Patriot Seni Budaya: Pahlawan Peradaban di Era New Normal

Penulis, Chryshnanda Dwilaksana dengan karya lukisannya. [TRANSINDONESIA.CO/Dok.CDL]

TRANSINDONESIA.CO – Mendengar kata patriot di dalam pikiran kita terbayang orang orang yang menjadi pembela tanah air yang dengan segenap jiwa raganya dengan tulus ikhlas berani berkorban demi nusa bangsa dan tanah airnya. Pembelaan secara fisik hingga diplomatis yang tiada kenal lelah terus menerus dilakukan demi memerdekakan, memajukan dan mencerdaskan bangsanya. Para patriot sendiri tentu jiwa raganya demi kemanusiaan untuk semakin manusiawinya manusia.

Manusia dan kehidupannya unik menarik variatif bahkan ada sesuatu yang membuat hidup semakin hidup. Di dalam situasi sesulit apapun di situ ada sisi hidup dan kehidupan yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan. Harkat dan martabat manusia bukan sebatas pada material yang nampak indah, mewah penuh kenikmatan melainkan jiwa manusia yang menjadikan  kehidupan ini memiliki makna yang tak sekedar hidup. Sisi inilah yang di tangkap para patriot seni budaya untuk memberikan suatu makna.

Di dalam hidup dan kehidupan manusia sebagai mahkluk sosial, kesepakatan untuk hidup bersama yang diwujudkan  dalam keteraturan sosial. Dalam keteraturan sosial seni budaya merupakan landasan bagi bertahan hidup tumbuh dan berkembangnya manusia.  Di situasi apapun dalam kehidupan sosial ada harmoni untuk menjaga kewarasan dalam menjalankan kesepakatan hidup bersama tadi.  Manusia merupakan mahkluk yang memiliki imajinasi yang dituangkan dalam olah rasa, olah raga bahkan olah pikir melalui  gerak, rupa, nada, kata, suara bahkan ceritera untuk lestari nya hidup dan kehidupan. Di antara mereka ada orang orang yang memiliki kepekaan kepedulian bahkan bela rasa untuk mengolah pikir rasa dan raganya untuk menginspirasi memotivasi memberi solusi memberdayakan membela melindungi dan mencerdaskan melalui karya seni.

Patriotisme setiap masa ada orangnya, kadang tak terduga seperti datang tepat pada waktunya entah dari mana spirit tersebut muncul, bagai muncul dari dalam bumi. Orang-orang yang menjadi patriot inipun mungkin tidak memahami atau menyadari posisi dan kondisinya. Seolah olah ada panggilan jiwa yang menjadi passionnya  untuk menjaga dan melestarikan suatu hidup dengan kehidupan manusia. Mereka bisa berasal dari berbagai kalangan. Mungkin saja mereka diutus Tuhan atau sudah ditakdirkan demikian. Kemampuannya, keahliannya dan kepiawaiannya semua luar biasa bahkan di luar dugaan.

Kalau kita melihat para pahlawan kusuma bangsa dari kalangan raja sampai dengan rakyat jelata semua ada. Dari yang masih belia hingga yang tua pun ada. Dari yang terpelajar hingga yang tidak berpendidikan pun ada. Semua itu orang-orang istimewa sebagai sang pencerah, sang pembelajar yang mampu menginspirasi, memotivasi, memberikan teladan dengan pikiran, perkataan dan perbuatannya. Mereka mampu menunjukkan jiwa kepahlawanannya walau dari keterbatasan kekurangan bahkan kelemahannya.

Seni sebagai olah rasa dan olah pikir merupakan bagian dari kehidupan yang ditradisikan dan membudaya dalam kehidupan. Seni sebagai ungkapan jiwa dari ekspresi hingga suatu mimpi yang bisa dikatakan sarat makna atas hidup dan kehidupan bermakna. Seni hanya dimiliki manusia dari jaman pra sejarah, seni suku-suku bangsa hingga seni modern memiliki jiwa dan spirit sama sebagai jalan dan jembatan bahkan solusi atas hidup dan kehidupan sosial. Seni akan mentradisi bahkan membudaya tatkala terus dijaga, dirawat dan mendapat ruang. Hidup dalam jalur seni budaya bagai hidup dalam palagan kehidupan yang sarat ketidakpastian. Perjuangan dan konsistensi kadang harus mengorbankan diri dan keluarga bahkan masa depannya.

