Indonesia Berdakwah

Memetik Hikmah Dibalik Ujian Pandemi Corona Virus Desease 19 Menurut Perspektif Al Qur’an dan Hadits

TRANSINDONESIA.CO | Oleh : H.Nachrawi Subandi

Ujian dan cobaan hidup merupakan sunnatullah, dimana manusia pada suatu waktu akan mengalami berbagai kesusahan dan penderitaan hidup. Manusia akan dihadapkan kepada ujian-ujian hidup yang sulit untuk mengelaknya dan itu adalah satu ketetapan dan hukum Allah yang bersifat pasti dan tetap, berlaku kepada siapapun, kapan pun dan di mana pun manusia berada.

Ujian dan cobaan dalam hidup di dunia terkadang berupa kelapangan dan kenikmatan, namun terkadang juga berupa kesempitan dan musibah. Bisa berupa sehat maupuan kondisi sakit, bisa berupa kekayaan maupun kemiskinan.

Corona Virus Disease yang biasa disebut sebagai Covid-19 kini tengah mewabah di Indonesia, bahkan di dunia. Mengapa dikatakan 19? Menurut data Pemerintah China yang dilihat South China Morning post, awal munculnya virus ini tepat pada akhir bulan 2019 di sebuah negara yaitu, China tepatnya di kota Wuhan.

Hal ini sangat meresahkan warga khususnya warga China pada saat itu. Virus ini menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga kepada tahap flu berat. Virus ini sangat cepat sekali penyebarannya hingga berdampak pada ratusan negara yang ada di dunia, khususnya negara Indonesia sudah banyak masyarakat yang terpapar virus tersebut.

Jika dilihat, banyak sekali hikmah yang ada didalam kehidupan kita, terutama bagi kita sebagai umat islam saat adanya wabah virus ini. Hikmah inilah yang nantinya perlu kita ambil sebagai pelajaran untuk memperbaiki hubungan kita kepada Allah SWT dan terlebih sebagai hikmah untuk memperbaiki kehidupan kita sebagai umat Muslim untuk melangkah kepada arah yang lebih baik dan jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Karena biar bagaimanapun Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini atas kehendak dan takdirnya. Allah pun mempunyai maksud serta hikmah didalamnya. Dan kita sebagai ummatnya yang beriman dan mempercayai adanya Qodho dan Qodar, kita harus mencari tahu hikmah atas segala apa yang sudah Allah takdirkan dan melihatnya dengan kacamata keimanan yang kita miliki.

Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 269 yang berbunyi : Artinya: “ Allah menganugrahkan Al-Hikmah atau (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang di anugerahkan karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat mengambil dari Firman Allah SWT”
Allah SWT menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk juga sebaik-baik akal. Dan kita sebagai umat Islam wajib untuk berpikir dan mengambil hikmah yang terjadi dan hikmah yang tersembunyi dibalik adanya segala sesuatu hal, baik itu yang bersifat terang-terangan atau segala hal yang bersifat tersembunyi.

Contohnya adalah wabah virus Corona ini yang sedang terjadi diantara kita semua. Hikmah yang paling besar adalah bahwasanya dengan ini kita menjadi semakin sadar bahwa Allah lah segala pencipta langit, bumi dan seisinya.

Bahkan kita sebagai manusia hanyalah seorang yang lemah dan tak berdaya. Bisa kita lihat, bahwa virus yang kecil saja sudah bisa menggemparkan manusia dengan ketakutan dan kepanikan yang menggemparkan dunia. Dan dengan adanya virus ini kita sebagai manusia dibuat sadar bahwa dengan adanya wabah ini tidak lantas membuat kita menjadi sombong kepada Allah. dan kita tak pantas untuk tinggi hati sebab Allah lah yang memiliki daya dan upaya atas segala hal yang ada di dunia ini. yang menciptakan hidup dan mati.

Tiada daya dan upaya atas segala apa yang ada dimuka bumi ini. Dan tanpa pertolongan dari Allah, kita sebagai manusia bukanlah apa-apa. Dan kita tidak dapat melakukan apapun tanpa kehendak dariNya.

Selain hikmah diatas, masih banyak beberapa hikmah yang bisa diambil dari adanya wabah Covid-19 ini, dan nantinya dapat menjadi pelajaran untuk kita semua. Serta bisa kita terapkan hikmahnya kedalam kehidupan kita sehari-hari khususnya selama adanya wabah virus corona ini.

