Indonesia Berdakwah

Literasi Tamadun Deli: PUTRI HIJAU

Tunku Abdul Rahman. [Transindonesia.co /alamy.com]

TRANSINDONESIA.COAbdul Rahman (1955)

Permulaan

Bismillah itu permulaan kata
Dengan nama Allah semesta alam
Saya mengarang satu cerita
Orang dahulu empunya warta.

Adapun maksud syair dikarangkan
Bukannya pandai saya tunjukkan
Cerita yang benar saya kabarkan
Lebih dan kurang harap maafkan.

Karena saya bukan pengarang
Ilmu tiada faham pun kurang
Hina dan miskin bukan sembarang
Duduk bercinta di negeri orang.
I
Cerita ini nyata terjadi
Di Sumatera Timur, di Tanah Deli
Cerita dulu lama sekali
Hikayat seorang raja asli.

Meskipun cerita mustahil rasanya
Kebanyakan orang demikian fahamnya
Hukum akal ada menerimanya
Semuanya ini harus adanya.

Jika dikehendaki Tuhan semesta
Yang sulit itu menjadi nyata
Lautan boleh menjadi kota
Gunung yang tinggi menjadi rata.

Begitu juga cerita ini
Kodrat Allah Tuhan rabbani
Membenarkannya orang berani
Banyak yang tahu di sana sini.

Banyak keterangan sudah didapati
Ataupun tanda-tanda sebagai bukti
Tanda sudah saya lihati
Menjadikan percaya di dalam hati.

Tiga keterangan saya tunjukkan
Tuan-tuan pembaca boleh saksikan
Bersama-sama kita pikirkan
Benarkah ia ataupun bukan.

Keterangan pertama saya membagi
Suatu pancuran tepian mandi
Sampai sekarang tinggallah sendi
Di Delitua adalah lagi.

Di Delitua tempatnya itu
Rupanya hampir seperti batu
Jarang orang sampai ke situ
Karena jalannya tiada bertentu.

Keterangan kedua lagi suatu
Meriam puntung asalnya ratu
Di Istana maimun tempatnya itu
Beratapkan ijuk berlantai batu.

Keterangan ketiga konon kabarnya
Seekora naga yang amat besarnya
Di Belawan deli tempat lajunya
Sampai sekarang ada bekasnya.

Sampai di sini saya berhenti
Keterangan-keterangan sudah terbukti
Dengan cerita baik diganti
Supaya hasil maksud di hati.

Beginilah konon mula cerita
Seorang raja di atas tahta
Kerajaan besar sudahlah nyata
Rakyatnya banyak beribut juga

Kerajaanya besar nyatalah sudah
Negerinya ramai kotanya indah
Banyaklah dagang ke sana berpindah
Kepada baginda datang merendah.

Sultan sulaiman nama baginda
Hukumnya adil cacat tiada
Kaya, miskin, tua dan muda
Dihukum baginda tidak berbeda.

II Sultan Sulaiman

Delitua negerinya itu
Kotanya kukuh berpagar batu
Pasarnya ramai bukan suatu
Tiada berbanding di zaman itu.

Baginda berputra tiga orang jua
Laki-laki konon putra yang tua
Putri cantik putra kedua
Parasnya elok jarang tersua.
Putri Hijau disebut namanya
Eloknya tidak dapat disama
Sebagai dewa turun menjelma
Gemilang sebagai bulan purnama.

Wajahnya bercahaya berseri-seri
Laksana paras anakkan peri
Tiada bandinganya di dalam negeri
Mahal didapat sukar dicari.

Putih kuning badannya sedang
Pinggangnya ramping dadanya bidang
Rambutnya hitam terlalu panjang
Memberi asyik siapa memandang.

Putih berseri nyata kelihatan
Giginya berkilat seperti intan
Seumpana sinar bintang selatan
Menjadikan lupa segala ingatan.

Putra yang bungsu laki-laki juga
Parasnya elok tiadalah dua
Menarik hati orang semua
Dikasihi rakyat muda dan tua.

Adapun akan duli baginda
Istrinya lama sudah tiada
Banyak dicari gadis dan randa
Hati baginda penuju tiada.

Tinggallah baginda tiada beristri
Memerintah kota dusun negeri
Banyaklah datang dagang senteri
Kepada baginda perhambakan diri.

Putri hijau baginda peliharakan
Apa kehendaknya baginda turutkan
Tiadalah pernah baginda bantahkan
Kasih dan sayang tiada terperikan.

Beberapa lama demikian itu
Di atas tahta konon sang ratu
Dengan kehendak Tuhan yang satu
Baginda gering suatu waktu.

Baginda nan gering bukan kepalang
Badannya kurus tinggallah tulang
Tabibpun selalu datang berulang
Mengobati baginda raja terbilang.

Tabib berusaha bersungguh hati
Menolong baginda raja berbakti
Sudahlah takdir Rabul’izzati
Penyakit tak dapat lagi diobati.

Pertolongan tabib tiada berfaedah
Semakin payah sultan yang syahdah
Akal baginda hampirlah sudah
Ke negeri yang baka akan berpindah.

Dengan hal yang demikian itu
Penyakit menggoda setiap waktu
Obatnya tiada dapat membantu
Baginda mangkat ketika itu.

Baginda berpulang ke rahmatullah
Tahta kebesaran semua tinggallah
Harta dunia sudah terjumlah
Kepada yang lain diberikan Allah.

Atas kehilangan duli mahkota
Rakyatpun sangat berdukacita
Menteri, hulubalang menangis rata
Istimewa pula putra sang nata.

Ketiga putra raja sangatlah pilu
Bercerai dengan junjungan hulu
Hatinya rawan bertambah pilu
Sebagai diiris dengan sembilu.

Menangislah ia tiga saudara
Hatinya pilu tiada terkira
Sebagai terbuai di hutan dura
Sangat merasai azab sengsara.

Cerita tiada saya panjangkan
Jenazah baginda lalu dimakamkan
Dengan alatnya semua dikerjakan
Adat raja-raja lengkap diadakan.

Setelah selesai pekerjaan itu
Tinggallah putera berhati mutu
Duduk bermenung setiap waktu
Terkenanglah ayahanda paduka ratu.

Akan ganti duli baginda
Putra yang sulut menjadi raja
Hukumnya adil samalah saja
Dengan marhum paduka ayahanda.

Seisi negeri bersenang hati
Melihatkan perintah demikian pekerti
Rakyatpun sangat berbuat bakti
Segala perintah mereka turuti.

III. Raja Aceh

Begitulah konon orang cerita
Delitia mashurlah warta
Sultannya arif alam pendeta
Bijak bestari adalah serta.

Tersebutlah pula kisah suatu
Adalah konon seorang ratu
Di negeri Aceh bercahaya itu
Gagah berani konon sang ratu.

Kerajaan besar bukan kepalang
Banyak mempunyai menteri hulubalang
Gajah dan kuda tiada terbilang
Di pelabuhan banyak kapal pencalang.

Raja Aceh tiada samanya
Di Pulau Sumatera mashur kabarnya
Parasnya elok sukar bandingnya
Serta berani dengan gagahnya.

Pada masa suatu ketika
Semayam di balai Sultan paduka
Dihadap oleh menteri belaka
Hati baginda sangatlah suka.

Menterinya bercerita ini dan itu
Beberapa nasihat adalah tentu
Disembahkan kepada paduka ratu
Baginda suka bukan suatu.

Demikianlah halnya setiap hari
Baginda dihadap hulubalang menteri
Beserta dengan dagang senteri
Serta raja-raja takluknya negeri.

Apabila sudah berkata-kata
Baginda menjamu sekalian rata
Tua muda adalah serta
Menerima karunia raja mahkota
Begitulah selalu pekerjaannya
Kepada rakyat sangat kasihnya
Adil dan murah baik budinya
Sedikitpun tiada dibedakannya.

Rakyatpun cinta kepada rajanya
Apa kehendak diturut saja
Baik tua muda remaja
Tiada seorang bermuram durja.
Suatu masa duli sang ratu
Hari jumat di malam sabtu
Baginda berdiri di muka pintu
Bersenang diri peluang waktu.

Ketika itu bulan pun terang
Seluruh alam terang benderang
Angin bertiup serang meneyerang
Baginda pun suka bukan sembarang

Dengan takdir Allah Ta’ala
Terpandang cahaya di cakrawala

Warnanya hijau menyala-nyala
Sebagai cahaya sebuah kemala.
Baginda pun heran bukan suatu
Melihat cahaya serupa itu
Takjub di hati duli sang ratu
Cahaya apakah gerangan itu.

Melihat hal demikian peri
Ke dalam istana baginda berlari
Menyuruh memanggil hulubalang menteri
Menunjukan cahaya sambil berdiri.

Kepada wazirnya baginda berkata:

“Aduhai mamanda, coba cerita
Cahaya apakan demika nyata,
Belum pernah di pandang mata.
Selama hidup wahai menteri
Tak pernah melihat demikian peri
Keterangan harap segera beri
Cahaya apakah hijau berserit?”