Di era new normal membangun  dan merawat keteraturan sosial pendekatan seni budaya dapat dijadikan pilihan dalam menanamkan nilai seni dalam hidup dan kehidupan. Hidup di dalam konteks spiritual sering dianalogikan sebagai anugerah yang penuh harapan. Namun kadang kala apa yang menjadi anugerah diabaikannya begitu saja dibiarkannya berlalu tanpa makna, tanpa kesan. Hidup dan kehidupan dapat di maknai sebagai seni

Pemahaman seni memang bertingkat tingkat, pada prinsipnya seni merupakan kepekaan dan kemampuan untuk menyentuh  dan  menggetarkan jiwa/hati manusia. Kalau meminjam kata pelukis Widayat ada sesuatu yang “greng”. Seni memang tidak selalu identik dengan keindahan, tidak semua seni indah, ada seni yang memusingkan, membuat perasaan-perasaan tertentu. Bukan pula mematut-matut sesuatu.

Seni merupakan ranah pemaknaan atas hidup  dan  pengalaman hidup. Seni memiliki suatu getaran yang membawa penikmatnya merasakan sesuatu apa yang diungkapkan/ disampaikan dalam karya itu. Bisa mengingatkan, membawa sesuatu yang jauh lebih penting dari sekedar keindahan. Seni bisa merasuk beberapa dimensi, termasuk juga imajinasi.
Memahami seni tidak hanya dengan teori-teori saja, melainkan pada implementasi hidup dan kehidupannya yang sarat dengan kompleksitas permasalahan.

Pengalaman/makna dari pengalaman di dalam berkesenian berkaitan dengan rasa yang dialami/ dihayati secara konkrit, sebagai refleksi yang di abstraksikan/diidealkan dalam nada, suara, gerak, cerita dan rupa. Dunia real adalah dunia kongkrit itulah yang dimaknai dalam seni. Terkadang juga merupakan habit dan menyatu sehingga tidak/ diluar dari apa yang terpikir, semua saling berhubungan, dunia yang dihayati/dijalani yang tidak dipikirkan dari detik ke detik kompleks dan ambigu. Ini berbeda dengan dunia ilmiah yang sudah diabstraksi. Seni bukanlah sesuatu yang sederhana seperti baik/ buruk, indah/jelek, bukan sebatas hitam putih melainkan sesuatu dalam hidup dan kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan.

Maka kalau ditanya bagaimana memahami, menghayati  dan  mengapresiasi seni ? Mungkin tidak ada jawaban yang tepat,  dalam bahasa jawa dapat dikatakan “yo ngono kui”.

Mengapa demikian? Walaupun kita mampu merasionalisasi namun bisa juga berbeda dalam rasa. Kadang tatkala mendiskripsikan malah mengkebiri, membatasi dan jadinya kacau malah tidak menjadi seni lagi. Hanya ikut-ikutan, agar dibilang wah, mencari pamrih, mencari keuntungan dan sebagainya. Seni urusan hati, hidup dan mati menjadi panggilan jiwa untuk bisa dinikmati, diekspresikan, syukur-syukur bisa menginspirasi.

Mampu menikmati seni adalah suatu anugerah? Kalau iya jawabanya karena memiliki kemampuan untuk dapat peka dan merasakan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan tidak sebatas pada panca indera namun sampai merasuk dalam hati.  Itu salah satu yang dipelajari dalam estetika. Mengapresiasi seni pun suatu keunggulan tersendiri bagi manusia untuk dapat memahami apa yang dilakukan atau atas apa yang ada dalam kehidupan sehari-hari pada dirinya maupun lingkungannya.

Dalam hidup dan kehidupan manusia dapat mempelajari logika, etika  dan  estetika. Logika membuat manusia berpikir secara rasional, sistematis, visioner dan mampu mempersiapkan dan menemukan hal-hal baru untuk kehidupannya. Etika diperlukan manusia untuk menata moralitas dalam mewujudkan dan memelihara keteraturan-keteraturan sosial/ menangani masalah-masalah moral yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan. Estetika merupakan suatu refleksi atas kehidupan manusia dalam berbagai karya seni yang menjadikan hidup semakin dinamis dan bisa dinikmati dalam memanusiakan manusia.