Hikmahnya diantara lain adalah :

1. Dapat meningkatkan kualitas ibadah serta memperbanyak dzikir dan memperkuat Do’a.

Dengan kita meningkatkan kualitas ibadah serta memperbanyak dekat kepada Allah, membuat hati kita menjadi tenang. Dengan adanya wabah Covid-19 yang merebak di berbagai negara termasuk di Indonesia, tentunya hikmah yang dapat kita ambil sebagai umat Islam adalah dengan memperbanyak serta meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah, juga memperbanyak dzikir dan berdo’a.
Ketika seorang manusia merasa hatinya sedang merasa kesulitan, kegundahan, sedang tertimpa musibah berupa sakit atau bencana lainnya. Maka sudah sepatutnya sebagai hamba Allah kita harus mendekatkan diri kepada Allah, merayu kepada Nya untuk meminta pertolongan kepada Allah dengan senantiasa memperbanyak berdoa dan berdzikir kepada Allah. Dan Allah pasti mendengar doa-doa hambaNya. Allah akan melihat bagaimana kita sebagai umat islam melaksanakan kewajiban kita sebagai hamba Nya yang senantiasa menyembah Nya, mengingat Nya selalu. Karena sejatinya manusia yang tidak mau berdoa kepada Allah termasuk orang yang sombong.

2. Menjaga kebersihan diri serta lingkungannya.

Dilansir dari The United Nations Environment Programme Menjaga kebersihan diri dan lingkungan sangat diperlukan, terlebih lagi disaat banyak wabah virus corona dimana-mana. Kita juga dilatih untuk senantiasa menjaga kebersihan diri juga lingkungan. Bahkan adanya virus ini menuntut kita untuk lebih sering mencuci tangan menggunakan air bersih dan mengalir, juga kita tak lupa untuk selalu membersihkan lingkungan sekitar kita agar tetap terjaga kesterilannya.
Sebelum pemerintah menganjurkan cuci tangan pun, bahkan didalam Islam, Allah sudah memerintahkan untuk rajin mencuci tangan terutama sebelum memegang sesuatu, sebelum makan, sebelum melakukan aktivitas dan lain-lain. Bahkan Islam juga mengajarkan kita untuk bersuci dengan berwudhu dan menjaga wudhu sebelum sholat, sebelum tidur, maupun menjalankan aktivitas lainnya. Dan dengan berwudhu, malaikat senantiasa selalu melindungi kita.

3. Populasi udara di jalan-jalan raya menurun, udara menjadi bersih dan sehat karena masyarakat diharuskan berdiam diri didalam rumah.

4. Meningkatkan rasa solidaritas antar sesama.

Akibat pandemi ini banyak orang-orang yang tidak bisa mencari nafkah untuk biaya hidup mereka. Untuk orang-orang yang mampu banyak yang memberikan bantuan berupa sembako atau uang kepada mereka sebagai bentuk solidaritas kita kepada antar sesama.

5.Menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan.

Sejatinya, menumbuhkan rasa syukur kepada Allah tidak harus ketika dalam keadaan lapang, akan tetapi dalam keadaan susah kita pun harus selalu bersyukur atas segala nikmatnya. Sebab, syukur akan kita rasakan manakala kecintaan kita kepada Allah dan merasa cukup atas segala nikmatNya sudah tertanam didalam hati kita. Dengan selalu melihat kebawah. Melihat kepada orang yang lebih susah daripada kita.

6. Memperkuat kesadaran untuk terus menuntut ilmu.

Karena meskipun kita berada di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata obat untuk virus corona belum ditemukan, hal ini tercatat dalam kompas.com. Maka dari itu pentingnya untuk memperdalam ilmu. Khususnya dalam ilmu agama. Karena Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu.

7. Dengan adanya wabah covid 19 ini mempunyai beberapa hikmah, salah satunya juga kita semakin banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga.

Yang biasanya mempunyai kesibukan masing-masing kini setelah ada kebijakan dari pemerintah untuk belajar serta bekerja di rumah maka waktu dengan keluarga semakin banyak.

