersahabat dengan pelukis Oesman efendi ( OE) dengan pelukis zaini juga pelukis Rusli. Menurut Nashar kebebasan itu dilakukan jangan ada belenggu, maksud Nashar melukis yang ragu ragu atau takut jelek takut tidak disukai terganggu konsep dan teori atau apa saja yg justru tidak lagi membuatnya bebas. Mungkin ini yg membuat Nashar dg prinsip 3 non : non konsep, non teknis dan non estetika.
Karya Nashar menurut Ayip Rosidi aneh berbeda dengan orang lain namun menurutnya enak enak saja dalam karya Nashar. Ayip Rosidi sering membantu Nashar untuk dapat melukis, ia mengoleksi juga karya karya Nashar. Bahkan Ayip Rosidi membangun pondok pesantren Nashar yg dikelola anaknya. Persahabatan Ayip dengan Nashar sering dianalogikan persahabatan antara Theo dengan Van Gogh. Nashar sendiri tidak mempedulikan akan hidupnya walau selalu ada masalah dengan keuangan. Baginya melukis itu nafas dan bagian dari hidupnya. Karya karya banyak tersebar di mana mana.
Apresiasi atas karya dan keteguhan atas perjuangannya tidak sia sia. Ia memilih panggilan jiwa yang benar benar dihayati bukan sekedar ikut ikutan. Sudjojono melihat Nashar sebagai orang yang gigih oleh karenanya terus diberi kesempatan. Bakan bukanlah andalan dalam melukis melainkan dorongan jiwa keberanian dan tekun dalam berproses. Nashar menjadi ikon seniman sejati. Apa yang ia lakukan telah menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban bangsa ini. Nashar sang maestro memberikan keteladanan yang luar biasa bagi para seniman seniman muda dari generasi ke generasi. Panggilan jiwanya telah diikuti hingga akhir hayatnya jasadnya sudah tiada namun jiwa dan karyanya abadi sepanjang masa.
Seni menjadikan manusia manusiawi. Seni merupakan karya jiwa dari manusia yang memiliki imajinasi dan rasa atas karyanya. Di dalam karyanya ada jiwa yang mengalir dari pencipta dan para pelakunya. Seni dilakukan atas dasar kecintaan hingga kebanggaan. Hasrat berkesenian merupakan jiwa manusia sebagai mahkluk sosial. Peradaban dimulai dari seni budaya. Karena di situ manusia mampu mengatasi kendala hidup dan kehidupannya. Manusia adalah mahkluk paling lemah sekaligus paling kuat. Namun untuk mengatasi kelemahannya dan mencapai kekuatannya, ia harus belajar dalam segalanya
Untuk dapat bertahan hidup tumbuh dan berkembang manusia dituntut memiliki kepercayaan diri dan bekerja keras untuk hidup dan kehidupannya. Manusia hidup karena cinta? Tentu saja cinta yang maha kuasa dan cinta manusia itu sendiri akan hidup dan kehidupan. Kecintaan dan kekaguman akan seni merupakan suatu panggilan hati sekaligus kesadaran moral menjaga budaya dan peradaban bangsa.
Seni itu rasa yang berkaitan dengan jiwa yang hidup dalam semua lini kehidupan. Seni ditanamkan dirawat dan ditumbuhkembangkan bukan sekedar ikut ikutan apalagi dipaksakan. Tatkala melihat seni berkaitan rasa dari dialog hingga ada sesuatu yang berkaitan dengan jiwa.
Di situlah kecintaan pada suatu karya seni bagai hati yang membuatnya tertambat hingga mencintainya. Rasa cinta diwujudkan dalam getar getar jiwa pada suatu karya seni menjadi jembatan dan refleksi jiwa penciptanya untuk terus berdialog dengan penikmatnya.
Kata rupa dari mata saya
Bukit Amarta di Hari Sumpah Pemuda 291021
Chryshnanda Dwilaksana
Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.