Indonesia Berdakwah

Pagebluk Covid-19, Manajemen Krisis dan Hikmah Sejarah yang Dapat Diambil

Ilustrasi

TRANSINDONESIA.CO – “Hampir Satu Tahun Setengah Pagebluk Covid 19 Melanda Dunia Termasuk Indonesia. Suatu Situasi Yang Sejak Awal Telah Memberikan Dampak Pada Setidaknya 2 Hal , Kesehatan dan Ekonomi”.

Dari sisi kesehatan tingkat penularan yang luas serta fatalitas yang tidak saja berdampak pada kesehatan fisik masyarakat (sakit dan kematian) tetapi juga psikis masyarakat (stress dan depresi).

Demikian pula dampak ekonomi, tidak kalah beratnya dibandingkan dengan dampak kesehatan berupa defisit pendapatan negara maupun masyarakat yang berimplikasi tidak saja pada gangguan efektifitas penanganan kesehatan tetapi pada efektifitas dan keberlanjutan pembangunan yang telah dirancang sehingga di sana-sini memerlukan penyesuaian, hal ini menjadi indikator betapa dasyatnya pagebluk dan implikasinya bisa saja melebihi dampak perang atau konflik besar yang pernah ada.

Pagebluk yang demikian dasyat yang menyebar di seluruh dunia membuat dunia mengalami goncangan hebat, selain goncangan di dalam negeri masing-masing, goncangan tersebut juga terjadi pada hubungan antarnegara sebagai akibat dari kebijakan pembatasan mobilisasi orang antarnegara yang konon  sebagai mekanisme memutus mata rantai penyebaran virus meskipun pada realitanya virus tetap berkembang dan bermigrasi dari satu negara ke negara lain bahkan bermutasi berbagai jenis virus lokal seperti varian Delta di India.

Kondisi perkembangan pagebluk inilah yang membuat banyak pemerintahan dan masyarakat mengalami kekagetan (shock) karena betapa cepatnya virus menyebar (spreading) dan mutasi (mutation) yang berdampak keresahan yang meluas (massive restless) tentang akhir dari semua ini (the end of crisis) meskipun di sana-sini khususnya pada negara negara dengan kekuatan ekonomi dan politiknya serta tradisi riset yang kuat berlomba dengan waktu untuk menemukan cara yang efektif untuk menemukan vaksin dan obat sebagai senjata kembar (twins weaponeries) dalam melawan dampak virus Covid-19 pada kesehatan manusia.

Namun demikian manusia dalam sejarahnya selalu mampu melewati banyak persoalan yang dihadapi , sejarah pagebluk colera di Abad XIX dan pagebluk flu spanyol di Abad XX membuktikan bahwa krisis dalam kehidupan selalu ada dan krisis tersebut manusia selalu mencari jalan keluar dari krisis dan manusia selalu menjadi pihak pemenang, apalagi pada era industri 4.0 dengan perkembangan dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam berbagai sendi kehidupan diyakini dapat membantu menemukan vaksin dan obat yang diharapkan menjadi media pencegahan dan pengobatan bagi manusia.

Selain itu upaya  banyak negara untuk menangani pagebluk dapat terlihat setidaknya melalui pendekatan pengendalian kerumunan (crowd control and crowd management) dan pendekatan kesehatan (health mitigation) berupa kesiapan rumah sakit, lingkungan yang sehat, disiplin atas protokol kesehatan termasuk peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat, di sisi lain upaya untuk mempertahankan daya dukung ekonomi juga menjadi perhatian yang tidak kalah penting yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat secara kolaboratif.

Belajar dari berbagai peristiwa  di berbagai belahan negara dalam menghadapi krisis dapat diambil suatu pelajaran bersama menyangkut sistem manajemen krisis yang ada:

1. Setiap negara di dunia dipaksa untuk belajar merespons persoalan persoalan yang berkaitan dengan penyakit dan cara penyakit tersebut menyebar sekaligus menjadi mekanisme operasionalisasi dan evaluasi terhadap sistem kesehatan yang tergelar.

2. Setiap negara diuji kapasitas dan kapabilitas pemerintahan baik tingkat nasional sampai dengan tingkat lokal untuk beradaptasi terhadap berbagai perubahan situasi lingkungan kehidupan yang datang secara tiba tiba dan mampu merumuskan dan mengoperasionalkan konsep jalan keluar yang efektif dan efisien.

3. Setiap negara dipaksa untuk membangun masyarakat yang memiliki kesadaran bersama sebagai satu bangsa, disiplin terhadap norma yang menjadi ukuran bersama, memperkuat kohesi sosial, saling berbagi dan bergotong royong dengan meninggalkan ego individual dan kelompok.

4. Setiap negara dipaksa untuk melakukan pembenahan mental aktor pemerintahan dan melakukan instropektif dengan sistem pemerintahan yang dioperasionalkan di semua level, sektor dan lini kepemerintahan.

5. Setiap negara dipaksa untuk kembali membangun kesadaran kemanusiaan, sehingga pemerintahan yang dibentuk dan dijalankan mampu membangun sistem yang menjamin perlindungan terhadap kepentingan mendasar dari masyarakatnya secara berkelanjutan.

Setiap peristiwa kehidupan pasti memiliki makna dan hikmah yang dapat dipetik, Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk ke 4 dunia, multi kultural dan tersebar di ribuan pulau, dapat belajar dari sejarah dan model model keberhasilan negara dan bangsa lain keluar dari pagebluk yang bersifat kritikal ini, 5 (lima) point di atas setidaknya menjadi catatan yang bisa kita jadikan paramater evaluatif dan programatik saat ini dan masa datang.

Memang tidak mudah bagi negeri yang sedang menata sistem dan tata kelola pemerintahannya, tetapi sebagai tanggung jawab terhadap sejarahnya sendiri, saatnya kita merapatkan barisan dan menyatukan gerak untuk menangani situasi kritikal saat ini agar kita mampu keluar dari krisis sesegara mungkin melalui satu kesatuan komando kepemimpinan dan manajemen nasional.

Sebagai penutup tulisan ini, situasi saat ini memang tidak diinginkan oleh negara dan bangsa manapun, suatu situasi yang memukul tidak saja mental tetapi hati banyak orang, merubuhkan optimisme menjadi pesimisme, mengaburkan harapan tentang masa depan, merubah tawa menjadi tangisan, suatu tempaan alamiah yang tidak enak di satu sisi tetapi juga seharusnya merangsang dan menimbulkan kejujuran baru yang alamiah dalam mengukur daya tahan kolektif sebagai suatu negara dan bangsa dalam menghadapi dinamika situasional global dan Nasional.

Dalam konteks ini kita dapat belajar dari negara negara yang kalah perang pada era Perang Dunia ke II seperti Jepang maupun China, penderitaan, kepahitan dan kesulitan terjadi pada saat itu tidak membuat mereka berkecil hati tetapi sebaliknya mengatur siasat baru untuk masa depan dan kejayaan negara dan bangsanya, sudah saatnya Indonesia bersatu kembali dan menyusun langkah, bersikap jujur tentang hal hal yang mesti diperbaiki bersama di masa kini untuk kebaikan masa depan mewujudkan cita cita bersama sebagai negara yang merdeka.*

Oleh: Satrio Toto Sembodo

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.