Sadar Wisata Kecintaan Kebanggaan bagi Kehidupan dan Keteraturan Sosial

Wisata masa pandemi.[Transindonesia.co/Dok.CDL]

TRANSINDONESIA.CO – Sadar wisata merupakan bagian dari kepekaan kepedulian yang cinta bangga akan hidup dan kehidupan serta peradaban. Penataan pengemasan pemaknaan pemasaran atas sesuatu (alam, lingkungan, seni budaya, hidup dan kehidupan, dsb) menjadikan berharga yang bukan sebatas bendawi namun juga yang tak benda. Sesuatu yang bernilai atau bermanfaat atas hidup dan kehidupan dapat ditunjukkan adanya keteraturan sosial.

Tatanan atas nilai etika moral dan hukum untuk ditaati merupakan ikon peradaban. Kecerdasan dalam kehidupan sosial dapat dimaknai bahwa masyarakat dapat menikmati mengapresiasi dan memberi ruang bagi religi seni tradisi hobi bahkan teknologi yang saling menguatkan satu sama lainnya untuk mendukung atas hidup dan kehidupan. Pemahaman atas keteraturan sosial ditanamkan dari rumah. Rumah menjadi kekuatan pembangkitan atas kekuatan pilar peradaban.

Pembodohan atas hal hal yang berujung pangkal pada pelabelan dan kebencian pengkambinghitaman hingga yang menyulut terjadinya amuk masa akan mudah dilakukan dalam masyarakat yang majemuk tatkala tingkat kesadaran akan cinta bangga sebagai anak bangsa sangat rendah. Hujat menghujat perusakan pencurian hingga adu domba akan menjadi andalan dan premanisme meraja lela.

Penggunaan unsur unsur primordial akan menjadikan senjata pemutar balikkan fakta dengan memberdayakan media untuk mengobok-obok logika dan perasaan publik. Belum lagi palak memalak dalam perijinan dan saling serang antar kelompok yang tentu saja kontra produktif. Isu isu yang dihembuskan walaupun tidak masuk akal tanpa nalar namun tatkala diyakini kebenarannya maka akan menjadi pelabelan dan puncaknya pada kebencian yang menunggu adanya triger pemantik untuk menjadi konflik sosial.

Tatkala masyarakat mudah diadu domba tentu rasa cinta rasa bangga atas rumah lingkungan hingga seni budaya bangsa dan negaranya juga rendah bahkan mudah menghakimi mudah dibodoh-bodohi. Merusak membakar menghujat sana sini tanpa malu dan rasa bersalah dilakukan. Tidak hanya itu bahkan anak anakpun diracuni dijadikan bumper atas kepentingan dan tameng imoralitasnya. Teriakan perjuangannya dilakukan dengan merusak peradaban. Dampak memalukan atas perusakan peradaban adalah mental bangsa akan dilabel buruk juga oleh bangsa lain.

Menanamkan patriotisme cinta bangga sebagai anak bangsa merupakan suatu tanggungjawab kita semua. Biang dari perusakan peradaban dimulai dari premanisme yang penyelesaian konflik dengan massa dan memaksakan kehendak.

Peradaban dan keteraturan sosial yang dibangun melalui masyarakat yang sadar wisata akan menunjukkan sebagai bangsa beradab yang peka peduli akan hidup dan kehidupan. Sesuatu yang ada dikemas, diberdayakan, diangkat menjadi karakter yang unik menarik inspiratif dan menjadi ikon masyarakat tersebut.

Religi seni tradisi hobi komuniti hingga teknologi akan menjadi bagian dari peradaban yang didukung alam lingkungan dalam keteraturan.

Penataan sadar wisata bukan sebatas pada satu sisi setidaknya didukung adanya:

1. Alam atau lingkungan yang aman nyaman asri yang menimbulkan rasa rindu untuk dapat merasakan atau menikmati kembali

2. Perilaku masyarakatnya dalam religi seni tradisi dikemas dalam sesuatu yang unik menarik inspiratif sebagai karakter maupun ikonnya

3. Dukungan komunitas komunitas sadar wisata sebagai bagian atas pemberdayaan, perkuatan yang guyub rukun saling menjaga saling menghormati satu sama lain

4. Political will dari pemerintah untuk mendukung tumbuh berkembangnya pariwisata yg mampu dijadikan andalan PAD nya

5. Para tokoh informal diberdayakan sebagai local heroes pejuang pejuang kemanusiaan yang menjadi pelopor dan penjaga keteraturan sosial

6. Jaminan keamanan dan rasa aman dan anti premanisme yang diberikan oleh aparaturnya maupun sistem sistem sosial kemasyarakatan yang ada

7. Hospitality atau keramahtamahan dari seluruh warganya yang mampu menghormati tamu dan mampu menerima dan menjaga perbedaan sebagai kekuatan sekaligus kekayaan bangsa

8.  Dukungan infra struktur dari sistem transportasi dan angkutan umum penginapan dan sarana sarana pendukung lainnya

9. Sistem marketing dan penguatan masyarakatnya dalam pengemasan pemaknaan dan pemasarannya

10. Pendidikan akan seni budaya secara formal maupun non formal yang ditransformasi secara konsisten yang didukung para maestro atau pakar maupun akademisi

11. Menghidupkan kembali seni tradisi dan nilai luhur yang lama ditinggalkan bahkan dianggap mati (bahasa, seni musik, seni ukir, seni pertunjukkan, seni rupa, seni suara, seni cerita, seni sastra, seni tari, seni tata boga, tata busana, dsb)

Banyak hal lainnya yang dapat dikemas disatukan dibangun dengan standar standar keteraturan sosial dan peradaban yang membuat siapa saja tergerak untuk melihat dan datang kembali.

Masyarakat yang sadar wisata memiliki kemampuan merawat melestarikan bahkan menumbuhkembangkan segala potensi yang ada dan tidak mudah diadu domba dan malu menjadi preman yang merusak peradaban bangsanya. Masyarakat sadar wisata; “sak anane sak isane iso kanggo urip lan nguripi“.**

Chryshnanda Dwilaksana

Bagikan

Berita Terkait

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co