Indonesia Berdakwah

Mahabarata: Refleksi Hidup dan Kehidupan dan Karma dampak Tabur Tuai

Kisah Mahabarata. [Google]

TRANSINDONESIA.CO | Mahabarata sarat pelajaran akan kehidupan dari keutamaan sampai karma. Hukum tabur tuai berlaku dan berdampak bagi hidup dan kehidupan. Kisah dari kerajaan Hastinapura dengan Raja Sentanu yang memiliki kegemaran berburu yang bertemu dengan Dewi Gangga. Sebenarnya Dewi Gangga merupakan bidadari yang telah terikat janji dengan para wastu untuk membantu reinkarnasinya.Janji Raja Sentanu kepada Dewi Gangga yang dilanggar saat kelahiran Bisma atau Dewabrata. Dewi Gangga kembali ke swargaloka dan Bisma diasuh Raja Sentanu.

Raja sentanu beberapa tahun kemudian bertemu dan jatuh cinta dengan Dewi setyawati. Persyaratan berst yang meminta anak keturunannya harus menjadi raja Hastina pura. Bisma akhirnya bersumpah untuk tidak menjadi raja dan tidak menikah seumur hidup
ODampak keserakahan dan ketidakpuasa Setiyawati sebenarnya sudah diberi banyak tanda namun ia terus memaksa. Bisa dilihat dari kisah Citragada dan Wicitrawirya
Yang menjadi raja Hastinapura namun tidak berumur panjang

ABIYASA dikenal pula dengan nama Resi Wiyasa (Mahabharata). Ia putra Resi Palasara dari pertapaan Retawu, dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basuketi, raja Wirata. Untuk mengisi kekosongan tahta kerajaan Astina karena meninggalnya Prabu Wicitrawirya, Abiyasa diboyong oleh dewi Durgandini ke Astina dan dijadikan raja dengan gelar Prabu Kresnadwipayana. Dewi Ambika janda Prabu Citragada dan Dewi Ambiki/Ambalika janda Prabu Wicitrawirya kemudian dikawinkan dengan Abiyasa. Dari perkawinan tersebut Abiyasa memperoleh dua orang putra, yaitu ; Drestarasta dari Dewi Ambika, dan Pandu dari Dewi Ambiki. Abiyasa juga kawin dengan Dewi Datri, penyanyi kidung Weda di pertapaan Srungga, dan berputra Yamawidura.
Setelah menobatkan Pandu menjadi raja Astina, Abiyasa kembali ke pertapaan Retawu.

Destrarata kakak dari Pandudewanata menikah dengan dewi Gandari adik patih sangkuni memiliki anak 101 , 100 orang laki laki dan 1 orang perempuan. Destrarata penuh dengan emosi yang tidak stabil, memanjakan anak anaknya ( para Kurawa). Terutama kepada Duryudana yang berdampak pada perilaku tamak dan serakah dan licik.

Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madrim. Akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran. Maka kijang tersebut mengeluarkan (Supata=Kutukan). Kutukan itu menyatakan bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri. Dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa. Pandu bermohon agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira. Kemudian Batara Guru mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti shingga lahirlah Harjuna. Lalu Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima. Dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa.Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa

Pandawa banyak mengalami masa kecil yang penuh ketidak adilan dan perlakuan kasar dsri para Pandawa. Para Pandawa pada akhirnya bersikeras kalau Hastinapura adalah kerajaan hak mereka. Dhristarastra adalah Raja Dinasti Kuru menggantikan adiknya Pandudewanata. Tetapi, karena kebutaannya, dia hanyalah Raja boneka. Statusnya boleh sebagai Raja, tetapi Pandu lah yang berjasa memenangkan dan memperluas wilayah Hastinapura.

Hal ini menjadikan Pandawa lebih dipandang oleh rakyat seluruh Hastinapura dibandingkan dengan putera-putera Kaurawa. Bukan hanya itu, rakyat Hastinapura lebih suka jika para pangeran Pandawa yang memerintah Hastinapura. Dan sebagai anak tertua dari Pandu, Yudhisthira yang seharusnya menjadi penerus Pandu. Dhristarata menyadari hal ini sehingga dia menunjuk Yudhisthira sebagai putera mahkota kerajaan Hastinapura.
Duryodhana sangat terkejut mendengar bahwa Yudhisthira telah diangkat sebagai putera mahkota Kerajaan Dinasti Kuru. Dia lalu menghadap ayahandanya, Dhristrastra – Sang Raja yang Buta itu. Dia mengatakan bagaimana bisa seorang ayah melupakan hak dari anaknya. Dia mengingatkan bahwa dialah putera dari seorang Raja. Seharusnya dialah yang diangkat menjadi Putera Mahkota. Bukan anak orang lain.

Duryudana merasa resah dan iri demgki atas penobatan Pandu sebagai raja Hastinapura. Sangkuni paman Kurawa berusaha untuk melenyapkan Pandawa untuk kesekian kalinya. Usaha ini hampir saja berhasil.
Namun, pada akhirnya Pandawa berhasil selamat dari kelicikan Kurawa. Pandawa senantiasa diberikan keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa karena Pandawa selalu memegang teguh kejujuran kebenaran dan keadilan dalam hidupnya.

