ARMA Living Museum

Suasana Museum Agung Rai Museum of Art ( ARMA), Ubud Bali.[Transindonesia.co/CDL]

 

TRANSINDONESIA.CO – Agung Rai Museum of Art ( ARMA) di Ubud Bali merupakan salah satu museum seni yang dirintis oleh Agung Rai sejak tahun 80 an. Arma dibangun sebagai musium yang hidup yang maknanya musium bukan sekedar bendawi melainkan menjadi bagian dari peradaban atas hidup dan kehidupan manusia. Karya seni yang ditata di dalam ARMA tidak hanya di dalam bangunan namun juga alam sekitarnya.

Bagaimana suasananya atas hidup dan kehidupan masyarakat Bali dapat dirasakan dan dinikmati oleh para pengunjung yang ada. Penataan alam lingkungan dengan keseimbangan yang mempedomani pada Tri Hitna Karana yaitu: penghormatan terhadap Tuhan, penghormatan terhadap sesama manusia, penghormatan terhadap alam lingkungan.

Living museum yang disajikan ARMA dielaborasi dalam berbagai aktifitas sehingga suasana asri nyeni ngangeni semua ada. Koleksi museum beragam dari yang tradisional khas bali hingga karya karya maestro seni modern kontemporer. Lintas generasi terus dilakukan agar seni sebagai roh atas peradaban terus dapat hidup tumbuh dan berkembang. Dalam berbagai koleksi perjuangan Agung Rai bisa dikatakan tanpa kenal lelah hingga saat ini. Semua dimulai dari kecintaan. Dari rasa cinta inilah terus dibangun apa yang menjadi mimpi mimpinya dibangun. Suasana egaliter, nyaman di alam pedesaan bali, sawah, sungai, kolam, air mancur, bunga lotus, angrek dan berbagai tanaman khas bali hingga tanaman langka serta fauna yang alami. Di samping alam yang asri juga dapat dinikmati kehidupan masyarakat bali dalam bertani berkesenian hingga orang memancing ikan ada.

Koleksi ARMA dalam kategori maestro para seniman yang barasal dari luar negeri seperti :  walter spies, rudolf bonet, willem gerald hofker, nieuwkampt, antonio blanco, arie smith, miguel covarrubias, sonega, hans snell dll. Pelopor senirupa modern dari : raden saleh, affandi, s sudjojono, basoeki abdulah, hendra gunawan, srihadi sudarsono, dullah, hingga pelukis pelukis generasi muda. Dari tradisi bali karya karya wayang yang menggambarkan cerita dan kisah ramayana, epos yg ditulis dalam lontar dsb. Pemetaan dan penataan ruang bagi karya karya seniman menjadi karakter ARMA. Ruang apresiasi seni dan pameran pun disiapkan di sini. Pelukis pelukis bali dari berbagai generasi menjadi tonggak sejarah. Panggung hiburan untuk pentas musik tari dan berbagai kegiatan seni budaya disiapkan dan terua diisi sebagai panggung apresiasi. Sesuatu yang unik menarik ARMA sebagai living musium sebenarnya juga menjadi pusat studi dan transformasi seni lintas generasi.

Berbagai kegiatan seni yang diselenggarakan ARMA dengan membuka kelas kelas untuk mengajak pengunjung menikmati antara lain:
1. Melukis tradisional Bali
2. Musik Gamelan Bali
3. Pahat atau ukir kayu
4. Tari Bali
5. Masakan Bali
6. Hindu Bali
7. Sejarah Bali
8. Modernisasi Bali
9. Astrologi dan Numerologi Hindu
10. Batik Bali
11. Membuat persembahan
12. Kelas melukis
13. Arsitektur Bali tradisional
14. Tenun keranjang
15. Melukis pada daun lontar
16. Yoga dan meditasi
17. Kerajinan perak
Mungkin masih banyak lainnya yg disuguhkan ARMA sebagai living musium. Para pengunjungpun dapat menginap pada vila dan homestay dengan suasana Bali. Pelayanan dan keramahtamahan yang diteladankan Agung Rai sbg founder dan owner ARMA patut  diapresiasi. Transformasi seni budaya merupakan kekuatan atas kedaulatan bangsa dalam menjaga keteraturan sosial. Living musium bisa saja dikategorikan sebagai gerakan moral seni budaya dalam mendukung perawatan peradaban Bangsa. Museum memang semestinya hidup dan menjadi bagian dari kehidupan kita.**

[Chryshnanda Dwilaksana – Pemerhati Seni Budaya]

Bagikan

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co