Indonesia Berdakwah

Cah Angon: Instalasi Seni, Imaji suatu Mimpi

Foto ilustrasi: Porosilmu.com

TRANSIDONESIA.CO | Cah Angon atau anak gembala, menjadi simbol kehidupan anak anak pedesaan. Angon atau menggembalakan binatang binatang piaraan seperti itik atau bebek, kambing, sapi, atau kerbau yang digiring penggembalanya ke area yang banyak makanan. Binatang yang digembalakan dibebaskan mencari makan dan saatnya petang digiringnya kembali ke kandang.

Anak anak gembala biasanya sambil menunggu binatang piaraannya mereka bermain ada yang meniup seruling, ada yang menyanyikan lagu lagu dolanan atau lagu mainan anak anak dsb.

Namun ada juga yang memanfaatkan waktunya untuk belajar atau membaca buku. Anak anak gembala yang hidup sederhana jujur apa adanya tidak mengada ada. Mereka juga memiliki impian harapan angan angan bagi hidup dan kehidupannya di masa yang akan datang.

Awan berarak sering ditatapnya. Anak gembala memandangnya dalam suatu cita cita. Ia memimpikan sesuatu atas hidup dan kehidupannya. Sesekali ia menengok binatang binatang yang digembalakannya. Namun ia tak jarang juga melamunkan sesuatu. Padang rumput, atau area persawahan pepohonan hijau rindang yang tertiup angin membuat anak gembala ini seakan dibawa ke dalam mimpinya. Apa yang ada dalam angannya menjadi asa yang ia kejar dalam hidupnya.

Anak gembala ini punya mimpi dapat membuat sesuatu. Pada saat ia melihat rumput sawah alam lingkungan dan binatang binatang kadang ia memimpikan suatu masa depan. Kenangan di masa itu tak hilang dan terus membekas dalam ingatannya. Ia melihat seni dalam lingkungan dan kehidupannya.

Seni pun tak mampu ia jabarkan. Ia hanya berangan angan mampu membuat sesuatu instalasi seni. Entah bagaimana ia bebaskan bagai binatang piaraannya menikmati makanan sesuka hatinya. Seni bagi anak gembala tentu tanpa konsep dan teori yang tak dapat ia tangkap waktu itu. Ia hanya tahu menjalankan amanah orang tuanya selesai sekolah untuk menggembalakan. Itu saja. Apa yang ia rasakan menjadi kekuatan karena imaji atas mimpinya.

Sunan Kalijaga menciptakan lagu “Lir Ilir” sebagai penyemangat untuk bangkit dan bersemangat. Lirik lagunya;

Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo, tak senggo temanten anyar
Bocah angon, bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surako surak iyo

Lirik terjemahan Lir Ilir dalam Bahasa Indonesia;
Bangunlah, bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau bagaikan pengantin baru
Anak gembala, anak gembala panjatlah (pohon) belimbing itu
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu
Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung bulan bersinar terang, mumpung banyak waktu luang
Ayo bersoraklah dengan sorakan iya

Makna lagu lir ilir sangat mendalam, berisi ajaran keutamaan hidup dan kehidupan. Cah Angon diumpamakan untuk berjuang memanjat walau licin atau sarat halangan atau tantangan. Dan membasuh bajunya yang terkoyak. Juga menjahitnya dan untuk bersuka ria menggapai cita cita dengan melihat peluang atau waktu yang ada.

Mimpi cah angon sarat imaji yang dapat ia wujudkan dalam instalasi seni. Seni menghadapi hidup dan kehidupan. Seni menterjemahkan peluang dan belajar menghadapi tantangan dalam mencapai cita cita. Seni yang diinstalasikan merupakan perwujudan angan dan asanya dalam berbagai bentuk yang dapat ditangkap oleh indera. Namun di balik itu ada dialog dan penelusuran atas lorong lorong dan relung relung kehidupan.*

Hari Merdeka 170821
Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.