Kisah ini menceritakan sayembara memperebutkan Dewi Drupadi, putri sulung Prabu Drupada. Sayembara berupa adu keterampilan memanah, serta pertandingan melawan Arya Gandamana. Dalam sayembara ini Arya Gandamana gugur dan sempat mewariskan ilmunya kepada para Pandawa. Adapun Dewi Drupadi akhirnya menjadi istri Raden Puntadewa dalam versi india Drupadi bersuamikan ke lima Pandawa.

Drupadi dalam Mahabharata dikisahkan bahwa ia dan Drestadyumna tercipta dari api yadnya yang diselenggarakan Drupada. Arjuna, salah satu anggota Pandawa memenangkan sayembara dan Drupadi menikahi lima Pandawa karena kesalahpahaman Kunti, ibu para Pandawa. Setelah melaksanakan upacara Rajasuya, Yudistira diundang untuk bermain judi di Hastinapura. Ia gagal memenangkan pertaruhan sehingga kehilangan seluruh hartanya, termasuk Dropadi. Akhirnya Dropadi dihina di balairung istana Hastinapura oleh para Korawa, Sangkuni, dan Karna. Saat Dursasana hendak menelanjanginya, Kresna turun tangan secara gaib dan berhasil menyelamatkannya. Dewi Drupadi merupakan salah satu tokoh perempuan yang ada di dalam cerita Mahabharata. Dewi Drupadi merupakan simbol wanita yang setia, serta tahan banting terhadap semua jenis penderitaan, walau sebenarnya dia puteri raja. Ia seorang putri cantik jelita, luhur budinya, bijaksana, sabar dan teliti serta setia.
Kitab Wanaparwa menceritakan kisah Drupadi yang hidup dalam masa pengasingan di hutan selama 12 tahun bersama para suaminya, setelah Yudistira kalah bermain judi. Dalam Wirataparwa, Drupadi menjalani masa penyamaran di kerajaan Matsya selama setahun bersama para suaminya, sebelum kembali ke Hastinapura. Setelah Drupadi dan Pandawa kembali ke Hastinapura, para Korawa tidak mau menyerahkan apa yang semula menjadi milik para Pandawa, sehingga meletuslah perang besar di Kuruksetra. Pada akhir kisah Mahabharata, diceritakan bahwa para Pandawa dan Drupadi bersuluk dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat suci, dengan tujuan akhir Himalaya. Di perjalanan, Drupadi merupakan orang pertama yang meninggal dunia.

Setelah kejadian pembakaran Pandawa dan ibunya Kunthi dalam epos Mahabarata, akhirnya Hastina dibagi wilayah untuk Pandawa. Pandawa meminta wilayaj yang bernama Kandawaprastha merupakan daerah itu kering kerontang. Tidak ada manusia yang dapat hidup di sana . Terlebih, Raja Ular Taksaka berdiam dan menguasai kawasan itu.
Kandawaprastha menjadi wilayah pilihan para Pandawa tatkala Kerajaan Hastinapura harus terbelah. Pembelahan itu menjadi resolusi atas situasi politik nan pelik di mana dua saudara sepupu, Pandawa dan Kurawa, saling klaim hak atas takhta. Menaklukkan Kandawaprastha bukan hal mudah bagi para Pandawa. Mereka harus bersusah payah. Arjuna, kesatria tangguh dalam hal menarik tali busur, harus berjibaku menandingi Dewa Indra, sang pelindung Tatsaka. Sejatinya pertarungan itu pertandingan ayah dan anak. Dalam riwayat lain, Arjuna merupakan titisan Dewa Indra. Arjuna pun bersikukuh. “Sebagai keturunan Indra aku tidak akan mundur. Akan kubuktikan keturunan Indra memang pandai memanah.” Perkatan Arjuna meluruhkan Indra. Perang tanding itu pun terhenti. Bahkan Indra membantu Pandawa membangun ibu kota pemerintahannya. Atas peran Dewa Indra dan sebagaimana janji Krisna kepada Indra, kota itu pun bernama Indraprasta. Indraprasta menjadi kerajaan makmur. Kemajuan itu menyulut iri hati para Kurawa untuk menguasai. Atas saran Sengkuni, permainan dadu menjadi siasat meraih Indraprasta.

Dikisahkan, anak tertua Pandawa, karena Yudhistira alias Puntadewa kalah bermain dadu dengan Kurawa Pandawa harus kehilangan negaranya. Tak hanya itu, kekalahan Yudhistira juga mengakibatkan harta kekayaan, kerajaan bahkan kebebasan diri dan keempat saudaranya terenggut oleh Kurawa. Bahkan Drupadi, sebagai pertaruhan yang paling akhir.Dengan kelicikan Sengkuni, Kurawa berhasil memenangkan taruhan tersebut dan akhirnya Drupadi jatuh ke tangan Dursasana, yang berusaha melecehkannya dengan cara menarik pakaiannya. Atas kemurahan hati para Dewa, kain Drupadi yang ditarik Dursasana tidak pernah habis dilucuti.
Di situlah sumpah Bima untuk membunuh semua kurawa, meminum darah Dursasana dan meremukkan paha Duryadana. Dan Dupadi tidak menggelung rambutnya sebelum keramas dengan darah Dursasana. Akhirnya, Kurawa membuat perjanjian dengan Pandawa, bahwa mereka harus diasingkan dan menyamar selama 13 tahun tanpa ditemukan oleh para Kurawa. Tatkala selama masa pemgasingan itu Kurawa dapat menemukan Pandawa maka harus diulang kembali masa pengasingan itu.