Wazir menjawab dengan segera:

“Ampun tuanku raja negera
Pada patik empunya kira
Itulah cahaya bahtera indera.
Sungguhpun patik berkata begitu
Dalam hati belumlah tentu
Karena jauh bukan suatu
Di negeri asing tempatnya itu.

Cahaya nan bukan di negeri kita
Karena sayup dipandang mata
Jika tuanku hendakkan nyata
Titahlah orang memeriksa serta.

Pada patik empunya hemat
Itulah tentu suatu alamat
Entah dunia hendak kiamat
Baik diperiksa dengan cermat.
Baginda mendengar sembah wazirnya

Merasa berkenan dalam hatinya
Iapun masuk ke dalam istananya
Di atas peraduan membaringkan dirinya.

Tetapi baginda tak dapat lena
Karena hatinya gundah gulana
Terkenang cahaya suatu makna
Belum diketahui dengan sempurna.
Demikian halnya semalam-malam

Tinggal berbaring di atas tilam
Hatinya sagat gundah di dalam
Memikirkan cahaya sebagai nilam.

Setelah siang sudahlah hari
Baginda semayam di balairung sari
Dihadap oleh perdanan menteri
Rupanya lesu tiada terperi.
Wazir melihat paduka ratu

Bermuran durja berhati mutu
Hatinya pilu bukan suatu
Tunduk menyembah ketika itu.

Wazirpun lalu segera berperi:

“ampun tuanku mahkota negeri
Apakah sebab demikian peri,
Tiada sebgai sehari-hari?
Mengapa tuanku berhati pilu
Adakah musuh hendak memalu
Berilah tahu, duli penghulu
Biarlah patik mati dahulu.”

Baginda tersenyum manis berseri
Mendengar sembah wazir bestari
Sukanya tiadak lagi terperi
Dengan perlahan bagian berperi

Lemah lembuh baginda bersabda:

“Aduhai wazirku usul yang syahda
Suruhkan orang jangan tiada
Mencari cahaya di mana ada.
Siapkan kelengkapan mana yang perlu
Supaya mereka segera berlalu
Tanyakan orang hilir dan hulu
Sebelum didapat hatiku pilu.

Apabila cahaya sudah didapati
Hendaklah mereka kembali pasti

Supaya aku bersenang hati
Jika tiada, tentulah mati.”
Tatkala wazir mendengar titah
Iapun tunduk, lalu menyembah:

“Ampun tuanku dulu khalifah
Titah tuanku benarlah sudah.
Biarlah pati pergi sendiri
Bersama dengan seorang menteri

Segenap negeri patik edari
Tiada pati merasa ngeri
Demikian sultan mendengar kata
Hatinya sangat bersuka cita

“Aduhai wazirku susul yang po’ta
Kuserakan kepada Tuhan semesta

IV. Mencari Cahaya Hijau

Segeralah mamanda berjalan pergi
Kudoalan juga petang dan pagi
Jika ada Allah membagi
Beroleh keuntungan jangan merugi.

Setelah sudah demikian itu
Wazirpun menyembah kepada ratu
Berjalan ia menuju pintu
Keluar dari kotanya batu.
Seorang menjadi tolan
Lengkat membawa bekal-bekalan
Sangatlah cepat mereka berjalan

Dengan hati merasa malan
Berjalan mereka dua sekawan
Hatinya sangat pilu dan rawan
Tempat dituju tiada ketahuan
Menyerahkan dirinya kepada Tuhan.

Mereka berjalan sehari-hari
Sehingga sampai malamnya hari
Sambil memandang ke sana ke mari
Maksudnya cahaya hendak dicari.

Dengan kodrat Rabbil’idjali
Nampaklah cahaya lagi sekali
Hijau terbentang umpama tali
Letaknya arah di tanah Deli.

Waktu wazir memandang nyata
Cahaya terang sebagai pelita
Kepada menteri dikabarkan serta
Mereka pun sangat bersuka cita.

Lama mereka melihat itu
Herannya bukan lagi suatu
Berdiam diri bsegai batu
Memikirkan kekayaan Tuhan yang satu.

Seketika lagi cahayapun hilang
Tiada bintang gemerlap-gemilang
Bulanpun terbit cahaya cemerlang
Menerangi bumi tiada berselang.

Jauh malam sudahlah hari
Merekapun mengantuk tiada terperi
Pohon yang tindang segera dicari
Keduanya lalu membaringkan diri.

Tatkala hari sudahlah siang
Keduanya bangun lalu sembayang
Dalam hatinya sangatlah riang
Tempah cahaya sudah terbayang.

Setelah sudah sembayang itu
Berjalan kedua mereka itu
Berserah kepada Tuhan yang Satu
Kepadanya mendoa meminta bantu.

Tiadalah saya berpanjang kalam
Mereka berjalan siang dan malam
Beberpa menempuh hutan yang kelam
Gunung yang tinggi lembah yang dalam.

Dengan takdir Rabbi’idjalali
Sampailah mereke ke Labuhan Deli
Ke dalam ngeri langsung sekali
Mereka menyamar sebagai kuli.

Di situlah mereka berhentu keduanya
Karena hendak melepaskan lelahnya
Tambahan hendak bertanyakan halnya
Akan cahaya di mana tempatnya.

Dengan beberapa daya upaya
Dapatlah mereka hikayat cahaya
Di Delitua nyatalah ia
Dalam istana tempat yang mulia.

Itulah cahaya putri ratu
Bukanlah cahaya jin dan hantu
Putri Hijau namanya itu
Putri yang cantik bukan suatu.

Bermufakatlah wazir dan menteri
Hendak pergi ke Delitua negeri
Maksud melihat tuannya putri
Dipersaksikan dengan mata sendiri.

Cerita tidak dilanjutkan lagi
Kedua mereka lalulah pergi
Berjalan mereka duanya hari
Sampailah mereka ke dalam negeri.

Dengan beberapa daya upaya
Ke dalam istana sampailah ia
Menyamarkan diri sebagai sahaja
Tingkah dan laku serta gaja.

Sudahlah untung bagi mereka
Sampailah sudah saat ketika
Dengan tiada disangka-sangka
Putri Hijau nampaklah muka.

Parasnya elok bagai digambar
Memandang putri hati berdebar
Indah putri tak dapat terkabar
Lalu mengucap Allahu Akbar.

Mereka tercengang terlalu lama
Menentang paras putri utama
Cantik majelis dewi menjelma
Tiada banding di mana-mana.

Setelah hati jauhlah malam
Putri pun lalu masuk ke dalam
Wazirpun masih pikirkan kelam
Menentang putri permata nilam.

Ia berkata kepada menteri:

‘sekarang apa bicara diri
Kita nan sudah sampai ke mari
Makdus sampai Allah memberi”

Menteri pun lalu menjawab kata:

‘Aduhai saudara wazir yang po’ata
Jika menurut pikiran beta
Baiklah kita kembali serta’.
Ke negeri Aceh kembali kita
Persembahan kepada duli mahkota
Segala yang sudah dipandang mata
Supaya baginda tiada bercinta’.

Wazir mendengar perkataan itu
Dalam hatinya benarlah tentu
Mereka pun keluar darinya situ
Menyamar kepada penunggu pintu.

Dari dalam istana keluar mereka
Hati keduanya sangatlah suka
Semuanya maksud sampai belaka
Ditolong oleh Tuhan yang baka.

Kedua mereka lalu berangkat
Dengan berjalan terlalu cepat
Perjalanan jauh serasa singkat
Ke negeri Aceh sudahlah dekat.

Kata orang empunya madah
Ke negeri Aceh sampailah sudah
Tiada lagi berhati gundah
Ke dalam koat menyampaikan sembah.

Waktu sultan melihat mereka
Hati baginda sangatlah suka
Berseri-seri warnanya muka
Lalu bertitah itu ketika.

Baginda bertitah demikian peri

“Aduhai mamanda wazir menteri
Mengapa segera pulang ke mari
Adakah sampai maksudnya diri?’.

Wazirpun tunduk lalu berkata:

‘Ampun tuanku duli mahkota
Berkat pertolongan Tuhan semesta
Sampailah sudah bagi dicita.

Patik mengembara segenap negeri
Bertanyakan wartanya ke sana ke mari
Dengan pertolongan Khaliku’bahri
Dapatlah warta, kabar dan peri.

Adapun akan cahaya itu
Bukanlah cahaya jin dan hantu
Hanyalah cahaya Putri Hijau
Di Delitua berkota batu.

Gemilang cahaya seorang putri
Di Delitua namanya negeri
Eloknya tidak lagi terperi
Mahal didapat sukar dicari.

Cantik sungguh putri bangsawan
Beserta dengan budi dermawan
Mukanya bujur kilau-kilauan
Memberi asik laki-laki perempuan.

