Indonesia Berdakwah

Keutamaan Seorang Hoegeng Iman Santosa

Kapolri ke-5 (1968 - 1971) Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Iman Santoso. [NET]
“WEN I AM RIGHT
No one remembers
WHEN I AM WRONG
No one forgets”
(Salah satu kalimat yang tertulis dalam lemari Hoegeng memorial)

TRANSINDONESIA.CO – Jendral Hoegeng Iman Santosa merupakan sosok polisi yang melegenda dengan kejujurannya keberaniannya menunjukkan integritas komitmen dan konsistensinya sebagai bhayangkara sejati hingga akhir hayatnya. Itulah keutamaan Jendral Hoegeng. Beliau sangat mencintai dan menjaga harkat dan martabat sebagai polisi. Dirinya sadar betul bahwa menjadi polisi adalah menjaga kehidupan masyarakat, membangun peradaban dan sebagai pejuang kemanusiaan. Mungkin saja pak Hoegeng melakukan secara refleksi yang di bawah sadar maupun sebagai refleksi atas tugas dan tanggung jawabnya. Kalau hal tersebut bukan habitus dan keutamaannya tentu akan sulit melakukannya apalagi bertahan hingga akhir hayatnya.

Profesor Mardjono Reksodiputro menunjukkan bahwa pak Hoegeng itu polisi sipil. Makna sipil di sini adalah sebagai peradaban atau civilixation. Di mana polisi sebagai aparat penegak hukum dan keadilan adalah untuk membangun peradaban. Pak Hoegeng berupaya melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai polisi sebagai polisi yang humanis. Pendekatan kebudayaan digunakan dalam mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial. Konteks polisi sipil dalam membangun peradaban di sini ditunjukkan bagaimana pak Hoegeng berupaya memberikan teladan. Bagaimana hukum sebagai ikon peradaban dapat dipatuhi dan ditegakkan dengan adanya kesadaran. Pak Hoegeng bertugas sebagai polisi bervariasi bahkan pernah memimpin imigrasi hingga menteri. Hal yang patut dicatat dan diingat adalah pak Hoegeng menolak fasilitas dari imigrasi maupun kementrian karena merasa cukup dari fasilitas Polri. Di sinilah pak Hoegeng berani menunjukkan kecintaan dan kebanggaannya sebagai polisi. Ia menyadari bahwa semua itu dari rakyat yang harus dicintainya.

Nilai nilai luhur yang ia pegang teguh ditanamkan dan dipegang teguh terutama bagi dirinya dan keluarganya. Ibu Mery Hoegeng yang memiliki usaha bunga tatkala pak Hoegeng menjadi menteri bukan dikembangkan justru diminta untuk tutup. Bu Mery memahami apa yang dikhawatirkan suaminya dan dengan iklas melakukannya. Putra putri pak Hoegeng pun merasakan betapa kerasnya pak Hoegeng dengan keluarganya. Pak Hoegeng mengatakan; “Aku yang komandan bukan kalian. Berarti kalian juga sama seperti masyarakat lainnya”.

Pada suatu ketika teman pak Didit  (putra pak Hoegeng) bercerita, melihat pak Hoegeng mengatur lalu lintas. Tatkala sudah tiba di rumah pak Didit bertanya:” Pap ngapain sih ngatur lalu lintas?” Pak Hoegeng tiba tiba marah dan membentaknya: “Lalu lintas itu tugas dan tanggung jawab polisi ketika ada kemacetan polisi harus turun tangan. Malu kamu aku ngatur lalu lintas?”.

Suatu ketika pak Didit akan belajar kelompok ke rumah temannya si A dan meminta ijin pinjam jeep kepada pak Hoegeng. Ditanya: “Arep nang ndi? (mau kemana?)” mau belajar kelompok pap” jawabnya singkat. “Ok jam 12 malam sudah harus di rumah”. Dan oleh pak Didit waktu itu di Ok kan. Ternyata si A di rumahnya sedang ada acara dan si A ikut untuk pindah ke rumah si B ternya sama juga tidak bisa akhirnya bersama A dan B pindah ke rumah si C. Di rumah C banyak ngobrol daripada belajar dan ketiduran tiba tiba terbangun sydah jam 02.00. Pak Didit segera bangun dan mengantar si A dan B kembali ke rumah masing masing baru kembali ke rumah. Ternyata ajudan sudah gelisah mondar mandir di depan rumah. Ternyata pak Hoegeng masih berada di ruang tengah. Pak Didit tanpa merasa bersalah masuk dan menyapa bapaknya: “Malam pap”. “Seko endi kowe? (dari mana kamu?)” “dari rumah si A”. Pak Hogeng kembali membentak: “Itu ajudan sudah ngecek ke rumah si A kamu tidak ada di situ”. Ajudan pak Hoegeng diperintahkan menelpon semua orang tua teman pak Didit agar jam 06.30 sudah berada di Mabak (Mabes Polri).

