Indonesia Berdakwah

Keutamaan Yudistira

Patung Yudistira युधिष्ठिर di Birla mandir. [Wikipedia]

TRANSINDONESIA.CO | Yudistira Ksatria tertua Pandawa dikenal memiliki darah putih yang maknanya ia memegang kejujuran kebenaran dan keadilan. Ia sebagai kakak tertua melindungi mengayomi adik adiknya. Memberikan nasehat bahkan pengorbanan. Yudistira tahu kalau dirinya dan adik adinya mengalami diskriminasi atas ketamakan Duryudana dan para kurawa lainnya. Ia bersama para Pandawa lainnya tersingkir dari Hastina Pura bahkan harus menderita pengasingan selama 12 tahun di hutan dan penyamaran selama satu tahun hingga menyulut terjarinya perang Barata Yuda.

Dari berbagai kisah tentang Yudistira ada nilai nilai keutamaan yang mungkin saja masih relevan di masa sekarang ini. Setidaknya dapat menjadi refleksi atas hidup dan kehidupan kita.

Yudistira memahami bahwa membalas dendam mencela menjelek jelekan bahkan menghakimi mudah dilakukan, namun ia sadar hal ini mencerminkan ketidakmampuannya berpikir dan melihat kebaikan orang lain. Yang berdampak pada dosa dan karma. Kepuasan dan kebahagiaannya bukan pada kebaikan, kebenaran dan kecerdasan melainkan pada hal hal yang sebaliknya

Dalam berbagai hal dalam kehidupan Yudistira berupaya menekan adanya kesombongan dalam pikiran perkataan dan perbuatannya karena akan menunjukkan kelemahan dan ketakutan menghadapi kenyataan. Ia menyadari bahwa; “Keunggulan sesorang adalah pada kemampuannya mengendalikan diri dalam situasi dan kondisi apapun. Keutamaan seseorang adalah kemampuanya bersyukur dalam kondisi ekstrim sekalipun. Otak dan hatinya tetap melihat kebaikan dan perabikan sebagai solusi dalam berbagai pikiran perkataan dan perbuatannya”.

Dalam berbagai penderitaan yang dialami Pandawa seakan alam semesta menerima dan mendukung memberi ruang bahkan melindunginya. Yudistira menyadsri nahwa ketenangan adalah kemenangan dan tetap menjaga  kewarasannya dan senantiasa berjuang bagi hidup dan kehidupan manusia. Ia juga menyadari bahwa:” tatkala lupa dalam kuasa maka akan banyak kebutaan akan kebaikan dan akan terus diiringi kejumawaan”.

Yudistira sebagai pemimpin ia menunjukkan bahwa :” kehebatan dan kehormatannya bukanlah pada kekuasaan melainkan pada perjuangan dan pengorbanannya bagi meningkatnya kualitas hidup banyak orang”. Raganya sering dianggap lemah namun ia kuat jiwanya tidak mudah terjerumus pada hal hal dunia. Semua itu dapat ia tunjukkan saat ada kesempatan dan kekuasaan jiwanya tetap memegang teguh keutamaan hidup dan tidak hanyut atas arus deras dunia. Yudistira memahami bahwa : kelemahan jiwa dapat menjerumuskan pada kebanggaan semu dan tameng bagi kejumawaan.

Sikap rendah hati dan memegang teguh pada kebenaran menunjukkan Yudistira menyadari bahwa :” Kuasa selain membutakan juga mencandui nikmatnya dunia dan lagi lagi kejumawaan hasilnya walau penuh dengan penindasan atas sesamanya. Ia sadar bahwa :”Kesaktian seorang pemimpin manakala mampu menjadi ikon dan sumber energi, memberdayakan sumberdaya bagi penyelesaian masalah maupun untuk meningkatkan kualitas hidup bagi banyak orang. Yudistira berupaya sekuat tenaga dan kemampuannya secara konsekuen dan konsistem agar kekuatan dan kekuasaannya terhindar dalam berbagai jebakan jalan yang jauh dari kebenaran maupun kelicikan.

Yudistira menyadari bahwa manusia sebagai mahkluk sosial yang harus bertahan hidup dan berkembang. Kejayaan dan keberhasilannya sebagai raja senantiasa membuat  kebijakan yang dapat menjamin terpeliharanya keyeraturan sosial sebagai bagian berupaya mensejahterakan rakyatnya. Keamanan dan rasa aman dengan menjaga berbagai aktivitas sosialnya untuk menghasilkan produksi agar dapat bertahan hidup tumbuh dan berkembang. Menjaga keteraturan sosial merawat dan menjaga  jejaring sosial dan komunikasi solusi terus mencari solusi dengan berbagai resikonya.