Pembuangan dan Penyamaran Pandawa
Ketika para Pandawa harus bersembunyi selama setahun lagi dengan menyamar tanpa ketahuan, setelah mereka dibuang selama duabelas tahun di hutan gara-gara kalah berjudi dengan Korawa. Pandawa dan Drupadi menyamar ke Kerajaan Wirata. Jika mereka ketahuan, maka harus dibuang selama 12 tahun lagi. Di Wirata Yudistira menyamar sebagai seorang brahmana bernama Kangka. Bima menyamar sebagai seorang juru masak dan pegulat bernama Balawa. Lalu Arjuna menyamar sebagai seorang wandu yang mengajar tari dan nyanyi bernama Wrahanala. Nakula menjadi seorang penggembala kuda bernama Grantika dan Sadewa menjadi penggembala sapi bernama Tantipala. Drupadi menjadi seorang perias bernama Sarindri, melayani ratu Sudesna.
Patih Wirata, Kicaka jatuh cinta kepada Sarindri dan ingin menikahinya. Tetapi ia ditolak dan memaksa. Lalu Balawa membunuhnya. Hal ini hampir saja membuat samaran mereka ketahuan. Kematian Kicaka didengar oleh raja Susarma dari Trigarta yang kemudian datang membujuk para Korawa menyerbu Wirata yang dalam keadaan sangat lemah. Lalu negeri Wirata diserang para Kurawa dari Hstinapura. Para Pandawa ikut berperang membela Wirata. Serangan Kurawa gagal, mereka kalah oleh orang-orang yang tidak dikenal dan membuat mereka curiga. Setelah perang usai, kedok Pandawa terbuka. Tetapi mereka sudah bersembunyi genap selama setahun, jadi tidak apa-apa. Wirataparwa diakhiri dengan kisah perkawinan Abimanyu, anak Arjuna, dengan Utari, puteri raja Wirata.

Baratyudha menceritakan perang keluarga antara Pandawa dan Kurawa.
Perang besar berlangsung 18 hari. Menurut cerita, korban yang jatuh bukan main besarnya, yaitu 9.539.050 jiwa belum termasuk para panglima perang ( senapati ) serta korban yang berujud binatang-binatang pembantu perang seperti gajah, kuda dan sebagainya.

Sebelum perang besar dimulai Arjuna ragu karena melawan kakeknya gurunya dan saudara saudaranya. Basudewa Krisna menasehati Arjuna. Nasehat nasehat berisi kebijaksanaan dan pelajaran hidup yang dikenal dengan Bhagawadgita. Dialog Basudewa Krishna yang menunjukkan personalitas Tuhan Yang Maha Esa menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang menjadi pendengarnya. Secara harfiah, arti Bhagavad-gita adalah “Nyanyian Sri Bhagawan” (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi, kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan).
pada saat itu.

Dalam Baratayudha panglima andalan Kurawa adalah Bisma yang agung. Ia juga merupakan kakek dari Pandawa maupun Korawa. Semasa muda ia bernama Dewabrata (Dewanagari), tetapi berganti nama menjadi Bisma semenjak bersumpah bahwa ia tidak akan menikah seumur hidup. Bisma ahli dalam segala senjata peperangan dan sangat disegani oleh Pandawa dan Kurawa. Bisma gugur dalam sebuah pertempuran besar di Kurusetra oleh panah dahsyat yang dilepaskan oleh Srikandi yang disusupi arwah Dewi Amba. Yang dalam kisah sebelumnya kecewa hingga mati akibat penolakan Bisma. Dalam kitab Bhismaparwa dikisahkan bahwa ia tidak meninggal seketika. Ia sempat hidup selama beberapa hari dan menyaksikan kehancuran para Kurawa. Bisma menghembuskan napas terakhirnya saat garis balik matahari berada di utara (Uttarayana).

Setelah Bisma gugur Begawan Durna menjadi andalan Kurawa. Kekuatan fisik dan keahlian bertanding ditopang dengan kesaktian yang tinggi, belum menjamin sebagai suatu kekuatan yang prima tanpa ditunjang aspek kejiwaan seperti ketenangan, ketahanan mental dan kewaspadaan atin. Maha resi / Begawan / Guru Durna seorang pakar straegi perang dan ahli menggunakan senjata masih terpancing oleh berita provokasi hingga terpecah konsetrasinya melemah daya juangnya. Ini terjadi dalam perang barata ketika bertarung dengan Pandawa bekas muridnya.