Pak Didit tentu tidak bisa tidur dan berpikir keras kalau orang tua teman temanya pada dipanggil ke Mabak urusan jadi panjang. Pak Didit memberanikan diri mengetuk pintu dan menyampaikan KTP dan SIM nya dan berkata : “Pap silakan aku dipukul sepuasnya dan ini KTP dan SIM saya”. Pak Hoegeng hanya menjawab: “terus …”. “saya ga akan nyetir lagi…” pak Hoegeng masih saja bertanya: “terus…”. ” jangan panggil ke Maba orang tua temen temen ku”. “terus…..”. “kalau orang tua mereka dipanggil ke Mabak siapa yang mau berteman sama aku?” “terus ….”. Pak Didit waktu itu tentu bingung mengapa pak Hoegeng hanya teras terus saja. Dan teringat kalau ada salah dengan pak Hoegeng pertama tama harus berani mengatakan minta maaf. Lalu ia mengatakan : “Maaf pap…”. Pak Hoegeng mengatakan : “Semua orang tahu, bahwa jeep itu dari rumah ini dan bensinnya dibiayai dari anggaran polisi. Memalukan… jangan diulangi”. “Iya pap…”. ” iku KTP karo SIM e digowo!”. ” enggak pap (pura pura bertahan). Pak Hoegeng mengatakan lagi : ” tenane (beneran)….?”. Minta maaf kalau bersalah itu prinsip pak Hoegeng dan harus berani menyampaikannya.

Pak Hoegeng dalam perjalanan ke Bandung menengok ibu Reni yang sedang kuliah di ITB perjalanan bisa ditempuh antara 5 – 7 jam. Setiap ada sesuatu yang membahayakan atau mengganggu kelancaran lalu lintas akan berhenti.

Seperti dari menyingkirkan batu sampai menghentikan bus yang over penumpangnya. Penumpang yang over diturunkan dan memanggil PJR untuk memantau dan memastikan bus tersebut tidak mengambil penumpang lagi di jalan. Dan yang diturunkan dicarikan bus lain dan ditunggu satu persatu sampai mereka terangkut semua baru kembali melanjutkan perjalanannya ke Bandung.

Pak Hoegeng pasca dicopot sebagai Kapolri aktif dalam berbagai kegiatan sebagai penyiar radio elshinta. Mendirikan Hawaian Seniors yang bertahan hingga 10 tahun. Dan tidak sekalipun absen. Komitmen dan konsistensi berkesenian pak Hoegeng sangat luar biasa. Pak Hoegeng memiliki hobby melukis juga. Suatu ketika ada pesanan lukisan pemandangan dalam ukuran yang besar. Tatkala lukisan itu sudah jadi pemesan meminta pak Hoegeng menghapus tanda tangan di sudut lukisannya. Pak Hoegeng menolak dan tidak jadi menjualnya. “saya akan simpan sendiri lukisan ini” kata pak Hoegeng.

Pak Hoegeng tatkala dicopot sebagai kapolri dalam usia menjelang 50 tahun. Sesampai di rumah beliau sungkem kepada ibundanya dan berkata: “Bu aku sudah selesai menjadi Kapolri”. Ibunya pak Hoegeng mengatakan: “Jangan takut kalau kamu jujur, kita masih bisa makan dengan garam”. Betapa besar hati ibu pak Hoegeng tetap menanamkan kejujuran dan berani hidup dengan sederhana. Kejujuran merupakan habitus yang tidak bisa dilakukan untuk kepura-puraan atau seremonialan.

Pak Hoegeng pun meminta maaf kepada keluarganya. Dan meminta memikirkan mau tinggal di mana, karena waktu itu pak Hoegeng belum memiliki rumah. Semua inventaris dikembalikan. Dan rumah tersebut diberikan kepada pak Hoegeng sebagai tanda kasih dan apresiasi besar dari Polri. Banyak kisah kehidupan pak Hoegeng yang sederhana dalam kehidupan sehari hari yang terus menginspirasi dari generasi ke generasi.

Keutamaan pak Hoegeng tak lekang oleh ruang dan waktu akan abadi sepanjang zaman terus dikenang dan patut diteladani. Ibu Mery Hoegeng, dan putra putrinya sadar dan mengakui bahwa pak Hoegeng benar. Merekapun begitu bangga dan mencintai pak Hoegeng sebagai sosok polisi dan kepala keluarga idaman.

Jakarta 14 Nopember 2020
Hari Korps Brimob ke 75

Brigadir Jenderal Pol Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.