Indonesia Berdakwah

IPW: Anak Bangsa Berkonflik, TKA Cina Lenggang Kangkung

Warga melintas di dekat portal karantina wilayah di Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2020). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/wsj

TRANSINDONESIA.CO –  Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyatakan Presiden Joko Widodo tampaknya bingung dalam menghadapi wabah virus corona (Covid-19) yang semakin merebak melanda negeri ini. Akibatnya aparatur di lapangan pun gagap dalam bersikap, sehingga TKA Cina terus masuk dan berdatangan ke Indonesia  menimbulkan keresahan di masyarakat.

Neta melihat salah satu aparatur Polri gagap menyikapi situasi sekarang ini. “Dengan Maklumat Kapolri jajaran Kepolisian begitu gagah membubarkan pesta perkawinan, arisan dan kegiatan massal lainnya di masyarakat. Tapi ketika 39 TKA Cina datang ke Bintan, Kepulauan Riau, pada 31 Maret 2020 kemarin, Polri tak berdaya menghalaunya. Polri lebih berani kepada anak bangsa sendiri ketimbang kepada TKA Cina, dimana negaranya sebagai tempat virus corona muncul,” kata Neta Pane dalam keterangan tertulisnya diterima redaksi, Rabu (1/4/2020).

Neta menilai sikap gagap Polri tak terlepas dari sikap bingung Presiden Jokowi. “Sikap bingung ini terlihat saat Presiden memilih opsi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menangani virus corona. Alasan Jokowi, tak semua negara sama dalam menangani corona. Sehingga opsi karantina wilayah dan lockdown tidak dipilih,” terangnya.

Padahal lanjut Neta Pane, PSBB itu diambil Jokowi setelah meralat kebijakan darurat sipil yang banyak dikritik publik. Sebab publik berharap, Jokowi fokus dulu pada penerapan UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana dan UU No 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, yang hingga kini belum dijalankan pemerintah.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 21/2020 tentang PSBB ada tujuh pasal yang secara umum menjelaskan Percepatan Penanganan Corona. Pasal 1 misalnya, menjelaskan pembatasan kegiatan penduduk untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus Corona.

Anehnya lanjut Neta Pane, PP PSBB ini tidak mengatur pergerakan orang asing ke Indonesia, terutama kedatangan TKA asal Cina. Sehingga PP PSBB terkesan mendiskriminasi anak bangsanya sendiri dan mengistimewakan orang asing, terutama TKA Cina.

“Akibatnya, jajaran kepolisian akan sering konflik dengan anak bangsanya sendiri, ketimbang menghalau TKA Cina yang datang. Alasannya Polri harus mengamankan Maklumat Kapolri dan PP PSBB. Jika sudah demikian pasti masyarakat tidak akan peduli dengan kebijakan PSBB Jokowi,” ungkapnya.

“Tak heran pula jika kedatangan 39 TKA Cina ke Bintan, melalui Pelabuhan Bulang Linggi Tanjunguban pada 31 Maret 2020 kemarin lancar-lancar jaya,” tambahnya.

Sebelumnya pada 28 Maret 2020, sembilan TKA Cina masuk lagi ke Sulawesi Tenggara lewat jalur laut dari Bira, Sulawesi Selatan. Padahal sebelumnya di Ketapang, Kalimantan Barat, Polsek setempat mengusir TKA Cina yang datang ke daerah tersebut.

“Kami melihat ada dualisme sikap Polri dalam menghadapi TKA Cina ini. Di satu sisi, langkah pengusiran TKA Cina di Ketapang diambil jajaran Kepolisian sesuai petunjuk Maklumat Kapolri dalam menyikapi situasi nasional terkait kebijakan pemerintah dalam cegah tangkal dini adanya wabah Covid-19. Di sisi lain banyak kalangan kepolisian tidak berani menyikapi kedatangan TKA Cina ke negeri ini,” jelasnya.

Lebih lanjut Neta Pane berharap Presiden Jokowi tidak bingung dalam menghadapi wabah corona, sehingga PP PSBB bisa bersikap tegas terhadap kedatangan TKA Cina. Jika tidak, PSBB itu hanya memusuhi bangsanya sendiri di tengah wabah Corona. Sebab, masyarakat yang berkumpul melakukan pesta perkawinan, arisan, acara olahraga dan lainnya, akan dihalau Polri. Begitu juga warga yang hendak mudik, baik dari Jakarta maupun luar negeri diimbau agar tidak mudik.

“Sementara TKA Cina dimana negaranya sebagai sumber virus corona bisa bebas lenggang kangkung masuk hingga ke pedalaman Indonesia. Ini menunjukkan bahwa PSBB produk Jokowi tidak jelas arahnya dan hanya akan memunculkan konflik antara masyarakat dengan Polri,” pungkasnya. [mm]

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.