Giginya putih cahaya cemerlang
Umpama dian di dalam pelang
Gaya dan sikap indah terbilang
Jika terpandang semangat hilang.

Ampun tuanku mahkota negeri
Sungguhlan cantik tuan putri
Patutu dihadap hulubalang menteri
Kepada tuanku menjadi suri.

Perempuan begitu sukar didapat
Meski dicari segenap tempat
Cukup padanya segala sifat
Sangat beruntung siapa mendapat’’.

Demi sultan mendengar warta
Baginda diam tiada berkata
Di dalam hati timbullah cinta
Kepada putri indah jelita.

Cinta birahi timbul menggoda
Kepada sultan yang masih muda
Rasanya cinta di dalam dada
Kepada putri muda remaja.

Jika penyakit demikian pekeri
Tentu obatnya sukar didapati
Jika tak dapat cinta di hati
Tentulah badan merana dan mati.

Penyakit cinta kalau terlena
Tentulah badan jadi merana
Karena rindu gundah gulana
Makan tak sedap tidur tak lena.

Tiadalah saya berpandang madah
Karena hati sangatlah gundah
Tambahan mengarang bukannya mudah
Ditulis sekedar yang berfaedah.

Sultan Aceh raja bangsawan
Sehari-hari berhati rawan
Terkenang putri muda rupawan
Maksud hendak dibuat kawan.

V. Meminang Putri Hijau

Ditetapkan pikiran di dalam diri
Hendak meminang tuannya putri
Dikabarkan kepada wazir dan menteri
Mujurlah melengkapi kapal sendiri.

Karena baginda hendak berpesan
Ke Delitua mengirim utusan

Meminang putri muda yang sopan
Supaya tiada harap-harapan.
Setelah kapal sudah dihiasi
Semua kurung telah dikemasi
Bekal-bekal lalu diisi
Cukup dengan nakhoda kelasi.

Orang tua-tua adalah serta
Mana yang diharap duli makhota
Ke Delitua membawa warta
Menyampai maksud di dalam cita.

Setelah kelengkapan sedia belaka
Sauh ditarik layar dan jangka
Kapal melancar di Selat Malaka
Hilang dimata dengan seketika.

Kapal berlayar siang dan malam
Menempuh lautan yang amat dalam
Dipukul gelombang timbul tenggelam
Di Selat Malaka sebagai menyelam.

Angin kencang gelombang pun besar
Hari panas seperti dibakar
Temberang bedenggung kemudi berkisar
Banyaklah mabuk segala laskar.

Berlayar tiada berapa antara
Nampaklah pesisir pulau Sumatera
Laskarpun suka tiada terkira
Di dalam pelayaran selamat sejahtera.

Lajunya kapal bukan bautan
Berlayar menyusur tepi daratan
Berkibar bendera haluan buritan
Labuhan Deli jadi tepatan.
Kapal berhenti sauh diturunkan
Gemuruh meriam orang tembakkan

Orang di pasar yang mendengar
Musuh menyerang mereka sangkakan.
Mendengar meriah gemuruh di kuala
Hati syahbandar berdebar pula
Dalam sekoci ia tersila
Beryaung segera jadi kepala.

Beberapa orang ada sertanya
Ke kuala negeri sampai ianya
Dilihatnya kapal sangat besarnya
Sangatlah heran rasa hatinya.

Kepada kapal iapun dekat
Memberi hormat tangan diangkat
Lalulah naik tangga bertingkat
Pergi mendapatkan nakhoda berpangkat.

Kepada nakhoda ia bertanya:

“kapal ini dari mana datangnya
Apakah sebab mula karenaya
Memasang meriam gemuruh bahannya?”.

Nakhoda menjawab lalu berkata:

“Aduhai saudara syahbandar yang po’ta
Kami dari Aceh membawa warta
Bukannya hendak melanggar kota.
Kami ini dititah sultan
Kehadiran sultan Deli dengan kehormatan

Membawa bingkisan emas dan intan
Cahaya memancar berkilat-kilatan.
Kami belajar amatlah jarang
Adat lembaga belumlah terang

Alpa dan khilaf banyak bersarang
Ampun dan maaf janganlah kurang.
Jikalau tuan ada kasihan
Beserta pula dengan kemurahan
Haraplah kami dapat bantuan
Membawa kami masuk pelabuhan”.

Syahbandar mengdengar kata nakhoda
Barulah senang di dalam dada
Takut dan ngeri sudah tiada
Di atas kapal berguran senda.
Setelah petang sudahlah hari

Syahbandar pun lalu bermohon diri
Turun ke dalam sekoci sendiri
Bersama wazir dan menteri.

Kemudian sekoci lalu disurung
Beberapa kelasi duduk berdayung
Seorang tiada berhati murung
Sekocipun laju umpama burung.

Setelah sampai ke dalam kota
Semua utusan dipersilahkan serta
Masuk ke rumah syahbandar kita
Lalu dijamunya sekalian rata.

Sampai pada keesokan hati
Utusan pun lalu bermohon diri
Hendak pergi ke dalam negeri
Menyampaikan pesan raja bestari.

Syahbandar menghormati kurang tiada
Lalu disediakan gajah dan kuda
Makan-makan mana yang ada
Tanda ikhlas di dalam dada.

Syahbandar lalu mengucapkan selamat
Utusan tunduk memberi hormat
Beberpa pujian yang mulia amat
Sebagai bertemu wakil keramat.

Setelah sudah berkata-kata
Utusanpun lalu naik kereta
Syahbandar mengantar dengannya mata
Rasanya hendak bersama serta.

Utusan berjalan ke dalam negeri
Kudanya kencang tidak terperi
Kereta kendaraan sebagai menari
Ditarik kuda sambil berlari.

Berkat keramat sultan makhota
Utusan pun tida mendapat lata
Sampailah ia bersama serta
Ke Delitua di ibu kota.

Merekapun masuk perlahan-lahan
Hendak menghadap raja pilihan
Beberapa banyak membawa persembahan
Umpama pohon beserta dahan.

Setelah sampai ke pintu kota
Penunggu pintu didapat serta
Lalu mengabarkan hal dan warta
Hendak menghadap raja mahkota.

Penunggu pintu mendengar itu
Iapun pergi menghadap ratu
Persembahan warta yang telah tentu
Utusan Aceh datang ke situ.

Baginda mendengar sembah biduanda
Sangat terkejut di dalam dada
Dengan perlahan ia bersabda
Suruhkan kemari jangan tiada.

Penunggu pintu lalulah pergi
Kepada utusan bertemu lagi
Disampaikan titah raja yang tinggi
Serta keterangan ada dibagi.

Utusan masuk ke dalam istana
Diiringkan oleh menteri perdana
Pergi menghadap raja yang gana
Tunduk menyembah dengan sempurna.

Tunduk menyembah merendahkan diri
Di hadapan raja mahkota negeri
Dengan perlahan ia berperi
Menyebut asal dan nama negeri.

Dengan hormat utusan berkata:

“Ampun tuanku duli mahkota
Dari Aceh datangnya beta
Dititah oleh duli mahkota.
Kami dititah oleh baginda
Menyampaikan iklas di dalam dada
Membawa persembahan mana yang ada
Harap diterima jangan tiada.

Persembahanpun tidak dengan seperti
Hanyalah iklas di dalam hati
Kepada tuanku raja yang sakti
Mudah-mudahan Allah berkati.

Adapun maksud raja terbilang
Pada tuan wajah gemilang
Jika tiada suatu menghalang
Memohon mestika cahaya cemerlang.

Mestika yang besar di dalam negeri
Cahanya terang ke sana ke mari
Memberi asik dewa dan peri
Mahal didapat sukar dicari.

Itulah dipohonkan oleh baginda
Pada tuanku usul yang syahda
Tulus dan iklas di dalam dada
Harapkan kurnia jangan tiada.

Demi baginda mendengar kabar
Hatinya guncang darah berdebar
Tetapi baginda raja yang sabar
Dibawa mengucap “Allahu Akbar.”

Baginda bertitah perlahan suara:

“Aduhai utusan Aceh negara
Hatiku suka tiada terkira
Sultan mengaku jadi saudara
Adapun akan kehendaknya itu
Jika ada Allah membantu
Haraplah bersabar sedikit waktu
Maksud baginda terkabulla tentu.

Mestika itu adalah sudah
Mendapat dia tentulah mudah
Jangan baginda berhati gundah

Kepada ia tentu berpindah
Begitulah saja kami berperi
Sabarlah utusan kadar dua hari
Semoga-moga ada Allah memberi
Dengan segeranya kami kabari.”

Utusan mendengar titahnya sultan
Hatinya sukan bukan buatan
Sebagai mendapat segunung intan
Mukanya bercahaya nyata kelihatan.

Setelah sudah berkata-kata
Utusanpun lalu bermohon rata
Pada baginda raja mahkota
Hendak berhenti di luar kota.