Kesaktiannya tak tertandingi, hanya Arjuna yang sanggup menyaingi walau pasukannya tetap tak memperoleh kemajuan. Krisna yang mengawasi dari jauh cukup waspada, bahwa Dorna sulit ditandingi dengan cara biasa. Satu-satunya cara untuk dapat melemahkan daya juangnya harus dibohongi, seolah-olah anak tunggalnya Aswatama yang sangat dikasihi telah mati di medan laga. Kebetulan ketika itu di medan perang Prabu Gardapati tengah bertarung dengan mengendari gajahnya yang kebetulan namanya Estitama. Segera Krisna menyuruh Bima membunuh raja dan gajahnya dan kemudian menyebarkan berita bahwa anaknya telah mati, tetapi tidak dengan nama Estitama melainkan dengan nama Aswatama mati.

Berita itu digemakan pula oleh para prajurit dengan teriakan: “Aswatama mati… Aswatama mati!”. Gema berita itu sampai ke telinga sang resi dan seketika ia tersentak seraya berucap: “hah, anakku mati? Ah, tidak, tidak, tak mungkin, dia gagah sakti,” ucapnya setengah tak percaya.

Guru Durna bertanya kepada Yudistira. Belum sempat Samiaji / Yudistira menjawab, Guru Durna telah datang dan berkata: “Angger, bumi dan langit menjadi saksi, bahwa angger adalah mustikaning manusia yang anti untuk berbohong. Angger akan mengatakan putih pada yang putih, dan hitam pada yang hitam tanpa direkayasa apa pun. Nah, kini aku sangat membutuhkan jawaban yang murni semurni sikap dan watak angger dengan sebuah pertanyaan: “Benarkah anaku Aswatawa sudah mati?” tanyanya harap-harap cemas.

Pandu putra menjawab: “Guru , Esti Aswatama sudah mati.” Hanya dalam mengatakan Esti sangat perlahan hampir tidak terdengar, tetapi jawaban itu sudah cukup bagi Guru Durna untuk mempercayainya. Seketika itu ia terpaku bagai patung. Air mata meleleh menyusuri celah-celah pipi yang keriput seraya berucap tersendat: “Duh anakku, kini aku sadar, bahwa manusia itu ada tapi tidak sempurna. Memang kita berada di pihak yang salah dan salah akan kalah. Kini aku rela untuk mati menyusul engkau anakku,” ujarnya sangat memelas. Tiba-tiba Drestajumena sesumbar menantang Durna ingin membalas kematian ayahnya, Drupada. Sementara di angkasa Sukma Ekalaya juga siap akan memebalas atas kematiannya akibat ibu jarinya dipotong oleh Durna, sewaktu adu ketangkasan melepas anak panah dengan Arjuna. Maka masuklah sukma Ekalaya ke dalam tubuh Drestajumena, hingga satria Pancala itu menjadi berignas.
Gendawa dan jemparingnya ditaruh dan ia bersidakep sinuku tunggal meleng anteng mengheningkan cipta kepada Dewa Wisnu.
Tak lama kemudian dari tubuhnya keluar cahaya menyilaukan, sukmanya melayang munggah ke alam nirwana disambut dewa apsara dan dewi apsari sambil menaburkan wewangian. yang tinggal hanya jasadnya terpaku bagai patung. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa dia telah tiada. Tiba-tiba Drestajumena dengan pedang di tangannya menghampiri dan menebas kepala sang Guru hingga menggelinding jatuh ke bumi. Para Pandawa sangat menyesalkan tindakannya. Tetapi Krisna menjelaskan, bahwa maha resi adalah manusia yang bijaksana dan banyak jasanya, tetapi tak lepas dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Mungkin kejadian itu sebagai hukumannya.

hari ke-17 Perang Bharatayudha, disitulah saatnya raja Angga Karna bertanding melawan Arjuna, sebagai panglima atau Senapati, Karna memiliki misi khusus untuk membunuh Arjuna di hari itu juga untuk memastikan kemenangan pihak Kurawa, sedangkan Arjuna wajib membunuh Karna sebagai langkah utama dalam misi Bima membunuh Duryudana, karena Karna adalah pelindungnya. Di tengah dilema yang sudah dialami Karna, pada akhirnya panah pasupati Arjuna berhasil menembus leher Karna dan membuat sang Ksatria Suryaputra gugur sebagai pahlawan kebenaran, karena mengorbankan nyawanya untuk kejayaan Pandawa.

Di Kurusetra tampak ribuan manusia menggelepar ambruk di tanah.Prabu Salya tersenyum menyaksikan kejadian yang mengerikan itu. Tujuannya adalah, menunggu lawan seimbang yang akan dimajukan oleh pihak Pandawa. Ajian pamungkasnya itu dikeluarkan semata-mata untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia tahu, bahwa ajian Candrabirawa miliknya itu tentu ada yang bisa menangkalnya. Namun, Yudhistira yang mampu menandingi kakek Nakula dan Sadewa. Prabu Salya mendapatkannya dari Resi Bagaspati, mertuanya, dan mertuanya itu memperolehnya dari wejangan arwah Sukrasana saat dia bertapa.”
“Hanya manusia yang berjiwa tenanglah yg sanggup menghentikan.”Dada Prabu Salya bergetar ketika Yudhistira maju dihadapannya dalam jarak beberapa puluh meter dalam sikap menyebah sebagai tanda bakti dan hormat.

