Indonesia Berdakwah

Semangat Kesanggaran Nashar

Maestro Nashar. [Transindonesia.co /CDL]

TRANSIND0NESIA.CO – Kesadaran yang dibangun dari ketakutan atau keterpaksaan akan menumpulkan daya kreatifitas_Nashar_. Menurut Nashar di dalam berkesenian perlu adanya daya dorong dari dalam yang merupakan kesadaran untuk belajar menjadi pelukis. Meskipun di kemudian hari tidak menjadi pelukis itu hal yang berbeda. Kesadaran merupakan passion yang akan mampu menumbuhkembangkan imajinasi dan kreatifitas. Bahkan mampu mempresure dirinya.

Nashar memiliki cara pandang yang berbeda dengan pola pendidikan formal. Menurutnya untuk menjadi pelukis selain memiliki kesadaran adalah mengenal alam lingkungannya. Sehingga bisa merasakan jiwa atau spirit yang akan dilukisnya. Menurut Nashar melukis bukan sebatas rangkanya namun mampu menangkap jiwanya. Di situlah menjadi kekuatan Nashar di dalam mendidik para muridnya.

Guru itu mendampingi memberi stimuli dan kalau dibutuhkan dapat memberikan saran masukan tanpa harus mengintervensi. Model sanggar memiliki ruang dan waktu yang bebas longgar bisa kapan saja di mana saja. Tanpa harus takut terlambat atau takut tidak lulus. Orang yang memiliki kesadaran adalah orang yang bertanggung jawab tentu buahnya disiplin. Mungkin ini yang juga dipahami dan dihayati oleh Nashar dalam menjalani hidupnya sebagai pelukis.

Sanggar merupakan wadah atau tempat bagi siapa saja yang memiliki hasrat untuk belajar kesenian. Di sanggar tentu ada kebebasan yang lebih longgar di banding pendidikan formal. Bisa saja belajar di sanggar sampai larut malam bahkan menginap di situ. Pada masa lampau pola sanggar ini juga dilakukan oleh para empu melalui sistem nyantrik.

Kedekatan personal merupakan bagian transformasi pengetahuan yang tidak hanya training education tetapi juga coaching. Model kesanggaran ini menurut Nashar membuat para murid lebih leluasa bisa mengenali alam bisa berdialog dan mendalami atas hidup dan kehidupan yang akan dijadikan obyek lukisannya. Nashar tidak menafikkan konsep dan teori. Ia pun belajar secara otodidak dan dilakukan dengan penuh kesadaran membaca di berbagai perpustakaan. Selain itu dirinya juga membaca atau mempelajari berbagai lintas seni sehingga mampu memperdalam atau memperkuat karakter lukisannya. Konsep dan teori merupakan bagian memperkuat atau memperdalam karya sehingga mampu lebih jernih lebih luas dan mendalam.

Dalam metode mengajar Nashar menerapkan active learning dan contextual learning. Active learning adalah melukis secara mandiri. Sedangkan contectual learning adalah melibatkan dengan konteks lingkungan sosialnya. Nashar menyadari bahwa para muridnya adalah subyek memiliki karakter dan watak yang berbeda satu dengan lainnya.

Di sinilah Nashar memberikan perhatian secara umum dan satu persatu agar tumbuh pemahaman dan kesadaran melukis dengan bersungguh sungguh. Nashar bersama Oesman Efendi mentransformasi pengetahuan dan spirit melukis dengan kebebasan dan sebebas bebasnya agar muncul suatu imajinasi dan gagasan yang merdeka bagikan boleh dikatakan ekstrim sekalipun dan tidak harus di dalam main stream.

Sekali waktu ia bersama Oesman Efendi mengajak para muridnya ke kali baru untuk melukis, di situ Nashar dan para mahasiswanya juga menyewa perahu. Nashar menyarankan sebelum melukis kenalilah alam lingkungan sosialmu dengan berenang, mandi mandi atau ngobrol di warung, dsb. Semua itu sebagai spirit atas kekuatannya imajinasi yg akan dituangkan dalam lukisan.

Nashar tetaplah Nashar, ia telah membangun karakternya. Apa yang ia omongkan yang ia tulis juga ia lakukan. Integritas Nashar sebagai pelukis tidak diragukan lagi. Kegigihannya, keyakinannya akan hidup sebagai seniman ia tularkan kepada murid-muridnya. Ia terus melukis dan melukis siang malam. Dari pengalamannya ini lah ia mencoba menerapkan dalam pola pendidikan kesenian. Kesadaran menjadi bagian penting dan mendasar untuk menjadi pelukis. Nashar sendiri dalam menghayati penderitaan seperti apa yang dipertanyakan Chairil Anwar kepadanya menjadi bagian ia mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mengenal alam dan lingkungan sosialnya.**

Penulis: Chrysnanda Dwilaksana adalah Pencinta Seni Budaya Tanah Air dan Creator Kampoeng Semar

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.