Apabila utusan sudah berlalu
Hati baginda merasa pilu
Sendi dan tulang rasanya ngilu
Terkenang kehendak Aceh penghulu
Baginda masuk ke dalam puri

Hendak bertemu saudara sendiri
Menceritakan utusan Aceh negeri
Supaya bersama boleh memikiri

Tatkala baginda masuk ke dalam
Putri Hijau sedang menyulam
Wajahnya bersih umpama nilam
Sebagai bulan diwaktu malam.

Apabila putri melihat saudara
Iapun berdiri dengan segera
Hormat tiada lagi terkira
Pada saudaranya raja negara.

Diambil puan lalu disorongkan
Dengan menyembah kepala ditundukkan
Baginda duduk sambil bertelekan
Sirih dipuan lalu dimakan

Lalu bermadah tuan putri
“Ampun kakanda mahkota negeri
Apakah maksud kakanda kemari
Makanya datang begini hari?”

Baginda lalu menjawab kata:

“aduhai adinda usul yang po’ta
Sebabpun maka ke mari beta
Adalah sedikit membawa warta.

Sebelumnya kakanda berkata begitu
Kabar nan sukar bukan suatu
Dari Aceh datangnya itu
Utusan seorang ratu.

Supaya maksud menjadi terang
Baiklah kakanda ceritakan sekarang.
Adindaku sudah dipinang orang
Raja yang besar di tanah seberang.

Utusan Aceh datang ke mari
Ada berhenti di luar negeri
Menanti kabar sehari-hari
Dari kakanda seorang diri.

Oleh sebab itu aduhai adinda
Berilah tahu pada kakanda
Sudikah adinda atau tiada
Bersuamikan sultan yang masih muda.

Harap kakanda bukan seperti
Pada adinda emas sekati
Permintaannya baik kita turuti
Supaya ia bersenang hati.

Karena adinda sudah remaja
Janganlah lagi berhati manja
Kehendak kakanda turutlah saja

Supaya selama sebarang kerja.
Demi putri mendengar cerita
Tunduk diam tiada berkata
Sambil bercucur air mata
Hatinya sebal tiada terderita.

Ia berkata perlahan-lahan
Suranya merdu tertahan-tahan
“Ampun kakanda raja pilihan
Bersuami nan belum ada perasaan.

Nama bersuami ampunlah patik
Karena pengetahuan belum setitik
Belum mengetahui bunga dan putik
Tak dapat membedakan sutera dan batik.

Pengharapan patik selama ini
Kepada Allah tuhan subahani
Bersama hidup bersama fani
Dengan kakanda raja yang gani.

Selama tiada ayahanda dan bunda
Pikiran adinda sangat tergoda
Semoga-moga ada rahim kakanda
Sudi memelihara diri adinda

Nama suami mohonkan dulu
Karena patik bodoh terlalu
Belum mengetahui hilir dan hulu
Akhirnya kakanda mendapat malu.”

Baginda mendengar sembah adiknya
Sangatlah pilu rasa hatinya
Tunduk termenung berdiam dirinya
Tiadalah lagi banyak berkatanya.

Baginda lalu bermohon diri
Berjalan keluar dari dalam puri
Pergi menuju istana sendiri
Hatinnya gundah tiada terperi.

Setelah hari sianglah tentu
Berangkatlah ke balai paduka ratu
Baginda bertitah ketika itu
Utusan Aceh dipersilahkan ke situ.

Utusan datang dengan segera
Menghadap baginda raja negara
Hatinya suka tiada terkira
Disangkanya maksud tiadala cedera.

Baginda berkata merdu suara:

“Aduhai utusan Aceh negara
Pada hamba empunya kira
Baiklah tuan kembali segera.

Baiklah tuan segera kembali
Sampaikan salam ke bawah duli
Akan kehendak raja asli
Tiadalah dapat hamba kabuli.

Semalam sudah hamba iktiarkan
Supaya mestika boleh didapatkan
Tetapi Allah belum mengizinkan
Jadilah maksud tiada tersampaikan

Hendakapun hamba akan memaksa
Takutlah pula jadi binasa
Akhirnya kita sesal merasa
Perbuatan tiada usul periksa.

Dari sebab itu aduhai utusan
Bawalah kembali segala bingkisan
Kepada baginda sampaikan pesan
Jangan kiranya murka dan bosan.

Salam dan sembar dari pada beta
Kepada baginda raja makhota
Jangan kiranya berduka cita
Ataupun murka kepada kita.

Bukanlah kami empunya salah
Sudahlah dengan kehendak Allah
Tiada boleh kersa sebelah
Haruslah setuju kedua belah.”

Mendengar titah sultan paduka
Utusanpun sangat merasa duka
Kelihatan pucah warnya muka
Mendengar begitu ia tak sangka.

Ia berkata sambil berdiri:

“Ampun tuanku mahkota negeri
Jika demikian tuanku berperi
Putuslah harap raja bestari.
Harap baginda bukan sedikit
Tinggi dari gunung dan bukit
Raja umpama kena penyakit
Makin lama tambah menjangkit.

Esoklah patik kembali segera
Kembali menuju Aceh negara
Semoga dijauhkan bala dan mara
Di sanalah patik dapat bicara.”
Setelah sudah berkata-kata
Lalulah utusan bermohon rata
Pergi berjalan ke luar kota
Maksudnya hendak berkemaskan harta.

Mereka berkemas semalam-malam
Menggulung tikar membungkus tilam
Hatinya sangat gundah di dalam
Terkenang perkataan duli syah’alam.

Setelah hari sianglah tentu
Berangkat utusan darinay situ
Ke Labuhan Deli tujunya tentu
Hatinya sebal bukan suatu.

Tiada saja berpandang madah
Ke negeri Labuhan sampailah sudah
Ke dalam kapal mereka berpindah
Layar ditarik kemudian ditatah.

Tiadalah lagi mereka berhenti
Ataupun syahbandar mereka dapati
Karena menurutkan kemurahan hati
Hilang sekalian budi pekerti.

Orang melihat demikian itu
Herannya bukan lagi suatu
Kapal berlayar tiada berwaktu
Kabarnya tiada barang suatu.

Semuanya orang datang mencela
Melihat adat utusan ter’ala
Kelakuan sebagai orang yang gila
Tiadalah patut menjadi kepala.

Sampai di sini kisah berhenti
Dengan yang lain pula diganti
Ke negeri Aceh kita lihati
Cerita sultan muda yang sakit hati.

Sejak utusan berlayar pergi
Bagindapun tiada berduka lagi
Sultan berharap petang dan pagi
Supaya maksudnya Allah membagi

Duduklah baginda dengan bersabar
Menunggu utusan membawa kabar
Darah di dada selalu berdebar
Sebagai bendera sedang berkibar

Adapun sultan suatu hari
Sedang embang cahaya matahari
Ayam berkokok kanan dan kiri
Baginda semacam di balairung sari.

Baginda dihadap wazir bereda
Serta menteri mana yang ada
Besar, kecil, tua dan muda
Berbuat khidmat pada baginda.

Baginda bersabda pada bentera,
Lemab lembut bunyi suara:
“Aduhai mamanda apa bicara
Utusan nan belum kembali segera.

Mereka pergi sudahla lama
Lebih kurang dua purnama
Tiada mendengar warta dan nama
Entahpun aral datang menjelma

Jika begini laku pekerti
Baiklah mamanda pergi lihati
Tiadalah senang di dalam hati
Siang dan malam menanti-nanti

Belum habis baginda berkata
Kedengar meriam gegap gempita
Sekalian yang hadir terkejut rata
Disangkanya musuh melanggar kota.

Semuanya memandang ke sana ke mari

Sambil berkata sama sendiri
Meriam apakah demikian peri
Tiada sebagai sehari-hari
Pada masa ketika itu
Masuk menghadap penunggu pintu
Persembahkan kepada paduka ratu
Kapal Aceh datanglah tentu.

Demi baginda mendengar kata
Terlalu suka di dalam cita
Hilanglah gundah hati bercinta
Berganti dengan bersuka cita.

Baginda bertitah kepada bentara
Lemah lembut bunyi suara
“pergilah mamanda menyambut segera
Supaya diketahui seberang bicara.”

Bentara menjemput lalulah pergi
Tiadalah ia berlambat lagi
Bajunya hitam berkopiah tinggi

Memeganng tongkat hulu bersegi.
Ke kuala negeri sampai ianya
Naik ke kapal dengan segara
Kepada kelasi ia bertanya

“utusan Aceh apa kabarnya?”.

Kelasi menjawab dengan nyata:
“tiadalah hamba tahukan warta
Jika hendak bertemu mata
Marilah hamba bawakan serta!”

Bentara berjalan masuk ke dalam
Bertemu dengan Wazirul’alam
Iapun lalu memberi salam
Menyampaikan titah duli syah’alam

Seketinya lamanya berkata-kata
Merekapun lalu turunlah serta
Berjalan masuk ke dalam kota
Hendak menghadap duli sang nata.

