KISAH KEJUJURAN KA’AB BIN MALIK

KH. Abdullah Gymnastiar.[Transindonesia.co/Istimewa]

TRANSINDONESIA.CO – Ka’ab bin Malik radhiallahu anhu. adalah salah seorang sahabat Rasulullah dari kalangan kaum Anshar. Suatu saat, ketika Rasulullah bersama para sahabat dan kaum Muslimin dari kota Madinah hendak berangkat menuju Perang Tabuk menghadapi kekuatan pasukan Romawi, Kaab bin Malik tidak ikut dalam perang itu.

Padahal, Ka’ab bin Malik tidak memiliki udzur saat itu. Usianya belum lah tua dan beliau pun tidak sedang dalam keadaan sakit. Beliau juga bukan golongan orang-orang munafik di kota Madinah. Ka’ab bin Malik tidak turut serta dalam perang hanya karena faktor kelalaiannya.

Sepulangnya Rasulullah bersama pasukan kaum Muslimin ke kota Madinah, Ka’ab bin Malik pun menghadap kepada Rasulullah. Sebenarnya ketika itu Ka’ab bin Malik bisa saja menyampaikan alasan-alasan yang dibuat-buat, ia bisa saja mengatakan kedustaan demi menyelamatkan dirinya di hadapan Rasulullah.

Akan tetapi, Ka’ab bin Malik tidak melakukannya. la justru menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia tidak turut serta dalam pasukan kaum Muslimin di Perang Tabuk. Ka’ab bin Malik menyampaikan apa adanya secara jujur di hadapan Rasulullah, karena ia tahu sesungguhnya Allah. Maha Tahu dan ia mengharapkan ampunan-Nya.

Kemudian, Rasulullah memerintahkan Ka’ab bin Malik untuk menunggu kabar berita yang akan datang berdasarkan wahyu Allah. Tidak hanya itu, Rasulullah pun melarang para sahabat yang lain untuk berbicara dengan Ka’ab bin Malik.

Semua itu berlangsung selama 40 hari lamanya. Ka’ab bin Malik menjadi terasing sementara dari para sahabat lainnya dan kaum Muslimin di kota Madinah karena tak seorang pun yang mau berbicara dengannya. Hal ini tentu saja membuat Ka’ab bin Malik merasa terhimpit.

Namun, pada suatu saat selepas shalat subuh, Rasulullah menyampaikan sebuah berita gembira bahwasanya Allah menerima taubat Ka’ab bin Malik

dan dua sahabat lainnya yang tidak turut serta dalam Perang Tabuk. Sejak saat itu, Ka’ab bin Malik semakin kuat imannya, semakin besar semangat jihadnya dan semakin kuat kejujurannya.

Ketika itu Ka’ab bin Malik berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkan aku dengan kejujuran, dan sesungguhnya termasuk taubatku bahwa aku tidak akan berbicara kecuali yang benar selama hidupku.”

Ka’ab bin Malik juga berkata, “Maka demi Allah, Allah tidak pernah memberikan nikmat kepadaku selamanya, setelah memberikan petunjuk Islam kepadaku, yang lebih besar dalam diriku daripada kejujuranku kepada Rasulullah, bahwa aku tidak berbohong kepadanya, lalu (kalau aku berbohong) aku menjadi binasa sebagaimana binasanya orang-orang yang berdusta…”

Ayat yang turun kepada Rasulullah sebagai penerimaan Allah terhadap pertaubatan sahabat Ka’ab bin Malik ini adalah firman Allah berikut ini.

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah terasa sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (OS. At Taubah (9): 117-118)

Ketiga orang yang dimaksud di dalam ayat tersebut adalah Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Mararah bin Rabi. Mereka adalah tiga sahabat Rasulullah yang disalahkan karena tidak ikut berperang dalam Perang Tabuk.

————–

Demikianlah satu kisah yang sangat indah dan baik untuk diteladani di tengah masyarakat kita adalah keengganan mengakui kesalahan dan bertaubat atas kesalahan itu. Keengganan tersebut biasanya disebabkan rasa gengsi, jika bukan karena butanya hati pada kebenaran.

Padahal, tindakan berkelit dari kesalahan, merangkai dusta demi dusta dan menyulam kebohongan dengan kebohongan lain, itu sama sekali tidak akan memerdekakan seseorang dari kesalahannya. Perbuatan seperti itu malah justru akan semakin membuatnya tersiksa oleh perbuatannya sendiri. Belum lagi dengan beban dosa yang harus dipikulnya.

Semoga kita tergolong kepada orang-orang yang senantiasa meneladani Rasulullah dalam mengamalkan kejujuran. Aamiin

Sumber : Buku Karakter BAKU, Ikhtiar Membangun Generasi Muda Islam

KH. Abdullah Gymnastiar

Bagikan

Berita Terkait

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co