Prabu Salya menggelepar dan seketika dia tersungkur tewas. Pasukan manusia kerdil tak kasat mata yang sedang menyerang semua orang itu menjadi terkejut dan menghentikan perbuatannya.Tampaklah manusia dengan sinar suci berdiri, dengan tenang hingga membuat mereka menjadi lemah dan akhirnya musnah.Sejak kematian prabu Salya itu maka berangsur-angsur wabah aneh itu lenyap.

Berkali kali senjata senjata Pandawa mengenai badan Sangkuni namun, tidak satupun dapat melukainya. Bahkan masih melepaskan banyak sekali panah ke arah Arjuna dan Sangkuni berhasil mematahkan serangan panah Arjuna. Bima mencegat kereta perang Sangkuni. Dan memaksa Sangkuni turun dari Kereta perang.Terjadilah perkelahian antara Bima dan Sangkuni Berkali-kali Bima memukul badan Sangkuni dengan Gada Rujakpolo. Namun Sangkuni hanya ketawa-ketawa, seolah tidak kesakitan.
Bima kelelaham menghadapi Sangkuni. Tiba-tiba Bina ingat, bahwa kulit Sangkuni amat licin, dan peluhnya berbau lengo tolo (mungkin, minyak tanah), ini niscaya ada hubungannya waktu Kurawa dan Pandawa masih kecil bermain di sumur bau tanah menemukan cupu lengo tolo milik kakek Abiyasa yang berisi minyak kesaktian. Yang kesudahannya lengo tolo diambil Sangkuni dan dilumurkan keseluruh tubuhnya. Bima meraih leher Sangkuni, kemudian dihimpitnya dengan lengannya besar lengan berkuasa kuat, sehingga lehernya tercekik, dan mulutnya pun membuka lebar kehabisan napas. Bima memasukkan kuku Pancanaka kedalam mulut Sangkuni dan dengan mudah dirobek robeknya hingga kedalam leher dan menembus ke jantungnya. Sangkuni masih hidup. Ia mengerang kesakitan. Krisna meminta Bima dapat menyempurnakan kematiannya. Bima membuat Sangkuni terkelupas kulitnya, dan Sangkuni pun Gugur.

Perilaku buruk Dursasana yang sering menghina para Pandawa semakin memperburuk keadaan. Terlebih ketika Para Pandawa berhasil membangun sebuah istana yang megah yang diberi nama Indraprastha, dan berkat bantuan Sangkuni, Kurawa berhasil mendapatkan istana megah itu melalui permainan dadu. Meski kehilangan kerajaannya namun Yudhistira tetap masuk dalam perangkap Sangkuni, ia justru mempertaruhkan adik-adiknya dalam permainan dadu tersebut, termasuk juga mempertaruhkan sang isteri Drupadi setelah adik-adiknya kehilangan kemerdekaan akibat kalah taruhan.Drupadi menolak dijadikan sebagai taruhan dan menolak keluar dari kamarnya, meskipun sang suami telah kalah taruhan dalam permainan dadunya itu. Akibatnya Duryudana pun murka dan menyuruh adiknya Dursasana untuk menyeret Drupadi kehadapannya. Dengan kasar, Dursasana menjambak rambut Drupadi sambil terus menyeretnya ke ruang sidang tempat berkumpulnya pada petinggi Hastinapura termasuk Bisma, Drestarata, Widura, Durna, dan lain-lainnya yang hanya menjadi penonton dan diam saja melihat perlakuan tidak adil tersebut.

Duryudana yang pernah dipermalukan oleh Drupadi pun membalas semua hinaan yang pernah diterimanya dari Drupadi dengan cara mempermalukan Drupadi di depan umum. Ia menyuruh Dursasana untuk melucuti gaun yang dikenakan Drupadi. Namun berkat bantuan Sri Krishna gaun Drupadi tidak bisa dilucuti, tetapi justru semakin ditarik gaunnya semakin banyak pula gaun yang menutupi tubuh Drupadi.

Akibat peristiwa tersebut Drupadi bersumpah tidak akan menggulung rambutnya sebelum dicuci dengan darah Dursasana, begitu juga Bima yang bersumpah akan memotong kedua tangan Dursasana lalu meminum darahnya.

Sumpah Drupadi dan Bima akhrinya tersampaikan dalam peperangan di Kurukshetra yang terkenal sebagai Perang Bharatayuddha. Pada hari ke-enam belas, Dursasana gugur di tangan Bima setelah Bima memotong kedua tangannya dan menghancurkan dadanya lalu mengambil darah dari jantungnya untuk diminum dan diberikan pada Drupadi sebagai pelunasan sumpah Drupadi yang akan mencuci rambutnya dengan darah Dursasana.

