Indonesia Berdakwah

Sejak Taliban Berkuasa, Semakin Banyak Jemaah Salat di Masjid

Pria Afghanistan berjalan di sebuah masjid di Herat, Afghanistan, 10 September 2021. (Foto: WANA/West Asia News Agency via Reuters)

TRANSINDONESIA.CO | Kini muncul imbas lain dari konflik yang berkembang di Afghanistan setelah berkuasanya kembali Taliban. Orang-orang, terutama laki-laki Muslim, kembali beribadah dan meramaikan masjid-masjid. Jumat lalu, perubahan itu tampak nyata.

Taliban kembali merebut kekuasaan di Afghanistan sejak 15 Agustus setelah merebut Ibu Kota Kabul secara damai. Pemerintahan Afghanistan dengan sendirinya ambruk karena ditinggal pergi presidennya, Ashraf Ghani ke Uni Emirat Arab.

Pasukan Amerika dan sekutu resmi meninggalkan Afghanistan setelah 20 tahun berperang di negara itu di ujung 30 Agustus, satu menit menjelang tanggal berganti menjadi 31 Agustus, yang telah ditetapkan Presiden Amerika Joe Biden sebagai tenggat untuk menarik keluar pasukannya dari sana.

Begitu Taliban kembali berkuasa, banyak orang Afghanistan takut kelompok yang belum diakui Amerika dan negara-negara Barat itu akan menerapkan ajaran Islam yang taat. Banyak orang Afghanistan menolak pemberlakuan hukum Islam dan mereka trauma atas pemerintahan Taliban sebelumnya selama lima tahun, dari 1996 sampai pasukan Amerika menggulingkan kekuasaan mereka pada 2001.

Orang-orang yang trauma pada Taliban kemudian memutuskan keluar dari Afghanistan bersama orang-orang asing, yang secara bergegas meninggalkan negara itu. Mereka yang tidak terangkut pergi atau tidak bisa pergi bertahan dengan diliputi kecemasan dan rasa was-was.

Namun di luar itu, ada imbas lain dari konflik di Afghanistan pasca keluarnya pasukan Amerika dan pasukan asing lainnya dari negara itu. Bagi Muslim Afghanistan yang taat, mereka lega karena kini bisa kembali menjalankan perintah agama dengan beribadah ke masjid.

Pada Jumat, 3 September, Jumat pertama sejak pasukan Amerika hengkang dari Afghanistan, masjid-masjid di Kabul ramai dihadiri jemaah. Pada hari itu, ratusan jemaah menghadiri salat Jumat.

Seorang penduduk Kabul yang baru saja keluar dari masjid seusai mengikuti salat berjemaah, mengatakan:

“Dulu, sangat sedikit orang yang datang ke masjid karena takut menjadi korban pencopetan. Mungkin hanya ada sekitar 15 orang di masjid untuk mengikuti salat Subuh. Di beberapa masjid, jumlah jemaah salat Subuh mungkin jauh lebih sedikit. Sekarang jumlah jemaah sedikit meningkat tetapi orang masih takut. Semua orang mengajukan pertanyaan yang sama: Apakah Taliban sudah datang?”

Sebelumnya, para jemaah mengungkapkan, jumlah orang yang menghadiri salat di berbagai masjid di negara itu sangat sedikit. Begitu Taliban kembali, jumlah jemaah meningkat perlahan. Setidaknya di Kabul, menurut mereka, ada alasan utama yang mendorong kenaikan jumlah jemaah, insiden pencopetan selama salat spontan berhenti sejak Taliban merebut kota itu.

“Dulu orang-orang juga datang ke masjid, dan mereka datang dalam jumlah besar, tetapi sekarang jumlah itu meningkat lagi. Madrasah juga telah dibuka kembali. In Syaa Allah, efek (rezim Taliban) terhadap ulama dan orang-orang biasa akan meningkat. Pencurian dan penipuan dalam bisnis juga akan diberesi,” ujar penduduk lain, Zakir Ullah,

Taliban belum membentuk pemerintahan, meskipun mereka sudah hampir sebulan resmi kembali berkuasa. Pemerintahan mereka sebelumnya ditandai dengan hukuman yang keras. Mereka juga melarang anak-anak perempuan bersekolah dan melarang kaum perempuan kuliah atau bekerja.

Banyak orang Afghanistan dan pemerintah asing khawatir Taliban kembali akan menerapkan praktik seperti itu. Taliban menyatakan bahwa mereka telah berubah tetapi tidak jelas apa maksud perubahan itu dan sejauh ini mereka belum menjelaskan peraturan yang akan mereka terapkan.

“Kami adalah pekerja, tetapi sejak Amir Muslim (Taliban) datang, kami tidak bekerja. Kami meminta mereka secara resmi segera mengumumkan pemerintahan dan membuka lapangan pekerjaan,” ujar penduduk Kabul, Jan Agha,

Badan-badan bantuan mengatakan Afghanistan menghadapi bencana kemanusiaan di tengah krisis ekonomi yang disebabkan oleh konflik, kekeringan, dan pandemi COVID-19. Sekitar 18 juta warga Afghanistan – kira-kira setengah dari populasi – sudah membutuhkan bantuan kemanusiaan, menurut para ahli Uni Eropa. [ka/jm]

Sumber: Voaindonesia

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.