8. Memperbanyak Infaq dan sedekah.
Dengan tutupnya beberapa lapangan pekerjaan akibat adanya wabah virus corona ini, membuat sebagian masyarakat terutama buruh, pedagang menjadi resah. Koentjoro mengungkapkan, Banyak orang resah dan panik akan kelanjutan hidupnya nanti ditengah pandemi Covid-19. Maka sudah seharusnya sikap kita sebagai umat Islam meringankan beban mereka, dengan berinfaq dan bersedekah dengan apapun kepada mereka yang terkena dampak Covid-19 secara langsung. Karena didalam Islam, diajarkan bagaimana meringankan tangan untuk membantu mukmin yang lain, inshaAllah akan mendapatkan ganjaran yang sangat baik dari Allah SWT.

9. Dengan merebaknya wabah ini, menuntut kita untuk menjaga diri tidak melakukan kontak secara langsung khususnya dengan yang bukan mahrom.

Seorang muslim dilarang bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Dengan adanya wabah virus corona ini kita dilarang untuk melakukan kontak fisik baik itu salaman dan sebagainya. Dan bahkan pemerintah menganjurkan untuk menjaga jarak sejauh 1 meter. Maka dengan itu, kita dapat mengambil hikmahnya dari adanya virus Corona ini.

10. Dengan adanya virus Corona ini, hikmahnya juga dapat memperkuat tali silaturahmi antar sesama manusia.

Musibah dalam bentuk apa pun pasti akan dialami manusia (QS Al Baqarah 155), yang jika menimpa orang-orang kafir, maka mutlak sebagai azab (QS As Sajdah: 21). Sebaliknya, jika menimpa orang-orang mukmin, pasti bagian dari kasih sayang Allah SWT kepada hambanya tak lain dan tak bukan merupakan bagian pelajaran dan ibrah dan dengan ujian itu Allah akan mengangkat derajat hambaNya.

Paling tidak, ada tiga kemungkinan bentuk kasih sayang Allah SWT di balik musibah yang menimpa hamba-hamba yang dicintai-Nya:
Pertama sebagai ujian keimanan (QS Al Ankabut 2-3). Ujian tentu saja sesuatu yang sangat positif. Seorang mahasiswa tidak akan pernah berhasil menjadi sarjana tanpa menempuh berbagai ujian. Yang tidak positif adalah ketika seseorang tidak lulus menjalani ujian. Dan yang sudah pasti tidak akan lulus adalah mereka yang tidak pernah ikut ujian.

Setiap mukmin diharapkan bisa berhasil lulus menghadapi wabah covid-19 ini. Di antaranya dengan berikhtiar seoptimal mungkin untuk mengatasinya, dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya, sambil hati tetap teguh dalam keimanan, bersabar, bertawakkal dan berserah diri hanya kepada Allah.

Kedua sebagai pilihan Allah yang terbaik. Di mana tidak tertutup kemungkinan yang dikira sesuatu yang tidak baik itu, justru sesuatu yang sangat baik yang sedang Allah rencanakan dan tetapkan untuk kemaslahatan hidup di dunia dalam menggapai kebahagiaan yang hakiki dan abadi di Akhirat nanti.

Kehadiran wabah covid-19 sangat mungkin pilihan terbaik bagi sebagian mukmin untuk meraih predikat syahid. Sebagaimana yang dijanjikan Alah lewat sabda Rasul-Nya, dalam hadist yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, di mana suatu ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam perihal wabah endemi, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyatakan wabah seperti itu merupakan bagian dari azab yang ditimpakan Allah kepada orang-orang yang Dia kehendaki.

Namun, Allah menjadikan wabah juga sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin. Maka jika wabah pandemi terjadi di suatu daerah, lalu seorang mukmin menahan diri untuk tetap tinggal di daerah tempat tinggalnya dengan sabar, disertai keyakinan, bahwasanya musibah tidak akan pernah menimpa dirinya, kecuali jika Allah SWT menetapkannya, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mati syahid”. HR Bukhari .

Sementara dalam riwayat Ahmad bin hambal diriwayatkan tetap “Bertahan di rumahnya”.

Dalam mensyarah hadist tersebut, Imam Ibnu Hajr Al’Asqolani menyatakan, bahwasanya pahala syahid tidak hanya akan diraih oleh mereka yang wafat disebabkan wabah covid-19 saja, tapi juga akan diperoleh oleh orang-orang mukmin yang senantiasa berupaya secara optimal di jalan Allah mengatasi wabah tersebut.

Ketiga sebagai teguran dan peringatan dari Allah SWT yang disebabkan kesalahan dan dosa yang telah diperbuat. Kemungkinan yang ketiga ini pun wujud dari kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya, agar bersegera bertaubat dan kembali ke shirotol mustaqiim sebelum tiba saat sakratul,dan sebelum datangnya ajal seseorang.

