Teori Belenggu atau Pembebas Berpikir?

TRANSINDONESIA.CO – Belajar dengan menggunakan teori di dalam sekolah tinggi ini menjadi ikon. Disakralkan, didewakan bahkan betapa bangga menggunakan teori ini itu sebagai acuan atau kerangka berpikir akademisnya.

Teori merupakan suatu karya cipta penemunya bisa berdasar pengalamannya bisa juga dr hasil risetnya atau hasil dari konstruksi berpikirnya dengan menggunakan teori teori yang terdahulu. Teori dapat dipahami sebagai prinsip prinsip yang mendasar dan berlaku umum untuk menjelaskan atau menerangkan suatu fenomena.

Berpikir teoritis merupakan berpikir yang abstrak atau hasil imajinasi yang mampu menemukan prinsip prinsip mendasar yang berlaku umum

Teori bukan dihafal bukan sebatas dijejer jejer atau dipajang namun digunakan untuk menjelaskan apa makna di balik suatu gejala atau fakta. Teori yang dihafal atau tidak diurai kerangkanya atau didekonstruksi atau tidak dijadikan kerangka berpikir atau mengkonstruksi maka teori itu akan tumpul atau flat atau datar saja. Tidak akan mampu menjadi sarana menyelami kedalaman atau membongkar labirin labirin atas suatu fenomena. Bahkan kadang malah membelenggu karena dihafal atau semacam kewajiban saja. Tatkala menulis atau membuat kajian atas sesuatu apabila sudah menempel teori ini itu di mana mana seolah olah menjadi benar.

Teori sebagai produk berpikir secara abstrak yang merupakan prinsip prinsip mendasar dan berlaku umum  semestinya digunakan sebagai pisau analisis atas fenomena atau sesuatu yang sedang dikaji. Dengan teori tersebut kita akan mampu memahami makna yang tidak terungkap atau melihat sesuatu fenomena dengan sudut pandang atau pendekatan yang lain untuk menemukan hal baru. Berpikir teoritis ini selain mengabstraksikan juga memerlukan imajinasi dalam membuat konstruksi baru atas kajian kajiannya. Tatkala teori mampu diurai dan digunakan sebagai konstruksi baru atau dimanfaatkan untuk mengurai dan membangun maka teori akan memerdekakan tidak lagi membelenggu. Mengabstraksikan ini merupakan produk imajinasi maka tidak akan ketemu tatkala dihafal semata. Penghafalan atau sebatas menempel nempel teori tidak akan mampu memikirkan analisa ataupun  menemukan kebaruan atas sesuatu fenomena.**

[Chryshnanda Dwilaksana]

Bagikan

Berita Terkait

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co