Trump Cemooh Berita Soal Imbalan Rusia untuk Bunuh Tentara AS di Afghanistan

Presiden Donald Trump saat berkampanye di Tulsa, di tengah lonjakan kasus Covid-19 di AS. (Foto: dok voa)

TRANSINDONESIA.CO – Sementara para anggota Kongres AS menyerukan investigasi, Presiden Donald Trump Minggu malam (28/6) mengatakan ia tidak mendapat keterangan mengenai laporan bahwa satu unit intelijen militer Rusia menawarkan imbalan kepada militan Taliban di Afghanistan untuk membunuh tentara AS, karena para pejabat intelijen AS tidak menganggap berita itu kredibel.

Dalam cuitannya, Trump menulis intel baru saja melaporkan kepadanya bahwa info tersebut tidak kredibel, dan karena itu tidak melaporkannya kepada Trump atau kepada wakil presiden Mike Pence.

Dikutip dari Voaindonesia, Selasa (30/6/2020), Senator Lindsey Graham dari fraksi Republik mengatakan ia berharap pemerintahan Trump “menganggap serius tuduhan itu.”

“Kongres harus mencari kebenaran laporan media baru-baru ini bahwa unit-unit intelijen militer Rusia di Afghanistan telah menawarkan imbalan kepada Taliban untuk membunuh tentara Amerika dengan tujuan mendorong Amerika keluar dari wilayah itu,” cuit Graham Minggu malam.

Senator Kirsten Gillibrand dari fraksi Demokrat menuntut penyelidikan Kongres mengenai program imbalan tersebut, termasuk siapa yang dibayar, melibatkan berapa banyak uang, dan mengidentifikasi apakah ada tentara Amerika yang tewas akibat program tersebut. Ia juga ingin tahu kapan Trump dan para pejabat pemerintah lainnya mengetahui hal itu, serta apakah ada anggota Kongres yang mengetahui program tersebut.

The New York Times adalah media pertama yang melaporkan para pejabat intelijen AS telah menyimpulkan beberapa bulan silam bahwa unit Rusia itu, yang dikaitkan dengan upaya-upaya pembunuhan dan operasi rahasia di Eropa untuk menggoyahkan Barat, telah melakukan misi di Afghanistan tahun lalu dan bahwa Trump telah diberitahu mengenai program itu akhir Maret lalu.

Menurut artikel yang diterbitkan situs harian Washington Post pada hari Minggu, pasukan AS mengalami 28 kematian selama tiga tahun, pada tahun 2018 hingga 2020. Sejumlah tentara juga tewas dalam serangan yang dilakukan pasukan keamanan Afghanistan, yang mungkin telah disusupi Taliban, sebut the Post.

Menurut the Post, info intelijen ini berasal dari pasukan Operasi Khusus AS di Afghanistan dan diverifikasi oleh CIA. [uh/ab]

Bagikan

Berita Terkait

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co