Estetika/seni bukan sebatas yang indah-indah/yang rapi/ yang tertata melainkan kedalaman penghayatan dan perefleksian atas hidup  dan  kehidupan sebagai bentuk peradaban manusia dalam mencari  dan  menemukan jati dirinya. Memang banyak karya seni terutama pada seni kontemporer yang bukan semata-mata memindahkan benda yang ditiru nya dalam bentuk/karya ciptaanya. Seni terwujud sebagai ungkapan jiwa sebagai refleksi atas penghayatan hidup  dan  kehidupannya. Yang juga merupakan suatu bentuk kepekaan  dan  kepeduliannya kepada hidup  dan  kehidupan yang dijalaninya. Pelukis S. Sudjojono mengatakan seni itu jiwa yang nampak.

Dari jiwa yang nampak tadi dapat memberikan sesuatu yang dihayati, dirasakan dan diungkapkan atas sesuatu. Seni bukan semata-mata pemujaan/ penyanjung nyanjungan sesuatu, melainkan ada perenungan/ tantangan yang mendalam atas suatu kehidupan, karena seni  pemaknaan/penghayatan atas hidup  dan  kehidupan. Seni yang tinggi adalah mampu menampilkan kompleksitas, ambigusitas dan berbagai dimensi yang mendalam dan mampu menghanyutkan /membawa perasaan.

Seni adalah bagian dari hidup dan kehidupan manusia. Manusia menghidupkan kehidupannya melalui seni. Dengan seni hidupnya semakin bermakna, semakin beragam. Bagi para pemimpin perlu pemahaman tentang seni dan budaya sehingga dalam melaksanakan tugasnya untuk memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia semakin peka dan peduli.  Keberhasilan tugas bagi seorang pemimpin salah satunya adalah mampu memanusiakan manusia.

Kepekaan  dan  kepedulian akan kehidupan diwujudkan melalui  kecepatan merespon, pemecahan masalah, menjembatani, menangani potensi-potensi yang dapat mengancam, menghambat, merusak, bahkan mematikan kehidupan. Memahami kehidupan manusia diperlukan hati nurani untuk bisa berempati. Melatih hati nurani yang berempati salah satunya melalui seni. Tatkala saling berkomunikasi, saling mengunjungi antar warga, bahkan dengan berbagai kegiatan kemanusiaan. Hingga penegakkan hukumnya sekalipun dapat diterapkan dengan elegan, manusiawi.

Membangun kemitraan, membangun kepercayaan tatkala seni menjadi pilarnya, semestinya para punggawa penyelenggara negara dan pemangku kepentingan lainya diharapkan mampu menunjukan : ketulusannya, kejujurannya, empatinya, kebenaranya, penghormatannya akan manusia dan kehidupannya melalui seni dengan hati yang tulus, hati yang jujur, empati, menyuarakan kebenaran. Itu juga bagian membangun peradaban.

Disinilah ditunjukan juga mensejahterakan, mencerdaskan dalam sistem yang adil dan makmur. Hukum yang dibuat pun menunjukan hukum yang adil, humanis yang dapat mengangkat harkat dan  martabat manusia yang mampu menjadi ikon peradaban.

Seni mengasah hati dan otak kanan sehingga mampu peka, peduli dan berbela rasa. Disinilah perlunya kesadaran, kepedulian dan meminimalisir konflik dan penyimpangan sosial bahkan untuk membangun solidaritas sosial.

Suatu bangsa yang mampu mengapresiasi seni  dan  karya seni anak bangsanya, biasanya akan lebih peka dan peduli akan manusia dan  kemanusiaan. Seni merupakan suatu yang bisa dinikmati dalam hidup dan kehidupan manusia. Keteraturan sosial misalnya, ini merupakan seni dalam menata, menumbuh kembangkanya. Hidup dan kehidupan memang akan semakin hidup. Kemampuan mengapresiasi seni merupakan hasil dari sebuah transformasi melalui edukasi, training, coaching, kontemplasi yang diajarkan secara formal dalam kelas, maupun secara non formal dari alam,lingkungan hidup dan kebudayaannya.

