Indonesia Berdakwah

Merdeka yang Bahagia

Petromax penerang zaman awal merdeka. [Transindonesia.co /cdl]

TRANSINDONESIA.CO | Hidup adalah kesempatan, sekaligus anugerah yang memberi kebebasan. Betulkah demikian? Tatkala memahami kesempatan dari anugerah bebas interpretasinya akan sangat beragam. Apalagi kalau di medsos wah ini dari yang taat aturan sampai yang ugal ugalan nyampur.

Waton muni waton suloyo waton bedo langsung gas. Tatkala kebebasan malah digunakan sebagai ajang ugal ugalan, jag jag an, tidak lagi peduli perasaan orang lain yang penting puas lega merdeka. Namun semua itu tatkala dimintakan pertanggungjawaban nampak aslinya imbas imbis, nangis, minta dikasihani, mimbak mimbik wajah di ekspresikan seakan akan khilaf bahkan sampai merenget rengek minta dimaafkan.

Anugerah bebas tidak dimanfaatkan secara baik dan benar. Hidup malah dimanfaatkan melukai orang lain bukan sebaliknya. Apa ini generasi masa depan bagi lestarinya peradaban? Tatkala hidup hanya jadi unthul munyuk maka setiap ada kesempatan njeplak njeplak pamer tong kosong yang kemlothak bunyinya. Apalagi supdibilheb (supaya dibilang hebat) semua di matanya salah, jelek pokok e asyu kabeh. Apalagi ilmunya pelgun (tempel gunting) copas (copy paste). Seakan dunia ada di dalam telapak tangannya.

Serba serbi hidup dan kehidupan sudah di serap dalam kepalanya. Lihat saja hujat menghujat dan saling serang di media menjadi seolah bangsa bar bar. Lahir iku utusaning batin. Apa yang ada dalam pikiran akan terwujud dari perkataan dan perbuatan bahkan dalam tulisan. Segala sesuatu yang hanya ikut ikutan maka jati dirinyapun seperti ekor tanpa pernah menjadi kepala. Menginthili tanpa tau arah tujuan apalagi sebatas keduman.

Kesadarannya redah selalu menunggu perintah bahkan ada yang menunggu di marah. Jangankan bertanggung jawab atas hidup merdekanya siapa dirinya dari mana dan akan kemana mengisi hidupnyapun penuh keraguan. Tingkat kualitas disiplinnya sulit dikatakan bagus.

Kurang ajarnya kalau kemerdekaan hidupnya digunakan menemukan kebahagiaan dengan penderitaan orang lain. Yang terus menerus dicari hanyalah kesempatan dalam kesempitan, bagaimana menelikung di tikungan, menggunting dalam lipatan dsb.

Merdeka bagi bangsa yang beradab boleh dikatakan bertanggungjawab dan disiplinnya sangat tinggi. Membangun kesadaran dalam mengisi hidup yang merdeka yang membawa manfaat. Hidup menjadi berkat. Urip kudu ono lelabuhane, ora ono lelabuhane ora ono gunane.

Hidup yang dilandasi rasa syukur tanda bisa menghayati dan menikmati atas hidup dan kehidupan apapun suasananya. Bahkan bisa belajar dari segala situasi yang terjadi. Tatkala hidup dipenuhi dengan rasa syukur maka jiwa akan bahagia demikian juga sebaliknya. Hidup merdeka bisa melihat hidup dan kehidupan sebagai anugerah, rasa syukur akan tumbuh, di situlah hidup akan penuh dengan harapan dan bahagia yang juga membahagiakan bagi orang lain.

Bahagia memang sederhana namun tetap memerlukan nyali untuk menemukannya. Harmoni merupakan kunci hidup bahagia. Hidup bahagia dilandasi jiwa yang bahagia dan hati yang bergembira. Jiwa bahagia adalah jiwa merdeka yang melakukan kebaikan dan perbaikan dengan kesadaran sebagai wujud pertanggungjawabannya. Seni merupakan manivestasi jiwa merdeka karena memotivasi, memberi stimuli bukan sekedar ngajari dan tentu tidak ngapusi.

Karipan Sabtu Pagi 161021
Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.