Tiadalah lama berjalan itu
Lalu sampai ke kota batu
Merekapun masuk menghadap ratu
Lakunya hormat sudahla tentu.

Setelah sampai ke dalam kota
Wazir menyembah lalu berkata:

“Ampun tuanku raja mahkota
Tiadalah sampai maksudnya kita.

Pada raja Delitua itu
Telah disampaikan pesan sang ratu
Tetapi Allah belum membantu
Intan bercahaya disangka batu.

Kehendak tuanku ia tolakkan
Berbagai dalih ia sebutkan
Beserta kabar yang bukan-bukan
Patikpun sangat heran memikirkan.

Menyebah pati merendahkan diri
Kepada raja Delitua negeri
Kata-kata yang manis selalu diberi
Tetapi baginda tiada dengari.

Hati patik sangat sebalnya
Melihat hal demikian adanya
Permintaan kita tiada diterimanya
Ia menurutkan kehendak hatinya.

Apatah kita empunya salah
Maka baginda berbuat ulah
Kebesaran tuanku sudah mashurlah
Dengan mereka tiada kalah.

Apa yang kurang kepada kita
Harta benda cukup semata
Uang dan emas beberapa juta
Istimewa pula intan permata.

Jika pikir patik menungkan
Sebal rasanya tidak terperikan
Disangkanya tuanku anak-anakkan
Boleh saja dipermain-mainkan.”

Demi baginda mendengar rencana
Mukanya merah gemilah warna
Lakunya marah terlalu bana
Merasa diri kena bencana.

Lalu bertitah lakunya murka
Merah pada warnanya muka:
“sedikit tiada beta menyangka
Maksud kita ditolak mereka.

Aku sangat merasa malu
Kehendak kita tidalah lalu
Dari pada hidup berhati pilu
Lebih baik mati berkalang hulu.

Dari pada hidup tinggal begini
Maulah aku segera fani
Rindu dendam tiada tertahani
Duduk bercinta selaku ini.
Jika tak dapat kehendak hati

Baiklah aku fana dan mati
Emas dan perah seribu kati
Semuanya itu menyakitkan hati.

Aku hendak pergi sendiri
Akan mengambil tuannya puteri
Himpunkan segela hulubalang menteri
Kita berangkat lagi tiga hari.”

Wazirpun menjawab perlahan suara:

“ampun tuanku mahkota negara
Janganlah tuanku perginya segera
Bairlah pati dahulu mara.

Apa gunanya menteri hulubalang
Patutlah mereka menjadi galang
Jangan tuanku berhati walang
Biarlah patik dahulu hilang.

Patik dahulu tuan titahkan
Putri boleh patik rampaskan
Dengan hidupnya patik bawakan
Di situlah baru kita balaskan.”

Setelah didengar raja mahkota
Akan wazir empunya kata
Merasa benar di dalam cita
Maulah bersama menentang senjata

Baginda bertitah dengan segera:

“Aduhai mamanda wazir negara
Jangalah banyak pikir dan kira
Himpunkan segera rakyat tentara!”

Setelah sudah berperi-peri
Wazirpun lalu memohon diri
Menghimpun rakyat kanan dan kiri
Banyak tiada lagi terperi
Kapal kenaikan lalu dihiasi
Alat senjata lalu diisi
Hulubalang Aceh serta kelasi
Gagah melebihi bangsa Habsi.

Setelah sampai saat ketika
Sekalian laskar berhimpun belaka
Sangat gembira rupa mereka
Seorangpun tiada berhati duka.

VI. Raja Aceh Menyerang

Lengkaplah sudah alat tentara
Masuk ke kapal mahkota negara
Layar ditarik diputar jentera
Kapal pun melancar di tengah segera.

Kata orang empunya madah
Angkatan itu berangkatlah sudah
Rakyat yang tinggal berhati gundah
Sayangkan sultan paras yang indah.

Selama sultan berangkat itu
Datuk mangkubumi jadi pembantu
Duduk memerintah menggantikan ratu
Menyelesaikan perkara sepeninggal ratu

Tersebut pula kisah angkatan
Beberapa hari menempuh lautan
Kapal melancar dari selatan
Jauhlah sudah dari daratan

Empat hari, cukup kelima
Sampailah angkatan raja utama
Ke Labuhan Deli di kota lama
Turunlah sekalian hulubalang panglima.

Terkejutlah orang hilir dan hulu
Melihat kapal banyak terlalu
Datangnya itu tiada kelulu
Tiada tentu siapa penghulu.

Penghulu pasar pergilah segera
Mendapatkan angkatan Aceh negara
Ia bertanya gemetar suara:
“dari mana datang tuan-tuan saudara?.”

Lalu menjawablah seorang menteri:
“kami datang dari Aceh negeri
Tiada bermaksud suatu peri
Berhenti di sini kadar sehari.

Supaya tuan mengetahui terang
Kami nan hendak pergi berperang
Ke Delitua hendak menyerang
Membawa laskar beribu orang.

Penghulu pasar mendengar katanya
Rasa tak senang dalam hatinya
Warta dipersembahkan pada rajanya
Kabar angkatan dengan maksudnya.

Kata orang empunya madah
Laskar Aceh naiklah sudah
Barisnya beratur terlalu indah
Orang menonton riuh dan rendah.

Alat senjatanya jangan dikata
Tombak dan pedang, perisai bergenta
Senapan dan meriam lengkap semata
Laskar sebagai semut melata.

Setelah beratur baris semuanya
Lalu berjalan sekalian orangnya
Gegap gempita bunyi bahananya
Seperti guruh konon suaranya.

Berjalan konon sekalian laskar
Menempuh padang hutan belukar
Kayu-kayuan banyak terbongkar
Rumputpun kering bagai dibakar.

Terkejut segala binatang hutan
Semuanya lari berlompat-lompatan
Sekalinya itu dengan ketakutan
Disangkanya suara jin dan setan.

Angkatan berjalan beberapa hari
Menempuh padang hutan berduri
Dengan pertolongan Khalikul Bahri
Sampailah ke Delitua negeri.

Berhentilah laskar diluar negeri
Beberapa chaimah lalu terdiri
Keliling tempat semua dipagari
Supaya sukar musuh menghampiri.

Setelah selesai kerja semuanya
Lalu dikabarkan pada rajanya
Baginda mendengar suka hatinya
Akan kesetiaan segala laskarnya.

Baginda lalu bermusyawarah
Bermaksud hendak berkirim surat
Ke Delitua sampailah hasrat
Supaya tidak kekurangan syarat.

Diperbuat surat diberikan pahlawan
Dititahkan pergi tiga sekawan
Panglima menyembah raja bangsawan
Berjalan bersama teman dan kawan.

Setelah sampai ke pintu kota
Penunggu pintu didapat serta
Dikabarkan maksud dengan warta
Hendak menghadap duli sang nata.

Merekapun dibawa ke balairung sari
Kehadapan raja mahkota negeri
Apabila sampai suratpun diberi
Kepada datuk bentara kiri.

Bentara bertanya suaranya kaku:

“dari mana datang tuan saudaraku
Maka begini tingkah dan laku
Janggal, canggung serta kaku?”

Pahlawan menjawab, seraya berkata:

“dari Aceh datangnya beta
Jika hendak tahukan warta
Bacalah surat, supaya nyata!”

Surat dibuka bentara kiri
Dibaca dihadapan mahkota negeri
Membaca surat sambil berdiri
Suaranya nyaring tiada terperi

Begini konon bunyi suratnya
Pertama memuji kebesaran kerajaanya:
“Raja Aceh besar tahtanya
Datang membawa beribu laskarnya.

Beratus pendekar hulubalang menteri
Laskarpun banyak tiada terperi
Adapun maksud datang ke mari
Hendak merampas tuan puteri.

Waktu dahulu kami meminta
Dengan lemah lembut kami berkata
Beberapa banyak membawa harta
Tiada berhasil juga semata

Disuruh kembali semua utusan
Beserta dengan segala bingkisan
Sekarang ini terima balasan
Putri diambil dengan kekerasan.

Jika tiada hendak berperang
Baiklah putri serahkan sekarang
Kalau tiada, tentu diserang
Kota dijadikan abu dan arang.

Raja Delitua dua saudara
Gagah berani sudahlah ketara
Silakan keluar dengan segera
Mengadu sekali rakyat tentara.”

Begitulah konon bunyi suratnya
Baginda mendengar sangat marahnya
Merah padam warna mukanya
Tetapi dapat disamarkannya.

Baginda bertitah gemetar suara:

“Aduhai utusan Aceh negara
Kembalilah engkau dengannya segera
Esok hari mengadu tentara.

Keluar juga aku berperang
Baiklah siap kamu sekarang
Rakyatpun banyak tiadalah kurang
Boleh dilihat mana yang garang.”