Seni hidup dalam lingkungan manusia, dan manusialah yang menghidupkan seni itu. Seni yang telah membudaya akan menjadi habitus hidup  dan  menjadi kehidupan manusia. Karya seni akan sangat dipengaruhi tingkat kepekaan, kedalaman dalam merefleksikan atas hidup dan kehidupan termasuk cara mengapresiasinya.

Sebagai contoh batu-batu berlian sebelum ditemukan dan ditambang di daerah asalnya dianggap sebagai kelereng dan bahan mainan anak-anak saja. Karya seni yang diakui dan diterima dalam balai lelang/ tempat-tempat lelang internasional yang memiliki nilai ekonomis dan apresiasinya pun sangat tinggi akan dihargai dengan nilai tinggi dan pengakuan luas biasa hebatnya. Batu bacan yang dipakai sebagai gift kepada presiden obama saat berkunjung ke Indonesia, nilainya melonjak dan diburu banyak orang.

Padahal dahulu hanya sebagai batu fondasi atau batu-batu akik biasa. Lagi-lagi manusia yang menentukan tingkat apresiasi sebuah karya seni. Seni bagian dari hidup dan kehidupan yang sejak awal manusia ada sebenarnya sudah berkesenian, hanya tingkat apresiasi yang berbeda.

Seni dapat juga sebagai upaya pelipur lara yang membuat orang tertawa dalam parodi/ kritik atas perkeliruan dan keanehan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Kembang turi yo mas tibo lemah, mlebu omah ojo karo mlayu, ati seneng yo mas ojo susah, timbang susah ayo ngguyu, ayo ngguyu ….ayo ngguyu .. Yen ngguyu ojo seru-seru ….

Masih ingat lagu keroncong ayo ngguyu (Mari tertawa), lagu ini merupakan lagu pelipur lara, mengajak kita semua tertawa melepaskan situasi yang menyedihkan/membuat susah hati. Seni membuat hati gembira dan bisa menghibur diri atas luka batin dan kekecewaan-kekecewaan yang terjadi. Seni mengajarkan kelembutan mencari solusi tanpa kekerasan atau anarkisme. Semi juga merupakan penyaluran atas duka lara menghadapi masalah-masalah sosial yang menjengkelkan bahkan memuakkan.

Seni juga menjadi harapan bagi rakyat untuk dapat mencintai dan menikmati situasi yang ada. Tertawa menjadi bagian dari kehidupan sosial yang terus harus dijaga dan menjadi pilihan. Banyak acara humor menjadi pelipur lara  dan  penghibur kedukaan masyarakat, mulai stand ups commedy, ludruk, goro-goro, dagelan, monolog sampai kritik-kritik sosial politik, semuanya menertawakan dan mengajak tertawa. Mengapa orang tertawa atau bisa menertawakan? Itu terjadi karena : 1. Ada yang tidak benar/ ada kekeliruan yang dianggap benar, 2. Ada yang menjadi bahan bulan-bulanan/ sebagai kambing hitam/ dijadikan hujat-hujatan, 3. Ada pejabat, kebijakan pejabat yang aneh dan lucu yang dapat diparodikan, 4. Ada plesetan-plesetan atas ketololan-ketololan yang dipamerkan baik eksekutif, yudikatif maupun legislatif, 5. Perilaku masyarakat yang menyimpang, 6. Pemikiran, perkataan, perbuatan yang lucu atau menimbulkan gelak tawa, 7. Pemuka-pemuka semestinya menjadi patriot pejuang peradaban yang mampu menjadi penjaga kehidupan bahkan pejuang-pejuang kemanusiaan.

Perilaku-perilaku para punggawa penyelenggara negara  yang mampu berkesenian dan berbudaya akan menjadi ikon bahkan menjadi sang alkemis yang menginspirasi menjadi tuntunan yang mampu membangun tatanan. Kebijakan-kebijakannya membangkitkan spirit menimbulkan sikap peka peduli untuk mentradisikan seni dan budaya menjadi lestari.

