Indonesia Berdakwah

Karna: Refleksi Pengorbanan Kekuatan dan Kelemahan Manusia

Karna (Sanskerta: कर्ण; Karnna) adalah nama Raja Angga. Karna mendorong keretanya yang terperosok saat bertempur melawan Arjuna. Ilustrasi dari Mahabharata terbitan Gorakhpur Geeta Press.

TRANSINDONESIA.CO | Raja Angga Karna atau Adipati Karna dalam kisah Mahabarata ada pro dan kontra dalam hidup dan kehidupannya. Ia anak Dewa dan Ratu Kunti namun harus hidup dan besar sebagai anak kusir. Karna sebagai kesatria tangguh namun terus dikalahkan karena kastanya. Hidup penuh dengan pelecehan dan penghinaan hingga diangkat kasta dan derajat oleh Duryudana yang menjadi jerat bagi hidupnya.

Karna lahir dari kesalahan ibunya Dewi Kunthi yang menggunakan ajian pemberian seorang Resi untuk memanggil Dewa. Kunthi penasaran dan ingin mencobanya, datanglah Dewa Surya dan menghasilkan anak yang diberi nama Karna. Untuk menutupi aib dan rasa malu karena Kunthi masih lajang maka Karna dikorbankan dan dihanyutkan di sungai dan di pelihara keluarga Kusir.

Namun demikian Karna tetap dilindungi ayahnya dengan rompi dan anting sakti dari Bathara Surya. Karna mampu menatap matahari walau pada saat sangat terik. Karna hidupnya penuh perjuangan dan pengorbanan. Karna banyak mengalami penderitaan dalam penghinaan karena kastanya dan terus dilecehkan kaum kesatria tanpa mampu berbuat apa apa.

Karna dalam berbagai kehidupannya mendapat kutukan salah satunya dari  gurunya sendiri Rama Parasu karena menyamar sebagai brahmana, dimana Karna  akan lupa segala ilmunya di saat saat kritis. Selain itu. Karna juga dikutuk brahmana karena memanah anak sapi yang tak berdaya walau bukan karena mutlak kesalahannya.

Karna sebagai manusia golongan kasta rendah diangkat menjari kesatria oleh Duryudana yang sebenarnya adalah untuk memanfaatkannya. Hutang budi Karna kepada Duryudana yang menjadikan sahabat tanpa melihat kasta dan memberinya kedudukan kekayaan dan kekuasaan telah membutakan hatinya. Karna mengetahui bahwa dirinya tak dapat mengelak dari sumpah dan janjinya namun ia berusaha mengingatkan dan mencegah angkara murka Duryudana namun lagi lagi kalah dengan sangkuni

Karna sebenarnya tergolong ksatria utama karena ia bukan anak kusir dan ia juga ksatria. Kesaktian dan kepandaiannya tak tertandingi
Pada saat perang Bharata Yuda ia menyadari sebagai kakak tertua Pandawa menunjukkan keutamaanya dan berjanji kepada ibu Kunthi bahwa dirinya akan hanya memusatkan kepada Arjuna saja untuk dibunuhnya. Ia pun berpikiran agar anak anak Kunthi “pandawa tetap lima, Karna atau Arjuna gugur pandawa tetap lima”. Ia berjanji kepada Ibunya Kunthi bahwa ia tetap menjaga anak-anak Pandawa lainnya.

Karna pun rela menyerahkan rompi dan anting pemberian Dewa Surya kepada Dewa Indra sebagai persembahan. Karna mengakhiri penderitaan Abimanyu yang dikeroyok kaum Kurawa walaupun dirinya harus menerima dendam Pandawa terutama Arjuna. Karna menyadari atas kesalahan dan dosanya serta menerima kutukan kutukan kepadanya sebagai pelebur atas dosa dan karmanya di perang Bharata Yuda.

Keutamaan dan pengorbanan Karna tidaklah sia sia ia mendapat anugerah menjadi inspirasi para kesatria sebagai kesatria besar yang tangguh dan tak tertandingi.Kisah perang antara Arjuna pun nama kisahnya dikenal sebagai Karna Tanding bukan Arjuna Tanding. Karna walaupun ada di pihak Kurawa namun ia tidak terkena hukuman atas dosa dosanya di neraka

Kisah Karna merupakan sebagai refleksi hidup dan kehidupan  “kekuatan sekaligus kelemahan manusia”.

Tegal Parang 100921
Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.