Menurut kepercayaan Hindu, Duryudana merupakan penjelmaan dari Iblis Kali. Ia diceritakan bersikap layaknya seorang kesatria, tetapi mudah terpengaruh hasutan Sangkuni, yaitu pamannya yang licik dan suka memprovokasi pihak Kurawa dengan pihak Pandawa (anak-anak Pandu), sepupu para Kurawa. Selain itu, Duryudana terbiasa dimanjakan oleh kedua orangtuanya. Dengan belajar ilmu bela diri dari gurunya, yaitu Krepa, Drona, dan Balarama/ Baladewa, Duryidana menjadi sangat kuat dengan senjata gada, dan setara dengan Bima, seorang Pandawa yang hebat dalam kekuatan fisik. Perseteruannya dengan para Pandawa berujung kepada perang besar di Kurusetra, yang juga dikenal sebagai Bharatayuddha. Dalam perang, bendera keagungannya berlambang ular kobra. Ia dikalahkan oleh Bima pada pertempuran hari kedelapan belas karena pahanya dipukul dengan gada.

Setelah perang Bharatayuda selesai, hampir seluruh ksatria Kurawa dan putra Pandawa banyak yang gugur dan binasa karena dasyatnya perang dipadang kurusetra. Aswatama sang putra Resi Drona yang harus memupuk dendam seorang diri, dendam yang harus membayar lunas karmanya. Di kisahkan Aswatama merupakan perwujudan salah satu dari delapan Dewa Rudra dan juga merupakan salah satu dari tujuh Ciranjiwin (mahluk yang abadi) yang dikutuk untuk hidup selamanya tanpa rasa cinta setelah melakukan pembunuhan terhadap lima putra Pandawa dan mencoba membunuh janin yang dikandung Utari istri Abimanyu.

Aswatama pernah berjanji kepada Duryudana bahwa ia akan membunuh para Pandawa untuknya. Dengan liciknya ia menyelinap secara diam-diam ke dalam perkemahan Pandawa pada tengah malam, dan ketika melihat lima orang yang tertidur pulas di kemah para Pandawa ia pun segera membunuhnya dengan membabi buta.
Ia tidak tahu bahwa orang-orang yang ia bunuh itu bukamlah para Pandawa, melainkan kelima orang putra Pandawa dari Drupadi (Pancawala). Selain berhasil membunuh lima anaknya itu, Aswatama juga berhasil membunuh Drestadyumna, Srikandi, Utamauja, dan para pimpinan pasukan yang masih hidup. Pandawa yang mengetahui hal itu menjadi sangat murka dan segera memburu Aswatama sampai akhirnya terjadi pertarungan dengan Arjuna.
Dalam pertarungan tersebut Aswatama memanggil senjata Brahmastra.
Dengan Brahmastra ia mencoba menyerang Arjuna, dan Arjuna pun membalasnya dengan menggunakan senjata yang sama. Krisna yang mengetahui hal tersebut segera datang untuk menengahi keduanya, ia merasa Khawatir akan dampak yang timbul jika kedua senjata pamungkas itu beradu, itu artinya kehancuran bagi dunia. Ia menyuruh mereka berdua untuk memanggil senjatanya kembali. Arjuna berhasil memanggil Brahmastranya akan tetapi Aswatama tampaknya tidak mempunyai pengetahuan bagaimana memanggil senjatanya itu kembali sehingga pilihannya adalah menggunakan senjatanya itu.
Aswatama yang masih dendam dengan Pandawa akhirnya berkata bahwa ia akan menghancurkan keturunan terakhir Pandawa, dan senjata itu pun melesat menuju rahim para wanita dalam keluarga Pandawa, salah satunya adalah Utari istri Abimanyu yang tengah mengandung.

Akibat senjata itu janin yang dikandung Utari meninggal karena terbakar di dalam perutnya, namun Kresna berhasil menghidupkannya kembali. Karena perbuatannya itu Kresna kemudian mengutuk Aswatama aswatama dengan penderitaan yang harus dijalaninya seumur hidupnya. Karena kutukan tersebut Aswatama menderita Kusta, dan seketika itu pula permata yang ada di dahinya lepas dan membuat tubuh Aswatama mengeluarkan bau yang sangat busuk dari setiap pori-porinya, dengan kondisi tersebut ia akan merasakan hinaan, dan cercaan dari manusia yang melihatnya sampai akhir zaman Kaliyuga

Riwayat Parikesit terutama tercatat sebagai legenda dalam Mahabharata dan Purana. Dalam Mahabharata disebutkan bahwa ia merupakan putra Abimanyu dan Utari, dan merupakan cucu Arjuna. Ia menjadi penerus kakeknya, Yudistira yang bertakhta di Hastinapura, ibukota Kuru. Menurut Mahabharata, ia memerintah selama 24 tahun dan wafat saat berumur 60 tahun. Pada suatu legenda dalam kitab Adiparwa dan Bhagawatapurana, diceritakan bahwa Parikesit meninggal karena digigit Naga Taksaka. Menurut kitab Adiparwa, sang naga menyamar menjadi ulat dan bersembunyi di dalam buah jambu yang dihidangkan kepada Parikesit. Cara kematian tersebut terjadi karena kutukan brahmana bernama Srenggi yang merasa sakit hati karena Parikesit telah mengalungkan bangkai ular di leher Samiti (Samika), ayahnya.