Seni tatkala dimaknai dan dijadikan perbincangan dan menjadi isu-isu dimana saja akan mentradisi, lestari, menjadi ikon hidup dan kehidupan yang dapat menjadi tuntunan sekaligus tontonan. Sesuatu tanpa dimaknai, tidak akan menjadi apa-apa, semua akan pergi hilang berlalu ditelan waktu. Sebuah batu tanpa dimaknai ia tidak akan diburu, terserak saja tanpa ada yang peduli. Alam tanpa dimaknai akan juga menguap seiring berubahnya jaman. Bahkan manusia tatkala tidak dimaknai maka iapun akan tidak menjadi apa-apa dan akan hilang begitu saja. Logika akan membantu manusia untuk menjalani hidup dan kehidupannya menjadi mudah, etika menjadikan manusia semakin manusiawi dan mampu memanusiakan manusia lainya. Estetika membuat hidup dan kehidupan menjadi indah, asri dan ngangeni penuh makna, yang akan dikenang sepanjang masa.

Seni ada kalanya diabaikan atau dianggap sebagai pekerjaan tukang/urusan seniman saja. Bahkan yang berbeda/out of the box dibilang sebagai senewen (aneh/gila). Membuat sesuatu menjadi bermakna dalam hidup  dan kehidupan bukan urusan seniman saja. Tanpa dukungan dari para penguasa, politikus, ilmuwan, para pekerja sektor bisnis, warga masyarakat luas, seni kering, gersang dan seolah akan mati. Tak lagi memberi aura indah dan tak juga menjadikan sesuatu berharga, tak juga bermakna. Seni bisa dipolitisir, dimainkan bahkan disalah gunakan. Di sinilah peran para penguasa untuk dapat membantu para warganya menjadi seniman untuk terus mencipta, berkarya, dan diapresiasi sehingga untuk dapat hidup, tumbuh dan berkembang.

Patriotisme melalui seni budaya sebagai perjuangan, dapat memberi ruang untuk lahirnya  para seniman budayawan dengan kualitas yang mampu sebagai solusi dalam membangun peradaban di era new normal. Seni dan budaya menjadi jembatan pengabdian dan simbol kecintaan terhadap  bangsa dan negaranya. Mencerdaskan kehidupan demi cita-cita memajukan bangsanya mensejahterakan yang penuh pengorbanan tenaga, pemikiran, waktu bahkan hingga jiwa  raganya.

Patriotisme yang ditunjukkan para seniman dan budayawan dalam membangun peradaban melalui karyanya antara lain :
1. Komitmen sebagi anak bangsa yang setia dan sadar akan cinta tanah airnya yang mempunyai jwa dan semangat untuk membangun negerinya. Pengabdiannya seolah membayar hutang  kepada rakyat Indonesia dengan memberdayakan segala sumber daya yang sedemikiannya sampai titik darah penghabisan.
2. Kompetensi yang dimiliki dalam religi, seni, tradisi dan teknologi  menjadi spiritualitasnya dalam membangun dan menjaga peradaban.
3. Memiliki karakter yang dapat diunggulkan karena perjuangan dan konsistensinya dalam membangun peradaban masyarakat yang bermartabat, terhormat dan layak untuk dibanggakan.
Disinlah patriotisme bukan lagi membahas kewenangan/ kekuasaan atau rebutan-rebutan sumber daya melainkan membahas moralitas, spirituatas, profesonalitas dan  modernitas untuk semakin manusiawinya manusia. Yang tercermin melalui moralitas dan spiritualitas  seni dan budaya sebagai jalan hidup yang mampu untuk bertahan hidup dan memberi kehidupan untuk tumbuh dan berkembang.

Patriotisme seni dan budaya merupakan suatu pendekatan pembangunan peradaban untuk menjaga keteraturan sosial, dengan seni budaya konsistensi, tahan banting dalam menghadapi kerasnya kehidupan dan keterbatasan bahkan dalam kemiskinannya sekalipun tidak terkoyak lekangnya ruang dan waktu.***

[Chryshnanda Dwilaksana]

Bagikan

Berita Terkait

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co