Indonesia Berdakwah

Kuasa Membuat Orang seperti Dewa?

Ilustrasi

TRANSINDONESIA.CO | Kekuasaan berjalan seiring dengan kekuatan dan menjadi issue yang diperebutkan dari cara rasional hingga irasional. Kekuatan dan kekuasaan akan menjadi penentu menguasai mendominasi pada pengeksploitasian dan pendistribusian sumberdaya secara dominan atau mendominasi.

Oleh sebab itu, perebutan kekuasaan akan menjadi issue penting dan dengan segala cara bisa dilakukan dan dihalalkan. Di dalam memperebutkan sumber daya selalu ada adu kekuatan; dari sisi politik, dari para pebisnis,dari tokoh agama maupun masyarakat bahkan dari mediapun bisa saling hajar satu sama lain. Menyalahkan dan memcari keselahan memyerang sisi kelemahannya dilakukan untuk membunuh karakter.

Cara cara primordial menjadi idola atau pilihan karn di situ tidak rasional, lebih menekankan pd spiritual dan emosional. Pendekatan secara personal akan terus dilanggengkan bisa saja mengabaikan kompetensi. Cara perolehan kuasa seringkali dari memberdayakan soft power, mitra hingga premanisme semua bisa dilakukan. Bagi kaum mabuk kuasa apapun dilakukan entah ke para normal sampai sampai melakukan berbagai ritual yang tidak masuk akal.

Kuasa membuat semua ada bisa berkuasa memerintah atau menyuruh ke sana ke mari sesuka sukamya ingin apa saja ada. Dari yang bisa dijilat hingga penjilatnya lengkap semua ada. Apa yang kasat mata hingga yang tanpa rupa semua bisa di dalam genggamannya. Dari bangun hingga bangun lagi semua serba tersedia ada saja yang siaga menjadi cantriknya. Kuasa mempunyai sumber daya.

Uang lagi lagi uang menjadi simbol sumber daya. Entah dari mana datangnya seringkali semua tanpa diduga seakan mengalir dengan sendirinya. Wajarlah bila kaum mabuk kuasa senantiasa rindu berkuasa. Para kaum berkuasa senantiasa berjuang mati matian mempertahankan kekuasaannya. Entah rutin memberikan semacam buluh bekti glondong pangareng areng atau semac upeti atau pajak terima kasih kepada orang atau kelompok yang mampu memberikan jaminan keamanan jabatan untuk melanggengkannya.

Konteks ini maka apa yang terjadi nampak seperti pasar semua serba WPOP (wani piro oleh piro) tanpa sadar semua serba dol tinuku. Kaum balas budi akan mengantikan dan menguasai kaum profesional pendekatan pendekatan personal akan terus merajai.

Kuasa membutakan logika bahkan jiwa. Karena adanya kuasa seakan semua tutup mata dan gelap hati. Bahagia hingga lupa diri. Tatkala ada kuasa rasanya bagai dewa, sebaliknya tatkala kuasa tiada mulailah menjadi gila. Hilang kuasa seakan hilang segalanya. Semua menguap semua hilang sahabat kawan cantrik mitra entah terbang melayang kemana. Tiada lagi suka tawa canda yg bergumul dalam dirinya seakan hanya duka. Padahal dunia alam sekitarmya sumber bahagia. Karena lupa dan mabok kuasa seakan dunia ini bahagianya hanya pada kuasa bukan lagi pada manusia tak lagi mampu menyentuh Tuhannya. Jangankan menyentuh ingatpun tidak. Yang ada hanyalah keluhan keluhan dan keluhan.

Apa yang dialami tidak lagi bisa dinikmati. Seakan pungguk merindukan bulan bermimpi beristri bidadari terus saja menyalahkan bahkan memghakimi. Lupa kalau waktu saatnya berganti. Menikmati layaknya hiduppun seakan tidak bisa lagi. Lupa kalau suket godong biso dadi rewang. Kuasa, candu yang tatkala ada membuatnya bagai dewa, ketika tiada menjadikannya gila.*

Fajar Pagi Hari
5 Juni 2021

Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.