Indonesia Berdakwah

Ilustrasi: Visual Memahami Makna di Balik Fenomena

Ilustrasi

TRANSINDONESIA.CO | Membahas ilustrasi seperti mengurai makna dari berbagai fenomena yang terangkai dalam untaian kata. Banyak model membahas ilustrasi dan ilustratornya. Seperti membahas komikus Wid NS https://youtu.be/nuzKEd5u6Yk. Membahas buku dari ilustrasinya dalam video pendek akan terus dapat berkembang seakan tidak ada habisnya.

Selain buku dari majalah, novel, komik bahkan kalau ditarik ke masa lampau bisa dapat dikaji dari relief, wayang beber, dsb. Pendekatan dalam membahas ilustrasi antara lain :

1. Pendekatan dari masa ke masa atau berdasar sejarah. Bisa dikaitkan dengan politik, religi, seni tradisi, komuniti hinggi teknologinya.

2. Pendekatan tema/ konten yang divisualkan : a. Sejarah, b. Perjuangan dan kemerdekaan, c. Dongeng, Edukasi/pelajaran sekolah, d. Media cetak, e. Media sosial, f. Religi, h. Seni budaya, dsb.

3. Jenis ilustrasinya : a. Cover, b. Komik, c. Gaya atau aliran yang diikuti, d. Karikatur, e. Kartun, dsb.

4. Ilustratornya
5. Konten
6. Pemggemar/fans clubnya
7. Pengkategorian ilustrasi, dsb.

Ilustrasi dapat dibuat secara surealis, ini dapat menjadi semacam “klaim” Budaya lama berkaitan dengan genre lukisan dunia. Ilustrasi berkaitan dengan peradaban dan kebudayaan masyrakat yang sudah dimulai dari lukisan lukisan manusia gua. Materi yang dibuat dari batu, kayu, kain, kertas sampai media sosial.

Ilustrasi dan ilustratornya tatkala di kemas, diinteepretasi dan diapresiasi secara layak maka itu sebenarnya harta karun. Memang belum terlihat, karena belum diolah (dikemas, dimaknai dan dimarketingkan), dapat dianalogikan seperti terigu, telor dan gula yang harganya lebih murah sebelum diolah menjadi kue. Membahas ilustrasi dan ilustratornya tidak sebatas yang tangible.

Para ilustrator muda Indonesia bagai rajawali rajawali baru yang karya mereka memdunia. Karya ilustrasi dapat menarik juga jika disandingkan antara yang tradisional, konvensional dengan karya kontemporer seperti digital art. Karya ilustrasi kontemporer sesungguhnya berakar pada karya lama. Bisa saja karya kontemporer yang “baru” seringkali merupakan daur ulang dengan kemasan baru. Bagi yang gak paham akarnya, bisa jadi dianggap penciptaan baru, sebagai ciptaan original. Sering kali para pengamat/ pembahas seni ber “kiblat” ke barat maka hal dengan karya tradisi malah di tolak atau dianggap tidak ada. Padahal semua yang di lihat dan di serap pada masa kecil seniman, sering tidak sadar muncul dari bawah sadar pikirannya. Dan dianggap ide baru.

Ilustrasi merupakan seni yang merupakan karya jiwa. Setiap kelompok kelompok manusia yang mampu bertahan dengan kebudayaannya sebenarnya mereka berkesenian yang coraknya berbeda dengan daerah atau kelompok lain. Hanya peka atau tidak kita memahami mengolah dan mengangkatnya sebagai harta karun bangsa.**

Jakarta 24 April 2021

Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.