Pemimpin G-7 Pertimbangkan Kehadiran dalam KTT di Tengah Wabah Virus Corona

Pertemuan KTT G-7 di Biarritz, Perancis, 26 Agustus 2019. (Foto: dok.AP)

TRANSINDONESIA.CO – Para pemimpin negara-negara G-7 mempertimbangkan gagasan Presiden AS Donald Trump mengenai KTT yang dihadiri langsung oleh mereka, kemungkinan bulan depan, sementara jumlah kasus virus corona terkonfirmasi di dunia telah melampaui 5 juta.

Trump mengangkat gagasan itu hari Rabu (20/5) sewaktu ia mencuit bahwa AS sedang bertransisi kembali ke Kejayaan. “Negara-negara anggota lain juga sedang memulai Kepulihan,” tulis Trump. “Ini akan menjadi pertanda hebat bagi semua, normalisasi!”

Juru bicara pemerintah Jepang Yoshihide Suga, Kamis (21/5) mengatakan kehadiran PM Shinzo Abe “masih dalam pertimbangan,” dan bahwa kedua negara “melakukan kontak dekat.”

PM Kanada Justin Trudeau mengatakan masalah pertemuan apakah dihadiri langsung atau secara virtual akan melibatkan pemeriksaan mengenai langkah-langkah keamanan apa yang diberlakukan dan rekomendasi dari para pakar.

Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan ia terbuka melakukan perjalanan guna mengikuti pembicaraan itu jika “kondisi kesehatan memungkinkan,” sedangkan Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan ia akan “menunggu dan melihat apa yang terjadi.”

Seluruh anggota G-7 telah mulai mencabut pembatasan-pembatasan lockdown yang diberlakukan untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Menteri Ekonomi Jepang, Kamis (21/5) mengatakan para pakar menyetujui rencana pemerintah untuk mencabut situasi darurat di Osaka dan dua prefektur lainnya, dan mempertahankan perintah situasi itu di Tokyo.

Rekor kasus baru dunia

Organisasi Kesehatan Dunia, Rabu (20/5) menyatakan pada hari itu tercatat rekor kasus baru virus corona secara global yang mencapai 106 ribu, angka per hari tertinggi sejak wabah dimulai.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dalam keterangan pers bahwa hampir dua per tiga kasus baru itu dikukuhkan di empat negara saja. Ia tidak menyebut negara-negara itu, tetapi beberapa media menyebut keempat negara itu adalah AS, Rusia, Brazil dan India.

Brazil mencatat rekor jumlah kasus baru pada hari Rabu (20/5) sejak wabah dimulai di sana, yakni hampir 20 ribu kasus dalam satu hari. Para pejabat di kota terpadat di negara itu, Sao Paulo, mengumumkan libur enam hari yang dimaksudkan untuk mencegah orang-orang keluar rumah dan menyebarkan virus.

Lebih dari 328 ribu orang telah meninggal karena virus corona. AS mencatat kasus terkonfirmasi terbanyak, sekitar 1,5 juta, dan jumlah kematian tertinggi, lebih dari 93 ribu.

Italia, Rabu (20/5) melaporkan bahwa jumlah kasus barunya turun dari 813 menjadi 665, sedangkan Spanyol melaporkan kurang dari 100 kematian pada hari keempat berturut-turut. Kedua negara tersebut adalah hotspot awal pada pandemi virus corona.

Upaya membuat vaksin

Upaya mendapatkan vaksin yang potensial berlanjut. Hari Kamis (21/5), perusahaan farmasi raksasa AstraZeneca menyatakan telah mencapai kesepakatan untuk memproduksi 400 juta dosis vaksin yang dikembangkan Universitas Oxford. Vaksin itu masih menjalani uji klinis untuk menentukan efektivitas dan keamanannya.

AstraZeneca menyatakan telah menerima 1 miliar dolar dari US Biomedical Advanced Research and Development Authority, bagian dari Departemen Kesehatan AS, untuk mengembangkan dan mengirimkan vaksin. Departemen itu menyatakan kesepakatan tersebut mencakup pesanan 300 juta dosis vaksin.

AstraZeneca menyatakan akan memasok tambahan 100 juta dosis vaksin untuk Inggris, dengan pengiriman pertama rencananya berlangsung bulan September. [uh/ab]

Sumber : Voaindonesia

Bagikan

Berita Terkait

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co