Kisah Pandawa seda
Setelah Parikesit dinobatkan sebagai raja Hastina, Yudistira berniat untuk mendaki puncak Mahameru. Saudara2nya tidak bersedia ditinggal oleh Yudistira dan ngotot untuk ikut. Sementara itu Yudistira berusaha mencegah Drupadi untuk ikut karena mendaki Mahameru bukanlah tugas yang mudah. Tapi Drupadi menjawab bahwa kini Pendawalah keluarganya, ayah dan saudara saudaranya telah gugur di Bharatayuda, begitu juga dengan anaknya. Drupadi telah ikut dengan Pendawa sejak dibuang ke rimba dan selamanya berniat ikut dengan mereka. Mendegar tekat istrinya yang bulat Yudistira tidak berani memaksa.

Maka bersiaplah Pendawa dan Drupadi untuk menanjak Mahameru. Di kaki gunung, mereka bertemu dengan seekor anjing putih, bulunya bersih bagaikan salju dan matanya bersinar terang. Anjing itu seperti tidak ada yang punya dan ingin ikut dengan Yudistira. Yudistirapun mengajak sang anjing untuk ikut dengan mereka.

Dalam perjalan ke atas, makin lama udara semakin tipis, angin semakin bertiup kencang dan salju mulai bertebaran. Drupadi semakin lemah sehingga harus dibantu oleh Bima, tapi akhirnya Drupadi tak sanggup lagi. Drupadi kemudian meninggal di pangkuan suaminya. Drupadi tidak dapat mencapai puncak Mahameru karena dalam hatinya Drupadi lebih mencintai Arjuna daripada Yudistira suaminya. Pendawa Lima kemudian lanjut memanjat. Setelah memanjat beberapa waktu terlihat Sadewa mulai sempoyongan. Akhirnya Sadewa jatuh dan tak dapat meneruskan perjalanan. Sadewa gagal mencapai puncak Mahameru karena dalam dirinya dia menganggap bahwa dirinya lah yang paling cakap diantara kelima bersaudara. Keempat bersaudara kemudian melanjutkan perjalannaya, tak lama kemudian Nakula keliatan mulai kesusahan. Akhirnya Nakula menghembuskan napas terakhirnya dan tidak mencapai puncak Mahameru akibat dalam dirinya dia menganggap bahwa dirinyalah yang paling lincah dan sakti. Kini tinggal tiga saudara kandung yang melanjutkan perjalanan. Bima berjalan tegak dan tegar menunjukkan bahwa dirinya masih mampu, Yudistira berjalan pelan tapi pasti dengan anjingnya setia disampingnya. Kini Arjuna yang tampak kesusahan melanjutkan perjalanan. Arjuna akhirnya tak dapat menanjak lagi dan mengehembuskan napas akhirnya disebabkan oleh kesombongannya yang mengaggap dirinyalah yang paling ganteng dan sakti dari semua Pendawa. Kini tinggal Bima, Yudistira dan sang anjing. Bima yang berjalan dengan tegak kini mulai kesusahan, ketika melihat keatas tampaklah puncak Mahameru. Tapi tubuhnya tidak tahan lagi dan Bimapun menghembuskan napas terakhirnya. Bima gagal karena dalam hatinya dialah yang paling sakti gagah perkasa tak ada yang ditakuti. Kini Yudistira yang dibilang orang lemah masih terus berjalan menuju puncak Mahameru.

Ketika sampai dipuncak, seberkas sinar terang muncul dihadapan Yudistira. Sinar itu kemudian menjelma menjadi Betara Indra yang menyambut Yudistira. Betara Indra memberi selamat kepada Yudistira karena dia diperbolehkan masuk kedalam kahyangan dengan jasad kasarnya. Tetapi sang anjing tidak diperbolehkan masuk kedalam kahyangan. Mendegar itu, Yudisitra menjawab bahwa dirinya rela tidak masuk kedalam kahyangan jika anjing yang telah setia menemaninya tidak diperbolehkan masuk. Seketika sang anjing menjelma menjadi Betara Dharma, ternyata ayah Yudistira sedang menguji budi luhur anaknya. Dari perkataannya itu terlihat bahwa Yudisitra merupakan orang yang berbudi luhur tanpa cela.

Kemudian Yudistira dibawa masuk kedalam Kahyangan dan ditunjukkan para Kurawa yang sedang bersenang bersama Sangkuni menikmati makanan enak di gedung yang indah. Melihat itu Yudistira tidak sama sekali terlihat iri dan menjawab bahwa para Kurawa telah gugur sebagai ksatria membela negeri mereka maka mereka selayaknya mereka berhak tinggal di kahyangan.

Oleh Betara Indra, Yudistira dibawa ke Neraka yang sangat beda keadaanya dengan kahyangan. Betara Indra kemudian menunjuk kepada seorang wanita cantik dengan berbagai perhiasan yang disekelilingnya tertusuk oleh panah dari emas. Betara Indra bertanya apakah Yudistira mengetahui kesalahan sang wanita ? Yudistira menjawab bahwa dalam hematnya, sang wanita bersalah karena serakah atas harta, dalam kehidupan ini manusia perlu mementingkan budi pekerti daripada harta kekayaan. Betara Indra mengangguk atas jawaban Yudistira kemudian menunjuk kepada orang yang mulutnya ditarik oleh capitan sehingga mirip bebek. Yudistira berkata bahwa salah satu kejahatan yang paling terhina ialah fitnah. Fitnah gampang disebar tapi susah untuk dihilangkan, maka orang yang menyebar fitnah dosanya besar karena menghina sesama manusia. Kemudian Yudistira diperlihatkan Sangkuni tersiksa dengan gembok dimulutnya sementara dihadapannya adalah makanan yang enak2. Betara Indra menjelaskan bahwa ini adalah hukuman atas mulut Sangkuni yang merupakan sumber kejahatan. Kemudian tampak para Kurawa yang dikelilingi api dan disekitarnya dijaga oleh naga yang menyemburkan api. Sementara Dursanana sedang dililit oleh kain kemben berkepala naga sebagai hukuman atas tindakannya kepada Drupadi. Sementara Duryudana terlihat dijepit oleh dua batu panas sementara dihadapannya ada sebuah mata air dengan air yang jernih dan sejuk. Duryudana berusaha menjulurkan lidahnya tapi tak bisa mencapai air tersebut.