Demi mendengar baginda berperi
Pahlawan aceh merasa ngeri
Merekapun lalu bermohon diri
Pergi menghadap raja sendiri.

Setelah sampai ia ketempatnya
Lalu dikabarkan kepada rajanya
Akan jawaban surat dibawanya
Baginda mendengar geram hatinya.

Tersebutlah kisah dalam istana
Baginda mufakat dengan sempurna
Menghimpun laskar di mana-mana
Dengan seketika menderu bahana.

Segala pahlawan bangsa berani
Berkendara di atas kuda semberani
Memakai baju besi kursani
Peluru senapan boleh tertahani.

Setelah hari sianglah tentu
Lengkaplah sudah semuanya itu
Keluarlah laskar dari kota batu
Akan berperang membela ratu.

Apabila sampai ke tengah padang
Kedua pihak sama berpandang
Serunai ditiup dipalu gendang
Masing-masing laskar menghunus pedang

Tempik dan sorak tiada berperi
Segala pahlawan menyeburkan diri
Beramuk-amukan kian kemari
Gajah menderam, kuda berlari.

Merka berperang terlalu amat
Berbunuh-bunuhan tiada terhemat
Banyak terhantar mayatnya umat
Gemuruh sebagai akan kiamat.

Perangnya keras tiada terkira
Banyaklah laskar mendapat cedera
Segala pahlawan Aceh negara
Sebagai harimau kena penjara.

Berperang itu ada seketika
Banyaklah orang mati dan luka
Keduanya pihak bersama murka
Mati dan hidup tiada direka

Setelah hari petanglah pasti
Kedua pihak lalu berhenti
Masing-masing tempat lalu didapati
Dikuburkan segala mana yang mati.

Kata orang empunya peri
Begitulah keadaan setiap hari
Sangatlah susah di dalam negeri
Musuh mengepung kanan dan kiri.

Sungguhpun keadaan serupa itu
Kalah dan menang belumlah tentu
Raja Aceh susah bukan suatu
Karena tiada mendapat bantu.

Setelah genap tiga puluh hari
Raja Aceh menghimpunkan menteri
Tipu muslihat hendak dicari
Supaya kalah Deli negeri.

Setelah berhadir sekaliannya itu

Lalu bertitah paduka ratu:
“Aduhai wazir, menteri sekutu
Carilah iktibar supaya tentu
Jika keadaan sebagai sekarang
Kalah dan menang belumlah terang
Banyaklah mati panglima perang
Akhirnya kita ditawan orang.

Jika berperang cara begini
Tentu banyak laskar yang fani
Serangan musuh tiada tertahani
Karena mereka sangat berani.

Cobalah cari tipu dan daya
Supaya musuh kena perdaya
Padamu sekalian aku percaya
Asalkan jangan berbuat aniaya”.

Mendengar titah raja sendiri
Masing-masing tunduk berdiam diri
Tipu muslihat juga dipikiri
Akan mengalahkan Delitua negeri.

Ada sekita berdiam diri
Berdatang sembah seorang menteri
“Ampun tuanku mahkota negeri
Suatu ikhtiar patik memberi.

Sebagai tuanku maklumlah sudah
Negeri ini kotanya indah
Pagarnya tinggi bukannya rendah
Memasuki dia tentu tak mudah.

Tambahan laskarnya gagah perkasa
Takut dan gentar tiada merasa
Semuanya perkasa senantiasa
Berani mati atau binasa.

Iktiar patik sebuah saja
Penawan Delitua empunya raja
Tak usah banyak pakai belanja
Ataupun pedang bermata wadja.

Pengaruh uang kita cobakan
Ke dalam meriam kita isikan
Kepada laskarnya kita tembakkan
Tentulah mereka akan memperebutkan.

Baginda mendengar sembah menteri
Hatinya suka tiada terperi
Keliatan mukanya berseri-seri
Iktiar demikian sangat digemari.

Setelah sudah berkata-kata
Baginda menjamu sekalian rata
Tua dan muda adalah serta
Berapa banyak mengeluarkan harta.

Jauh malam sudahlah hari
Masing-masing lalu bermohon diri
Pergi kembali ketempat sendiri
Pekerjaan esok juga dipikiri.

Waktu hari sudahlah terang
Genderangpun lalu dipalu orang
Bersiaplah segalah pahlawan garang
Kepada musuh hendak menyerang.

Ringgit dibawa dalam kereta
Ada kira-kira seperempat juta
Meriam yang besar adalah serta
Karena endak merampas kota.

Apabila sampai ke tengah medan
Kedua pihak lalu berpadan
Berperang seperti orang edan
Tiada sayang nyawa dan badan.

Bedil berbunyi suara menderu
Sebagai hujan datang peluru
Laskar sebagai binatang diburu
Gemuruh bunyinya tempik dan seru.

Waktu orang berperang itu
Raja Aceh ada di situ
Berhenti pada tempat suatu
Empat menteri jadi pembantu.

Meriam yang besar dekat baginda
Beberapa orang sedang menunda
Sepuluh karung ringgpun ada
Dipikul oleh khadam biduanda.

Ke dalam meriam ringgit diisikan
Ke tengah padang lalu dihadapkan
Sumbu ditaruh lalu dibakarkan
Bunyinya dahsyat tiada terperikan.

Di tengah padang ringgit bertebar
Orang melihat hati berdebar
Banyaklah sudah merasa tak sabar
Memegang pedang hatinya hambar.

Sebab melihat demikian pekerti
Datanglah tamak di dalam hati
Tiada lagi pedulikan mati
Asalkan uang boleh didapati.

Laskar Delitua nyata kelihatan
Ke sana ke mari berlompat-lompatan
Memunggut uang berebut-rebutan
Hatinya suka bukan buatan.

Karena mereka tiada melihat
Akan musuhnya punya muslihat
Lagi pikiran belumlah sehat
Tiada memikirkan baik dan jahat.

Begitulah kebanyakan orang sekarang
Melihat uang matanya terang
Meskipun lehernya akan diparang
Berani lenyak setianya kurang.

Orang Aceh melihat begitu
Hatinya suka bukan suatu
Tipunya berhasil sudahlah tentu
Tiadalah perlu meminta bantu.

Demikiranlah hal sehari-hari
Laskar Delitua banyak yang lari
Ada yang masuk ke dalam puri
Persembahkan kepada raja sendiri.

Demi baginda mendengar warta
Iapun sangat berduka cita
Dalam hatinya sudahlah nyata
Tentulah musuh memasuki kota.

Dengan hati gundah gulana
Baginda pun masuk ke dalam istana
Berjumpakan saudara muda teruna
Hendak memberi nasihat sempurna.

Setelah sampai ke dalam istananya
Puteri Hijau lalu dipanggilnya
Bersama dengan saudara bungsunya

Lalu berkata dengan mashgulnya:
“Aduhai adinda emas juita
Dengar kiranya kakanda berkata
Jika kalah perangnya kita
Jangan adinda berduka cita.

Serahkan kota bersama diri
Kepada raja Aceh bestari
Moga-moga ditolong Khalikul Bahri
Tiadalah mendapat bahaya ngeri.

Tetapi satu harus dipohonkan
Kepadanya minta buatkan
Sebuah keranda kaca berlapiskan
Ke dalam itu minta masukan.

Apabila sudah sampai ke negerinya
Suruh himpunkan semua rakyatnya
Masing-masing dengan persembahannya
Bertih segenggam sebiji telurnya.

Bila semuanya sudah dikumpulkan
Ke dalam laut suruh buangkan
Bakarlah kemenyan serta doakan
Dengan kakanda minta pertemukan.

Jika ditolong tuhan yang Satu
Bertemulah kita ketika itu
Yang lain dengan harap membantu
Sudahlah permintaan kita begitu.

Baginda berkata dengan masghulnya
Bercucuran dengan air matanya
Kedua saudara dipeluh diciumnya
Sangatlah pilu siapa melihatnya.

Setelah baginda berkata-kata
Keluarlah ia dari dalam kota
Kemana tujuannya tiadalah nyata
Seorangpun tiada tahukan warta.

Tinggallah putri dua saudara
Hatinya pilu tiada terkira
Keduanya menangis perlahan suara
Terkenanglah perkata mahkota negara.

Pada adiknya putri berkata :
“aduhai adinda cahaya mata
Sekarang apa bicara kita
Musuh nan hampir masuk kota.

Pada pikiran kakanda sendiri
Baiklah kita segera lari
Ke dalam hutan menyembunyikan diri
Sebelum musuh sampai ke mari.”

Adinda menjawab suaranya pilu:
“wahai kakanda junjungan hulu
Baiklah kakanda sabar dahulu
Adinda berikhtiar menuntut malu.

Di dalam istana kakanda menanti
Tetapkan pikiran di dalam hati
Jika adinda tiada mati
Selamatlah kita dengan seperti”.

Putri mendengar kata adiknya
Sangatlah pilu rasa hatinya
Lalu menyapu air matanya
Masuklah ia ke dalam peraduannya.