Untuk itu, maka mari kita bersama menyikapi kehadiran wabah covid-19 sebagai ujian keimanan, mudah-mudahan kita lulus bahkan berhasil meraih pahala syahid bagi yang wafat maupun yang selamat. Lalu kita hadapi juga dengan bersabar, bertawakkal dan bertaubat kepada Allah, di antaranya dengan masing-masing memperbanyak beristighfar dan berupaya kembali ke jalan kehidupan yang diridhoi Alloh SWT sesuai petunjuk Alquran dan as-sunnah dalam seluruh aspek hidup dan kehidupan.

Seorang mukmin akan menghadapi ujian dalam dua keadaan : kondisi susah dan kondisi senang. Firman Allah : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” [QS Al-Ankabut: 2]. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS Al-Anbiya: 35). Dalam setiap ujian yang menimpa manusia akan selalu ada kebaikan.

Oleh karena itu Nabi bersabda: “Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Tidaklah Allah menetapkan kepadanya sesuatu kecuali itu merupakan kebaikan baginya“ (HR. Ahmad).

Hikmah yang pertama adanya ujian dan cobaan yang Allah turunkan kepada hamba-hambanya adalah agar Allah semakin mengetahui siapa di antara hamba-hambanya yang benar-benar berada di atas kesabaran dan siapa di antara hamba-hambanya yang berada dalam keputusasaan. Allah berfirman : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS.Al-Baqarah: 155).
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (QS Al-Baqarah :156).

Oleh karenanya Nabi Muhammad saw bersabda: “Sungguh mengherankan perkaranya orang mukmin, karena setiap perkaranya akan baik baginya, apabila dia mendapatkan kenikmatan maka dia bersyukur dan itu baik bagi dia, dan apabila ia mendapatkan musibah maka ia bersabar maka itupun baik bagi dia” (HR Bukhari). Firman Allah SWT : Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur” (QS Saba’ :19).

Hikmah yang selanjutnya, ujian akan menghapuskan kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajatnya, dan hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang betul-betul mentauhidkan Allah ta’ala dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya. Allah berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syura:30). Rasulullah bersabda : “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundahgulanaan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya” (HR. Bukhari).
Dari Saad bin Abi Waqqash ia mengungkapkan: “Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab: “Para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang sesudah mereka secara berurut menurut tingkat keshalihannya. Seseorang akan diberi ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, akan ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringkankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari). “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya” (HR.Muslim).

Hikmah yang terakhir, dengan adanya ujian dan cobaan seorang hamba yang beriman akan semakin sadar bahwa keduanya datang salah satu penyebabnya adalah kemaksiatan dan perbuatan dosa yang dilakukan hamba terhadap rabbnya, sehingga seorang mukmin akan bersegera bergegas untuk bertaubat dan mengingat Allah ta’ala kembali, betapa banyak orang yang sadar dan bertaubat setelah ditimpa ujian dan cobaan dan itu bisa kita rasakan dan saksikan.

Ibnu Abi Ad-Dunya RA meriwayatkan dari Anas bin Malik RA, bahwasanya beliau dan seorang lagi masuk menemui ummul mu’minin ‘Aisyah RA, lalu orang tersebut berkata: “Wahai Ummul Mukminin! Beritahukanlah kepada kami tentang gempa.” Maka ‘Aisyah menjawab: “Apabila mereka telah memperbolehkan perzinahan, meminum khamer, memainkan alat musik, maka Allah SWT marah di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: “Bergoncanglah atas mereka! Jika mereka bertaubat dan meninggalkan perbuatan tersebut (berhentilah), jika tidak, maka hancurkanlah mereka!” Orang tersebut berkata : “Wahai Ummul Mukminin! Apakah itu adzab atas mereka?” Beliau menjawab: “Itu adalah peringatan dan rahmat bagi orang-orang beriman, dan hukuman, adzab serta murka atas orang-orang kafir.”

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita dan kita senantiasa berusaha menjadi orang yang beruntung dan mendapat kemenangan dalam menghadapai ujian dan cobaan baik itu berupa nikmat maupun musibah. Hanya Allah satu-satunya Zat Yang Maha Pemberi Petunjuk dan tiada sekutu bagi-Nya.*

 

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.