Di tempat lain, terlihat juga Drupadi, Nakula, Sadewa, Bima dan Arjuna dalam keadaan dirantai dan dikelilingi oleh api. Yudistira bersedih melihat ini tapi dalam hatinya dia tau bahwa tidak ada manusia yang luput dari dosa, tapi dosa saudara saidaranya lebih sedikit daripada dosa Kurawa, sementara pahalanya lebih banyak. Maka penderitaan saudara saudaranya tidak akan berlangsung lama. Benar seperti yang dikatakan Yudisitra, Betara Indra membawanya kembali ke kahyangan dimana dia melihat Drupadi dan keempat saudaranya sedang bercengkarama dengan Bisma dalam sebuah kamar yang megah.

Kerajaan Dwaraka adalah sebuah kerajaan yang didirikan bangsa Yadawa setelah melepaskan diri dari Kerajaan Surasena karena diserbu oleh raja Jarasanda dari Magadha. Kerajaan ini diperintah oleh Krishna Basudewa selama zaman Dwapara Yuga. Wilayah Kerajaan Dwaraka meliputi Pulau Dwaraka, dan beberapa pulau tetangga seperti Antar Dwipa, dan sebagian wilayahnya berada di darat dan berbatasan dengan negeri tetangga yaitu Kerajaan Anarta.

Sri Krishna membunuh Kamsa (paman dari pihak ibu) dan menobatkan Ugrasena (kakek dari pihak ibu-Nya) menjadi raja Mathura. Hal ini membuat Marah mertua Kamsa, Jarasanda (raja Magadha) bersama dengan temannya Kalayawana menyerang Mathura 17 kali. Untuk keselamatan bangsanya Yadawa, Krishna memutuskan untuk memindahkan ibukota dari Mathura ke Dwaraka.

Dwaraka kemudian dikenal sebagai salah satu tempat suci selain Mathura dan Wrindawana pada masa itu.

Setelah Sri Krishna pergi ke tempat tinggal-Nya dan Yadawa utama kepala tewas dalam perkelahian di antara mereka sendiri, Dwaraka menjadi tenggelam di laut. Ini adalah gambaran yang diberikan oleh Arjuna dalam Mahabharata:

“Laut, yang menghantam pantai, tiba-tiba memecahkan batas yang ditetapkan oleh alam. Laut itu bergegas dan memasuki kota dan memenuhi jalan-jalan kota yang indah, Laut menutupi segala sesuatu di kota.” Arjuna melihat bangunan indah tenggelam satu per satu Dia lalu mengamati istana Krishna.
Dalam hitungan beberapa saat semuanya berakhir. laut itu sekarang menjadi tenang seperti danau. tidak ada bekas . kota yang indah Dwarka, yang telah menjadi tempat favorit dari semua Pandawa, kini hanya nama, hanya kenangan “.

Mahabharata menyatakan bahwa seorang pemburu bernama Jara mengira sebagian kaki kiri Kresna yang tampak sebagai seekor rusa sehingga ia menembakkan panahnya, menyebabkan Kresna terluka secara fana, sampai berujung ke kematiannya. Saat jiwa Kresna mencapai surga, tubuhnya dikremasi oleh Arjuna.

Mahabarata menjadi lambang dari kekuasaan dan keperkasaan politik yang katena keserakahan balas dendam keangkaramurkaan, mengesampingkan kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Karna yang berjuang demi politik balas budi terhadap Kurawa yang memberikannya kekuasaan, harta, dan kenaikan kasta, Sangkuni dari Gandara berjuang dengan berbagai siasat politik untuk mendapatkan kekuasaan untuk sang keponakan Duryudana. Di samping itu, ada Resi Bisma juga harus bertarung melawan kebenaran para cucu kesayangannya yakni Pandhawa demi sumpah sucinya untuk berjuang secara politis melindungi Hastinapura sebagai Senapati. Guru Durna juga harus menyayat hatinya sendiri tatkala harus mengangkat senjata melawan murid-murid terbaiknya juga demi alasan politik karena jasa-jasa Hastinapura dan sumpahnya dalam membela tahta Hastinapura. Para Pandawa, sang lambang kebenaran, harus melawan para sepupu mereka yakni Kurawa demi keadilan dan hak politik sebagai penguasa sah Kerajaan Hastinapura.

Lorojongrang 210921

Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.