Indonesia Berdakwah

Napi Rutan Makassar Kendalikan Penyeludupan Ribuan Ekstasi Belanda

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Ahmad Ramadhan menggelar konferensi pers kasus ekstasi asal Belanda yang dikendalikan Napi Rutan Makassar, di Bareskrim Polri, Kamis (27/8/2020).[TRANSINDONESIA.CO/Ismail]

TRANSINDONESIA.CO – Ribuan butir pil ekstasi asal Negeri kincir angin (Belanda) diseludupkan jaringan narkotika internasional yang dikendalikan tiga nara pidana (napi) di Rutan Makassar dan Lapas Narkotika Sungguminasa berhasil dibongkar Direktorat Narkoba Bareskrim Polri.

Sebanyak 4.945 butir ekstasi yang disita dari empat pelaku jaringan narkotika seorang diantaranya merupakan mantan anggota Narkoba Polda Sulawesi Selatan.

Ekstasi asal Belanda itu dikirim melalui cargo jasa ekspedisi tujuan Makassar, Sulawesi Selatan. Keempat pelaku yakni, Herianto alias Anto (mantan polisi), Sunardi alias Doyok, Hengky Sutejo alias Hengky, dan Hasrul alias Ardi (Napi).

“Untuk mengelabui petugas, isi paket disebutkan dalam resi berupa gaun pengantin dan jas.
Herianto ini perannya mengambil paket (narkoba) ke kantor ekspedisi di Makassar atas informasi dari seorang napi Rutan Makassar bernama Sunardi,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Ahmad Ramadhan di Bareskrim Polri, Kamis (27/8/2020).

Lebih lanjut Ahmad menyatakan  Napi Sunardi menyuruh Herianto mengambil paket kiriman dari Belanda dengan janji akan memberikan seribu butir ekstasi jika paket tersebut diambil.

“Penyidik mendapatkan informasi pengiriman paket yang diduga narkoba dari Belanda ke Indonesia dari kargo jasa ekspedisi di Bandara Soekarno Hatta, pada 1 Agustus 2020,” ungkap Ahmad.

Paket berisi 4.945 butir ekstasi tersebut berasal dari John Christopher di Belanda dan alamat tujuan untuk Asriati di Makassar, Sulawesi Selatan. Kemudian, penyidik melakukan pengintaian pengiriman paket.

Hasilnya, diketahui tersangka Hengky sempat menelepon kantor jasa ekspedisi pada 4 Agustus dan membayar pajak impor menggunakan rekening bank Hasnawati.

Rekening itu dibuat atas perintah Hasrul yang merupakan adik Hasnawati. Namun, belakangan diketahui pembuatan rekening tersebut dilakukan atas perintah Hengky.

Pengiriman pil setan tersebut sempat dilakukan, tapi gagal lantaran alamat yang dikirim fiktif. Karena itu, Rahmat mendatangi kantor ekspedisi di Makassar untuk mengambil paket tersebut.

“Tim kemudian menangkap Rahmat dan mengaku dia disuruh (ambil narkoba) oleh Herianto yang sedang menunggu di mobil. Lalu tim langsung menangkap Herianto,” ujarnya.[kar/mil]

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.