Indonesia Berdakwah

Kebebasan dan Kemerdekaan Komunitas Lima Gunung

Penulis bersama para seniman. [Transindonesia.co /cdl]

TRANSINDONESIA.CO | Kebebasan itu memerdekakan? Sebagai mahkluk sosial bebas merdeka tetap berpegang pada keteraturan sosial. Empan papan, empati, tenggang rasa, saling menghormati hidup tidak menjadi benalu. Hidup membawa manfaat terus produktif inovatif menginspirasi dan memberikan manfaat bahkan berkat bagi orang lain. Bapak Sutanto, (Mas Tanto begitu saya memanggilnya dari th 1985) atau dikenal dengan Tanto Mendut sebagai sesepuh perintis inspirator bahkan menjadi roh komunitas lima gunung (sumbing, merapi, andong, menoreh, merbabu) mengundang saya untuk kongkow kongkow dialog apa saja dalam konunitas lima gunung di Mendut.

Saya menyanggupinya dan tanggal 14 Oktober 2021 baru bisa terlaksana seakan pas ketemu waktunya. Acara yang mak bedunduk seakan disrupsi tiba tiba ada dihadiri para punggawa punggawa lima gunung. Ada bapak Sucoro, bapak Hariatmoko, bapak Umar Chusaini, bapak Supadi, mbak Novia, pematung batu kontemporer lupa namanya, ada penyair dan penggerak seni budaya di lima gunung. Kongkow kongkow ini bisa dikatakan sebagai kegiatan : sharing pengalaman, dialog, diskusi, ngobrol, rapat, bahkan FGD, membicarakan hidup kehidupan masyarakat dalan bingkai seni tradisi yang menjadi budaya. Apa saja dibahas di situ semua seakan bisa cair dibuka secara dengan lagu yang dinyanyikan mbak Novi, pembacaan quote, dimoderatori oleh Mas Tanto sendiri.

Acara spontan apa adanya dengan suasana gembira saling menyampaikan pemikiran dan uneg unegnya dengan gaya masing masing. Komunitas Lima gunung menjadi ruang katarsis pikiran dan jiwa merdeka melalui seni budaya yang inspiratif membebaskan belenggu belenggu yang membekukan membosankan bahkan sarat kepura puraan.

Apa yang di sampaikan santai celelekan sarat guyonan namun ada keseriusan akan apa yang menjadi sesuatu bagi penyadaran dan jalan untuk adanya kebahagiaan menikmati kehidupan. Tentu saja bukan dengan bermalasan, justru sebaliknya mereka menunjukan keberaniannya menjungkirbalikannya. Pementasan dimulai jam 05.00 atau pukul 24.00 atau waktu waktu tertentu untuk membuat aktivitas berkesenian lainnya. Pada masa pandemi covid 19 ini komunitas lima gunung sudah menampilkan kegiatan berkesenian lebih dari 40 kali di berbagai kawasan.

Apakah komunitas Lima Gunung kaya? Iya. Kaya pikiran, kaya hati, kaya inspirasi, kaya teman terutama kanya nyali untuk berkesenian. Mas Tanto dengan gayanya yang bebas lugas ngegas ngerem mengulas sesuatu dengan kata kata jlab jleb tanpa tedeng aling aling. Ini yang membuat komunitasnya merasa mendapatkan kekuatan jiwa kebahagiaan batin penuh tawa canda menjadi friendly satu sama lain tidak baperan bisa menghargai perbedaan walau ada perdebatan. Keakraban ini yang sangat terasa menjadi sahabat teman suka duka bisa saling nuturi dan menjadi tempat curhatan ketika kesusahan melanda. Merdeka jiwa merdeka berpikir merdeka yang tetap beradab dalam membangun sesuatu yang migunani bagi hidup dan kehidupan.

Seni menjadi solusi atas hidup dan kehidupan? Komunitas Lima gunung anggotanya beragam, profesi dan kreasinyapun bermacam macam, ada yang mengkoordinir tukang tukang sayur, petani sayuran dll melalui seni. Seni memanusiakan, membongkar borgol stratifikasi sosial : ndeso kota, akademisi otodidak, kaya miskin, tua muda semua usulannya disetujuinya. Mungkin ini tak lazim bagi komunitas komunitas lainnya. Namun ini sebenarnya memberi ruang bebas berani usul berani mengimplementasikan. Ini pendidikan penyadaran tanggung jawab dan ora waton suloyo, waton njeplak, tinggal glanggang colong playu. Bagaimana mereka mengimplementasikan seninya seakan mbanyu mili saja berjalan apa adanya. Mereka berbasis kecintaan kebanggaan. Tak lagi memikirkan seremonialan berlebihan. Kasta kasta pembuntu otak hati dan penyebab jiwa baper memang dihanyutkan di sungai sungai yang mengalir di Lima gunung.

Apa yang saya tulis bukan untuk menjilat atau menyenang nyenangkan atau kepura puraan melainkan sesuatu apresiasi yang tinggi bagi suatu wadah bagi jiwa dan pikiran manusia merdeka yang sadar hidup ini bahagia. Hidup sarat sesuatu yang patut disyukuri dihayati dengan rasa bahagia. Salut saya merasakan dalam 2 jam setengah merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajah jiwa jiwa merdeka dengan tulus telah menginspirasi saya. Seni memang semlempit mlempit ada disemua gatra di semua lini yang mampu ditangkap dihayati dan ditampilkan komunitas lima gunung yang menjadi katarsis untuk hidup bahagia guyub rukun penuh empati dan berbelarasa mengangkat harkat martabat manusia untuk semakin manusiawinya manusia.

Maturnuwun Mas Tanto dkk Lima Gunung. Sungguh luar biasa rahayu…..Berkah Dalem Gusti.

Lembah Gunung Andong 15 Oktober 2021
Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.