Menangislah ia tersedu-sedu
Suaranya manis terlalu merdu
Sebagai bunyi buluh perindu
Makin didengar bertambah rindu.

Tinggallah adiknya di tengah istana
Dengan hatinya gundah gulana
Pikirannya melayang ke sini sana
Memikirkan iktiar penolak bencana.

Ia termenung dalam ma’ripat
Pikirannya melayang ke lain tempat
Hendak dipandang tiada sempat
Dengan seketika berubah sipat.

Sudah kehendak tuhan yang Satu
sifatnya berubah ketika itu
menjadi meriam nyatalah tentu
pada laskarnya jadi pembantu.

Ia menembak bersungguh hati
Seketika pun tiada lagi berhenti
Orang Aceh banyaklah mati
Kena peluru meriam yang sakti.

Merekapun undur perlahan-lahan
Karena tiada dapat menahan
Di tengah padang jauh berebahan
Tersiar semacam bahan.

Putri Hijau tersebut kisah
Dalam peraduan berkeluh kesah
Karena hatinya sangatlah susah
Bantal kepalanya habislah basah.

Sangatlah susah rasa hatinya
Memikirkan akan untung nasibnya
Tambahan terkenang ayah bundanya
Bagaikan remuk rasa anggotanya.

Hari malam bulan mengembang
Hatinya makin bertambah bimbang
Terkenang ayah, bunda dan abang
Jika besayap maulah terbang.

Jauh malam sudahlah hari
Ke luarlah ia ke tengah puri
Keliling tempat adiknya dicari
Tiadalah jua bertemu diri.

Herannya ia bukan suatu
Melihat keadaan serupa itu
Saudaranya hilang tiada bertentu
Hanyalah meriam ada di situ.

Iapun lalu kembali ke dalam
Merebahkan diri di atas tilam
Sehinggal sampai semalam-malam
Pikirannya masih merasa kelam.

Kata orang empunya cerita
Waktu hari sianglah nyata
Datanglah musuh mengepung kota
Lengkap dengan alat senjata.

Begitulah juga meriam keramat
Ia menembak terlalu amat
Bagaikan dunia hendak kiamat
Banyaklah musuh tiada selamat.

Dengan kehendak Tuhan yang kaya
Menunjukkan kodrat iradat dia
Meriam itupun habislah daya
Menjadi hina orang yang mulia.

VII. Raja Aceh dengan Putri Hijau

Larasnya putus besinya melayang
Remuk sebagai dimasak loyang
Keliling istana rasa begoyang
Terkejut segala hamba dan dayang.

Bunyi yang dahsyat sudah tiada
Pada musuhnya akan menggoda
Raja Aceh orang yang mudah
Sangatlah suka di dalam dada.

Pinut kota mereka pecahkan
Dengan segera orang hancurkan
Harta rampasan banyak didapatkan
Kepada bendahara semua diberikan.

Tersebutlah perkataan raja Aceh bestari
Sukanya tiada lagi terperi
Masuklah segera ke istana puri
Putri Hijau hendak dicari.

Ke dalam istana sampailah baginda
Bersama menteri mana yang ada
Sangatlah suda di dalam dada
Takut dan ngeri sudah tiada.

Setelah sampai dalam istana
Putri dicarinya ke sini sana
Hatinya suka terlalu bena
Perangnya menang dengan sempurna.

Tetapi putri tiadalah dapat
Rata dicarinya segenap tempat
Karena putri sembunyi cepat
Dalam peraduan bertirai rapat.

Raja Aceh lama mencari
Barulah bertemu dengannya putri
Dalam peraduan membaringkan diri
Wajahnya gemilang berseri-seri.

Demi terpandang oleh baginda
Akan paras putri yang sahda
Iman bergoyang di dalam
Berahinya datang berganda-ganda.

Iapun berdiri dekat peraduan
Peraduannya indah sangat rupawan
Hatinya geram bercampur rawan
Melihat putri muda perawan.

Waktu putri membuka matanya
Sangatlah terkejut rasa hatinya
Seorang laki-laki masuk ke tempatnya
Belumlah pernah demikian halnya.

Iapun bangun hendakkan lari
Oleh baginda segera dihampiri
Baginda bertanya manis berseri:

“Hendak ke mana adinda putri?
Janganlah tuan bersalah sangka
Pada kakanda orang durhaka
Tiada kakanda gusar dan murka
Adindaku tempat melipurkan duka.

Adinda tempat kakanda bergantung
Mencerahkan nasib bersama untung
Bersama terbenam sama terkatung
Adinda miliki hati dan jantung.

Aduhai adinda rupawan sejati
Janganlah tuan berkecil hati
Kehendak kakanda baik turuti
Menjadi istri dengan seperti.

Sangatlah lama kakanda bercinta
Pada adinda emas juita
Terbayang-bayang diruangan mata
Barulah bertemu tajuk mahkota.

Adindaku tuan muda bestari
Janganlah tuan merasa ngeri
Marilah bersama pulang ke negeri
Adinda kunobatkan menjadi suri.

Haram kakanda akan berdusta
Pada adinda usul yang po’ta
Jika kakanda memungkiri kata
Dikutuk oleh Tuhan Semesta.

Berbagilah pujuk dikatakannya
Beserta dengan lemah lembutnya
Putri mendengar benci hatinya
Tetapi dapat disamarkannya.

Putri menjawab manis berseri:

“Ampun tuanku mahkota negeri
Patik menurut sebarang peri
Nyawa diserahkan bersama diri.

Badan dan jika patik serahkan
Seberang kehendak tuankku lakukan
Menjadi hamba tuanku buatkan
Sedikit tiada patik bantahkan.

Hanyalah sedikit permintaan ada
Pada tuanku usul yang sahda
Jika ada rahim di dada
Harap kabulkan jangan tiada.

Suatu keranda tuanku buatkan
Dari pada kaca tuanku dijadikan
Ke dalamnya itu patik masukkan
Sampai di Aceh baru bukakan.

Sebab permintaan patik begitu
Karena kita belum bersatu
Kulit bersentu haramlah tentu
Hukum syar’a melarang itu.”

Demi baginda mendengar kata
Hatinya sangat bersuka cita
Maksudnya hasil sudahlah nyata
Permintaan putri dikabulkan serta.

Keranda kaca disuruh tempa
Sangatlah elok dipandang rupa
Di masa ini jarang berjumpa
Orang melihat lalai dan alpa.

Tiada saya berpanjang kalam
Setelah hari sudahlah malam
Bagindapun lalu masuk ke dalam
Bertemukan putri muda pualam

Dengan manisnya baginda bermadah:
“aduhai adinda paras yang indah
Keranda itu siaplah sudah
Bilakah waktunya kita berpindah?

Maksud kakan di dalam hati
Jika kiranya adinda turuti
Kita nan baik berangkat mesti
Siap tahun bahaya menanti.

VIII. Putri Hijau Berlayar

Putri menjawab perlahan suara:
“benarlah titah mahkota negara
Jika tiada aral dan amra
Esok hati berangkatlah segera.”

Baginda mendengar kata begitu
Sukanya hati bukan suatu
Kelengkapan disediakan ini dan itu
Inang pengasuhpun siap membantu.

Setelah siang sudahlah hari
Berkemaslah konon tuan putri
Mandi ditanam badan dilangiri
Dalam keranda membaringkan diri.

Setelah musta’id sekaliannya rata
Keranda dimasukkan dalam kereta
Diiringkan laskar sekalian rata
Berdjalan menudju keluar kota.

Angkatan berdjalan dari istana
Alat kebesaran semua terkena
Rakjat mengiringkan semut laksana
Sebagai angkatan maharadja Tjina.

Segala rakjat Deli negeri
Hatinja pilu tiada terperi
Ditinggalkan oleh tuan puteri
Masing-masing duduk berpeluk diri.

Tinggallah negeri tiada beraja
Setiap orang bermenung saja
Laksana puteri bermuram durja
Tiadalah tentu urusan kerja.

Kota dan parit rusaklah sudah
Menjadi belukar taman yang indah
Isi negeri banyak berpindah
Karena hati selalu gundah.

Demikianlah jadinya negeri itu
Bertambah sunyi setiap waktu
Pekan dan pasar rusaklah tentu
Istimewa kota berpagar batu.

Tersebutlah pula kisah angkatan
Beberapa hari melalui hutan
Kemudian berlayar dalam lautan
Jauh dari pada tanah daratan.

Haluan menuju kesebelah utara
Tamberang berdengung, berputar djentera
Kapalnya laju tiada terkira
Sebagai burung atau udara.

Dalam antara beberapa hari
Sampailah kapal ke Aceh negeri
Meriam dipasang kanan dan kiri
Bunjinya terdengar kedalam negeri.

Di Tanjung Jambuair kapal berhenti
Banjak orang datang melihati
Semuanya sangat berbesar hati
Melihat rajanya tiadalah mati.