Yudistira memahami dan menyadari bahwa :  Kepandaian, kekayaan, kekuasaan, merupakan kesempatan dan kewajiban untuk membantu bagi banyak orang. Tatkala sebaliknya yang dilakukan maka karma cepat atau lambat akan tiba dan merenggutnya sebagai pertanggungjawabannya

Paska Bharatayuda waktu cepat berlalu bagai sinar kilat yang sekejap saja dan terus melaju tiba tiba akan diberi tanda waktunya tiba melakukan perjalanan suci. Yudistira tetap dengan keutamaannya mempimpin adik adik dan istrinya melakukan perjalanan suci. Yudistira dalam kejujuran kebenaran dan keadilannya terus melakukan kebaikan dan perbaikan. Kebenaran tatkala ditegakkan bagai anak miskin di seberang istana, penuh rasa ketakutan, rendah diri bahkan tidak percaya diri, walaupun anak itu kelak akan menjadi raja yang menguasai istana itu. Yudistira memahami para mafiatelah berupaya menyingkirkan bahkan membunuhnya. Namun mereka lupa semua itu fana tipuan dunia yang mejeratnya dalam penderitaan yang baka. Kekuatan dan kekuasaan yang dipegang Yudistira secara bukan sekedar mengambil kebijakan melainkan juga mengambil kebijaksanaan. Nyalinya sebagai pemimpin selain berani menegakan kebenaran dan keadilan adalah mampu mengalahkan dirinya atas napsu angkara murka membuatnya terbebas dan terlepas dari jeratan penyimpangan

Dalam kisah Mahabarata menunjukkan bahwa :” Ketamakan suatu naluri manusia tatkala tidak terkendali, tiada kata cukup baginya terus saja merasa kekurangan walau sudah melapaui untuk tujuh turunan bahkan delapan tanjakan. Merasa paling bisa mengkerdilkan bahkan membutakan dirinya, karena tidak lagi mampu melihat kemampuan dan keunggulan orang lain. Kuasa akan mendatangkan suka tatkala tanpa darma suka akan menjadi duka. Dalam hidup dan kehidupan yang sama hanyalah rasa, walau berbeda beda apa yang dirasakan. Berbagai perumpanaan sarwt makna sebagai refleksi jiwa seakan seperti kisah anak gembala. Anak kecil yang kumal miskin nampak lugu udik seringkali dipandang sebelah mata, masa depannya seakan suram. Namun siapa yang menyangka Tuhan memberkati anak kecil tadi untuk masa depannya akan menjadi penguasa pemimpin bangsa

Harta kuasa menjadikan manusia lupa. Lupa kepada sesama, lupa kepada alam lingkungannya bahkan lupa kepada Tuhannya. Kuasa atas hutang budi maka kekuasaannya akan digunakan untuk membalas budi.

Pemimpin sejatinya tidak memiliki teman, yang dimilikinya hanyalah penjilat

Dunia ini sarat jebakan ragawi yang fana, keutamaan dan hakekat yang baka dianggap penghalangnya

Ketamakan akan diikuti sifat iri dengki dan kikir, tiada lagi rasa peka peduli dan bela rasa bagi sesamanya

Kehidupan adalah guru dalam proses kehidupan memberikan pengajaran yang membukakan jendela hati dan pikiran bagi siapa saja yang mampu menangkap untuk terbang mengangkasa berkelana menjelajahi dunia, agar hidupnya baik dan benar dan berguna bagi banyak orang.

Perjalanan hidup yang sarat dengan penghinaan dan perlakuan tidak adil bagi orang orang benar merupakan suatu ujian menuju keutamaan dan kemuliaan hidup

Alam semesta adalah guru tempat berlindung, belajar, bertanya bagi para manusia dalam hidup dan kehidupannya. Hidup dan kehidupan bagai pasar semua lini seakan ada kompetisi yang dilabel materi, dialognyapun seolah mencari kesepakatan pada suatu angka yang menjadi harga

Yudistira dengan sadar dan penuh rasa tanggungjawab menjalani hidup dan kehidupannya dalam keutamaan, hingga ia sendiri dari antara Pandawa lainnya mauoun istrinya yang dengan rwganya memasuki swargaloka.

Jumat Siang 170921
Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.