Noor Kids, Penggubah Buku Anak Islam untuk Muslim Dunia

Ilustrasi. Buku-buku terlihat melalui jendela perpustakaan tertutup di Sekolah Dasar Watlington, Inggris, 21 Mei 2020. (Foto: Reuters/Eddie Keogh)

TRANSINDONESIA.CO – Membesarkan anak sebagai Muslim di Amerika tidaklah mudah. Karena Islam merupakan agama minoritas, anak-anak sering berhadapan dengan berbagai persepsi keliru mengenai Islam di lingkungan sosial mereka. Parahnya, persepsi-persepsi itu umumnya keliru, dan tak jarang akhirnya membuat mereka terkucil. Tiga bersaudara berusaha mengubah keadaan itu. Mereka mendirikan perusahaan bernama Noor Kids yang tujuan utamanya menghasilkan buku cerita Muslim yang mudah dimengerti anak-anak dan mengajak mereka mendalami Islam.

Dikutip dari Voaindonesia, Senin (29/6/2020), Seorang penulis buku dan pendongeng, Amin Aaser, rutin menggelar acara di kanal Youtube. Saat itu ia sedang bercerita mengenai tokoh Simba dalam film “The Lion King” dan mengajak anak-anak Muslim mencontoh kepribadian Simba yang tidak pantang menyerah dan berani membela kebenaran.

Bersama saudara laki-lakinya, Mohammed Aaser, ia membuka bisnis buku anak Muslim bernama Noor Kids sejak tahun 2000.

“Ini bukan buku biasa. Buku ini masing-masing mengusung tema penting seperti jangan pernah menyerah, berbersih diri, kekuatan doa, menunaikan ibadah haji dan banyak lainnya. Tujuan kami adalah mengajarkan anak-anak ajaran Islam dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti,” kata Amin.

Menurut Amin, pengalaman masa kecilnya, serta pengalaman saudara laki-laki dan saudara perempuannya, sebagai keturunan pasangan imigran asal Pakistan, di negara bagian Minnesota merupakan inspirasi buku anak-anak berseri itu. Ia dan saudara laki-lakinya sendiri yang pada awalnya menulis buku-buku itu dengan mendapat pengarahan dari sejumlah tokoh Muslim berpengaruh.

Kisah-kisahnya dipusatkan pada sebuah kota kecil bernama Maple Grove, sebuah kawasan pinggiran Minneapolis, di mana ia dibesarkan. Salah satu dari empat karakter utama dalam cerita buku-buku itu adalah panda karismatik yang juga bernama Amin.

Amin, 32, mengaku, ia dan saudara-saudaranya mendapatkan ide membuat buku cerita anak pada sebuah acara kumpul keluarga, atau tepatnya setelah suadara perempuannya mengumumkan sedang hamil. Karena pengalaman masa kecil mereka yang kurang menyenangkan, mereka tidak ingin generasi berikutnya –terutama anak-anak Muslim– menghadapi kenyataan esrupa.

Buku seri mereka berjudul utama Noor Kids. Noor artinya cahaya dalam bahasa Arab. Mereka ingin, buku-buku karya mereka memberi penerangan bagi anak-anak Muslim

Buku-buku Noor Kids mengangkat kisah sederhana untuk konsumsi anak usia 4 hingga 8 tahun. Buku itu mengulas kisah empat hewan kartun dengan nama bernuansa Muslim, yakni Amin, Shireen, Asad, dan Amira.

Shareefah Shaleh, seorang anak perempuan berusia 7 tahun, mengaku senang dengan buku-buku Nor Kids.

“Saya melihat buku-buku Noor Kids. Saya senang. Saya sudah punya empat. Saya suka membacanya. Saya selalu menunggu buku-buku Noor Kids lainnya,” kata Shareefah Shaleh.

Begitupun ayahnya, Zulham Shaleh.

“Oh.. buku Noor Kids datang. Mereka sangat senang. Mereka tidak mau meninggalkan buku itu sebelum selesai membacanya. Bagi saya, ini sangat membantu, saya ingin anak-anak saya mempelajari Islam dengan cara yang sederhana tapi mengena,” kata Zulham Shaleh.

Zainab Zulfam, seorang pakar masalah anak, juga ikut menyambut kehadiran buku-buku itu.

“Saya ingin anak perempuan saya tumbuh dan dinilai berdasarkan sifat-sifatnya, bukan karena agamanya. Apakah itu permintaan yang berlebihan? Saya ingin anak saya menjalani hidup karena pilihannya sendiri. Saya tidak ingin anak saya tidak malu sebagai Muslim,” kata Zainab Zulfam.

Noor Kids saat ini sudah sangat berkembang. Amin dan saudaranya kini mempekerjakan sejumlah penulis, penata artistik, dan beberapa staf pendukung lainnyanya. Mereka juga melebarkan sayap ke bisnis kemping online, dan berusaha membuat film animasi dan aplikasi komputer berbasis tokoh-tokoh dalam buku seri Noor Kids.

Amin dan Mohammed Aaser memiliki gelar kesarjanaan di bidang bisnis yang meyakinkan. Mohammed lulusan Harvard University, sementara Amin meraih gelar MBA di University of California, Berkeley.

Di balik keberhasilan mereka, Amin dan Mohammed masih sulit melupakan pengalaman masa kecilnya.

Mohammed, saat berusia 16 tahun, pernah bekerja di sebuah toko komputer. Setelah serangan teroris 11 September 2001, seorang pelanggan perempuan menghina namanya yang sangat terkesan Muslim dan menyatakan tidak ingin lagi datang ke toko itu karena ada Mohammed.

Amin, saat berusia 13 tahun, dan setelah serangan teroris 11 September, sering diolok-olok teman sekolahnya saat bulan Ramadan karena menjalankan ibadah puasa. Ibunya yang mengenakan jilbab juga sering menjadi sumber cemoohan teman-teman Amir.

Amir dan Mohammed tidak ingin pengalaman masa kecil mereka dialami keponakan mereka dan anak-anak Muslim lainnya. Lewat buku-buku Noor Kids, yang kini ratusan ribu kopinya telah tersebar di berbagai penjuru dunia, mereka ingin anak-anak Muslim bangga dengan identitas mereka dan selalu mematuhi ajaran Islam. [ab/uh]

Bagikan

Berita Terkait

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co