Pada masa itu ketika
Sabang, Oleleh belum dibuka
Karena masih hutan belak
Orang melihat belumlah suka

Itulah sebab mula karena
Makanya kapal berlabuh disana,
Pelabuhan yang lain belum sempurna
Kapalpun banyak dapat bencana.

Adapun akan duli baginda
Menitahkan kelasi yang muda-muda
Menyuruh turunkan sekoci bertenda
Serta kelengkapan mana yang ada.

Setelah musta’id alat semuanya
Bagindapun masuk kedalam biliknya
Pakaian kebesaran lalu dipakainya
Tampan dan gagah akan rupanya.

Pakaian kebesaran setelah dilekatkan
Puteri Hidjau lalu didapatkan
Warta “sampai” baginda kabarkan
Puteripun diam kepala ditundukkan.

Bagindapun lalu mengulang kata:
“Aduhai adinda, puteri juita,
Kenegeri Aceh sampailah kita,
Marilah turun bersama serta!”

Puteri mendjawab suara perlahan:
“Ampun tuanku raja pilihan
jika ada rahim kemurahan
Haraplah patik dapat kasihan.

Kalau tuanku senang dihati
Permintaan patik adalah pesti
Rakyat Aceh hendak kulihati
Supaja patik mengetahui nanti.

Titahkan mereka datang kemari
Ditepi pantai menunjukkan diri
Serta membawa anak dan isteri
Supaya patik melihat sendiri.

Masing-masing membawa persembahannya
Segenggam bertih, sebiji telurnya
Tiap-tiap seorang demikian halnya
Ditepi pantai kumpul semuanya.

Demikian permintaan patik yang leta
Harap dikabulkan oleh sang nata
Jika menolak duli mahkota
Kedarat patik takkan serta!”

Baginda mendengar perkataan puteri
Merasa heran hati sendiri
Belumlah pernah ‘adat dinegeri
Membawa persembahan demikian peri.

Meskipun permintaan luar biasa
Tiada baginda panjang periksa
Dikerjakan orang kota dan desa
Membawa persembahan dengannya paksa.

Berhimpunlah orang dusun dan kota
Membawa persembahan sekalian rata
Seorang sebiji telur yang nyata
Bertih segenggam adalah serta.

Ditepi pantai semua dilonggokkan
Banyaknya tiada lagi terperikan
Apabila semuanja sudah dilengkapkan
Kedalam laut disuruh buangkan.

Telur dan bertih dibuangkan orang
Banyakna tak dapat dikira terang
Memutih sebagai bunganya karang
Berhanyutan sampai ketanah Seberang.

IX. Putri Hijau Dilarikan Naga

Banyaklah orang heran dihati
Melihat perbuatan demikian pekerti
Karena belum pernah dilihati
Pekerdjaan aneh nyatalah pasti.

Setelah mengerjakan perintah rajanya
Masing-masing orang kembali ke rumahnja
Ada jang bertanya pada sahabatnya
Perbuatan demikian apakah maksudnja.

Puteri Hijau usul yang sahda
Waktu ditinggalkan oleh baginda
Iapun keluar dari dalam keranda
Kemenyan diambil puteri berida.

Kemenyan dibakar dengannya segera
Asapnya mendulang atas udara
Sambil menangis perlahan suara
Disebut-sebutnya nama saudara.

“Aduhai kakanda junjungan hulu
Manalah janji kakanda dahulu
Kita nan sudah mendapat malu
Adinda ditawan Aceh penghulu.

Waktu dahulu janji kakanda
Hendak menolong pada adinda
Sekarang ini beginilah ada
Kita nan sudah porak poranda.

Wahai kakanda raja yang sakti
Dimanakah tempat kakanda menanti
Ambillah adinda kemari pesti
Bersama hidup, bersama mati.

Kakandaku tuan mahkota negeri
Segeralah kakanda datang kemari
Ambil adinda bawalah lari
Hatiku takut masuk ke negeri.

Jika kakanda tiada membantu
Adinda mati sudahlah tentu
Hatiku hancur bukan suatu
Umpama kaca jatuh ke batu.

Dari pada bersuami dengan dipaksa
Relalah adinda jadi binasa
Hidup begini tiada kuasa
Menjadi tawanan di lain desa.”

Dengan kodrat Tuhan semesta
Waktu putri sedang meminta
Haripun jadi gelap gulita
Gelombangpun besar badaipun serta.

Turunlah angin terlalu kencang
Kapal yang besar sampai berguncang
Perahu karam sekoci dan lancang
Maksud baik menjadi pincang.

Langit kelihatan hitam bermega
Angin, gelombang bertambah juga
Banyaklah kapal jadi berlaga
Umpama telur di dalam raga.

Bannaklah kapal jadi terdampar
Ke atas pantai sebagai dilempar
Karena angin datang menampar
Ketika itu sangatlah gempar.

Dalam rebut bukan buatan
Kedengaran menderu dalam lautan
Seekor naga nyata kelihatan
Sangatlah besar menuju buritan.

Naga itu datang menghampiri
Kedekat kapal tuan putri
Orang di kapal habislah lari
Tinggallah putri seorang diri.

Takutnya putri bukan sedikit
Melihat naga umpama bukit
Tiadalah dapat hendak berbangkit
Badannja gemetar merasa sakit.

Waktu naga dekatlah sudah
Putri menangis tunduk tengadah
Hendak lari tiadalah mudah
Ke dalam keranda ia berpindah.

Ia berbaring dalam keranda
Takut dan ngeri semuanya ada
Gemuruh bunyinya darah di dada
Orang menolong haram tiada.

Karena orang sudahlah lari
Masing-masing pergi membawa diri
Begitupun juga raja bestari
Tiadalah ingat kepada puteri.

Puteri berbaring mata dipejamkan
Kepada Allah diri diserahkan
Dari pada bahaya minta lindungkan
Diamlah ia akhir dinantikan.

Nagapun segera datang mendapatkan
Kepada kapal badan dirapatkan
Kepala diangkat ekor dikipaskan
Kapalpun berpusing air diturutkan.

Kepala berpusing umpama roda
Habislah koyak layar dan tenda
Berpelantingan segala barang yang ada
Habislah hilang harta dan benda.

Di tengah lautan naga mengambang
Melihat kapal dipermainkan gelombang
Segala tiangnya habislah tumbang
Orang melihat sangatlah bimbang.

Iapun mengangkat kepalanya tinggi
Kepada kapal mengempas lagi
Dengan ekornya kapal dibagi
Kapalpun hancur umpama ragi.

Ketika itulah kapal binasa
Dikaramkan oleh naga perkasa
Hanyalah keranda aman sentosa
Tempat berbaring putri berbangsa.

Keranda terapung tiadalah tenggelam
Kelihatan puteri berbaring di dalam
Wajahnya bersih umpama nilam
Sebagai bulan diwaktu malam.

Dalam hal macam begitu
Nagapun membawa keranda itu
Dijunjung keranda putri ratu
Berenang segera ujud tak tentu.

Nagapun berenang terlalu cepat
Dipandang mata haram tak sempat
Ditengah lautan sebagai melompat
Cepatnya makin berganda lipat.

Antara tak lama naga menjelam
Bersama keranda lalulah tenggelam
Bagaimana ackirnya wa’llahu ‘alam
Sampai sekarang tinggallah kelam.

Riwayat beralih, berganti cerita
Tidak berapa lama antara
Setelah naga menyelam segara
Hujan dan angin teduhlah segera.

Radja Aceh muda bangsawan
Tinggallah ia berhati rawan
Siang dan malam igau-igauan
Terkenanglah puteri muda rupawan.

Adapun halnya sehari-hari
Duduk bermenung seorang diri
Tiadalah pernah ke balairung sari
Selalu teringat kepada putri.

Sesal hatinya tiada terderita
Karena puteri hilang dimata
Duduklah ia dengan bercinta
Tidur bertilam si air mata.

Sekarang apa hendak dikata
Kehendak Tuhan ‘alam semesta
Sudah ditangan yang dicinta
Karena tak djodoh, lenyap dimata.

X. Syair Akhirulkalam

Sampai di sini syairpun tamat
Sajaknya banjak tak betul amat
Mengarangkan dia habislah cermat,
Pinggang dan tengkuk rasanja lumat.

Sedikit saja saya pohonkan,
Pada pembaca atau yang mendengarkan

Jikalau ada salah didapatkan
Ampun dan maaf tolong berikan.

Maklumlah saya bukan pengarang
Ilmu didada sangatlah kurang
Hina dan miskin bukan sembarang
Dari dahulu sampai sekarang.

Abdul Rahman namanya saya
Sangatlah da’if tiada upaya
Sedikit tiada mempunyai daya
Harapkan rahim Tuhan jang kaya.

Akhirulkalam saya berperi
Tangan diangkat sepuluh jari
Sembah diaturkan kanan dan kiri
Ampun dan maaf mohon diberi.

Tamat

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.