Indonesia Berdakwah

Ketegangan Meningkat di Lebanon Setelah Baku Tembak Mematikan

Gerakan Syiah Amal dan pejuang Hizbullah melintasi tentara Lebanon yang ditempatkan di daerah bentrokan di pinggiran selatan ibukota Beirut, 14 Oktober 2021. [AFP]

TRANSINDONESIA.CO | Sekolah, bank dan kantor-kantor pemerintah di berbagai penjuru Lebanon ditutup pada hari Jumat, setelah baku tembak berjam-jam antara milisi-milisi bersenjata yang menewaskan enam orang dan meneror warga Beirut.

Pemerintah menyerukan hari berkabung setelah bentrokan bersenjata, di mana sekawanan lelaki menggunakan senapan otomatis dan granat berpendorong roket di jalan-jalan ibu kota, mengingatkan pada era terkelam negara itu ketika terjadi perang saudara tahun 1975-1990. Baku tembak itu meningkatkan kekhawatiran mengenai kembalinya kekerasan sektarian di negara yang tengah berjuang melewati krisis ekonomi terburuknya dalam 150 tahun ini.

Kekerasan pecah pada hari Kamis di tengah sebuah protes yang diorganisasikan oleh dua partai Syiah utama, Hezbollah dan Gerakan Amal yang menyerukan dipecatnya hakim ketua yang menyelidiki ledakan besar-besaran di pelabuhan Beirut tahun lalu. Banyak di antara pengunjuk rasa yang bersenjata. Belum jelas siapa yang melepaskan tembakan lebih dulu, tetapi konfrontasi itu segera berubah menjadi baku tembak sengit di sepanjang bekas perbatasan perang saudara yang memisahkan daerah-daerah yang mayoritas penduduknya Muslim dan Kristen di Beirut.

Suara tembakan terdengar selama berjam-jam, dan ambulans bergegas datang untuk membawa korban. Para penembak jitu menembak dari bangunan-bangunan. Peluru-peluru menembus kaca-kaca jendela apartemen di daerah itu. Sekolah-sekolah dievakuasi dan warga bersembunyi di tempat-tempat berlindung.

Kedua kelompok Syiah itu menyatakan para pengunjuk rasa mereka ditembaki penembak jitu yang ditempatkan di atap, seraya menuduh milisi Kristen, Pasukan Lebanon, yang memulai penembakan. Di antara mereka yang tewas, semuanya warga Syiah, adalah dua anggota Hezbollah.

Hari Jumat, warga kawasan Tayouneh di Beirut, di mana sebagian besar pertempuran terjadi, menyapu pecahan kaca dari jalan-jalan di depan toko dan gedung-gedung apartemen. Tentara menjaga di arah masuk permukiman tersebut, dan pagar kawat berduri didirikan di mulut jalan. Banyak mobil yang rusak.

Tayouneh memiliki bundaran besar yang memisahkan permukiman warga Kristen dan Muslim.

Hezbollah dan Amal menyelenggarakan pemakaman bagi anggota mereka yang tewas pada hari Jumat.

Ketegangan mengenai ledakan di pelabuhan itu telah menyebabkan banyak kesulitan di Lebanon, termasuk anjloknya nilai mata uang, hiperinflasi, membubungnya kemiskinan dan krisis energi yang menyebabkan pemadaman listrik berkepanjangan.

Penelitian dipusatkan pada ratusan ton amonium nitrat yang disimpan secara serampangan di sebuah gudang pelabuhan yang meledak pada 4 Agustus 2020. Ledakan itu menewaskan sedikitnya 215 orang, mencederai ribuan orang dan menghancurkan beberapa bagian permukiman di dekatnya. Ini adalah ledakan nonnuklir terbesar dalam sejarah dan semakin menghancurkan negara yang telah dilanda perpecahan politik dan kesulitan finansial.

Hakim Tarek Bitar mendakwa dan mengeluarkan perintah penahanan mantan menteri keuangan Lebanon, yang merupakan anggota senior Gerakan Amal dan sekutu dekat Hezbollah. Bitar juga telah mendakwa tiga mantan pejabat senior pemerintah dengan tuduhan pembunuhan disengaja dan kelalaian yang menyebabkan ledakan itu.

Para pejabat dari kedua partai Syiah itu, termasuk pemimpin Hezbollah Hassan Nasrallah, telah menyerang Bitar selama berhari-hari, menuduhnya mempolitisasi penyelidikan dengan mendakwa dan memanggil beberapa pejabat dan bukan yang lainnya.

Tidak satupun pejabat Hezbollah yang telah didakwa dalam investigasi selama 14 bulan ini. [uh/ab]

Sumber: Voaindonesia

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.