TransIndonesia
TRANSTEKNO

Pemolisian : Pembangunan Infrastruktur dan Perubahan Sosial

Penulis Brigjen Pol Chrysnanda Dwilaksana. [TRANSINDONESIA.CO/Dokumen CDL]

TRANSINDONESIA.CO – Pesatnya laju pembangunan infrastruktur akan berdampak terjadinya kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat. Perubahan gaya hidup dan permasalahan-permaslahan sosial kemasyasrakatan pun akan semakin kompkeks.

Tergerusnya pola hidup yang sudah mapan akan berdampak papa berbagai gatra kehidupan masyarakat. Permasalahan tersebut tentu berdampak hal yang kontra produktif. Perubahan sosial yang tidak tertangani dengan baik berdampak luas dan hilangnya jati diri bangsa. Bagaimana dengan pemolisiannya?

Pola pemolisian di era digital atau dalam era revolusi industri 4.0 menuntut adanya pelayanan yang prima. Dengan standar cepat tepat akurat transparan akubtabel informatif dan mudah diakses.

Pemolisian dalam menjaga kehidupan membangun peradaban dan membuat semakin manusiawinya manusia dituntut memenuhi harapan masyarakat adanya pelayanan-pelayanan kepolisian yang prima. Selain itu kemajuan di bidang media berdampak pada diobok oboknya emosi masyarakat yang dapat memicu kebencian dan konflik sosial dan perpecahan bangsa.

Di sini fungsi polisi dengan pemolisiannya juga dituntut untuk berubah agar tetap mampu melindungi mengayomi dan melayani warga dari berbagai gerusan virtual di era post truth melalui hoax dan hembusan kebencian melalui primordial pada dunia yang aktual.

Pola pemolisian secara manual konvensional dan parsial tentu tdk akan mampu menghadapi hal tersebut.

Di era yang serba smart maka polisi juga dituntut smart dalam pemolisiannya melalui implementasi e-Policing atau pemolisian di era digital yang berbasis AI (Artificial Intellegence) dan IoT (internet of thing) yang dibagun pada sistem-sistem back office aplication dan net worknya. Sistem-sistem tersebut merupakan implementasi pola pengumpulan data dari berbagai recognation system, analitical system untuk menghasilkan produk yang dapat untuk memprediksi mengantisipasi dan memberi solusi. Implementasi e-Policing membangun sistem untuk menunjukkan algorutma atau pola polanya sesuai dengan fungsinya yang berbasis wilayah, berbasis kepentingan dan berbasis dampak masalah yang dibangun menuju big data system menuju one gate service system.

Berbicara sistem adalah berpikir holistik yang saling terkait ada semacam siklus masukan proses dan keluaran. Dalam pekerjaan yang profesional dilihat dari standarnya; standardization of work input stnadardization of work process dan standardization of work output dalam bentuk info grafis info statistik dan info virtual yang real time dan dapat digunakan any time.

Big data merupakan suatu sistem analitik data yang mampu menunjukkan prediksi antisipasi dan solusi atas berbgai gatra kehidupan sosial kemasyarakatan dengan data-data akurat tepat informatif dan mudah diakses. Kekuatan big data sistem adalah mampu menyajikan data-data akurat yang menjadi standar atas gempuran hoax dengan memberi sajian data bagi fact checker. Dengan big data system maka one gate service akan dapat diwujudkan.

Pola implementasi e-Policing secara konsep dapat dibangun grand strategi aturan-aturan sampai SOP nya dan penyiapan SDM yang akan mengawakinya.

Pola pemolisian dapat dilakukan melalui pola pengamanan komuniti dan lalu lintas.
Pada prinsipnya back office aplication dan networkingnya berbasis pada AI dan IoT yang dapat untuk :
1. Pemetaan
2. monitoring dan fungsi kontrol
3. menginput data
4. mengkomunikasikan dan sharing informasi
5. melakukan komando dan pengendalian 6.koordinasi dan bekerja lintas fungsi dan stake holder
7. Analisa data untuk dapat menghasilkan produk dan cara pandang holicopter view
8. Penyajian produk-produk prediksi antisipasi dan solusi
9. Point 1 sd 8 dapat ditunjukkan secara infografis info statistik dan info virtual dalam berbagai model atau variasi yang real time dan any time
10. Point 1 sd 9 tentu berbasis ciber security atas sistem-sistem yang dibangun
11. Pelayanan satu pintu atau one gate service dapat ditunjukkan pada sistem-sistem pelayanan publik yang prima : a. Cepat b. Tepat c. Akurat d. Transparan e. Akuntabel f. Informatif g. Mudah diakses.

Sebelah point diatas merupakan model yang dibangun sebagai bagian dari grand strategi yang dapat dikembangkan sesuai dengan konteks masing-masing fungsi yang di dukung dengan SOP dan K3I bagi petugas polisi yang mengawakinya melalui cyber cops.

Pemolisian di era digital atau era revw industri 4.0 dituntut untuk mampu menunjukkan :
1. Reformasi birokrasi
2. Inisiatif anti koruosi
3. Inovasi dan kreatifitas dalam meningkatkan kualitas kinerja kualitas pelayanan prima dan peningkatan kualitas hidup masyatakat
4. Mencerdaskan kehidupan bangsa
5. Memberikan jaminan dan legitimasi keamanan dan rasa aman warga masyarakat
6. Memiliki daya tahan daya tangkal dan daya saing
7. Mampu menjadi ikon cepat dekat dan bersahabat
8. Proaktif dan problem solving sekaligus empowering

Polisi dalam mengimplementasikan pemolisiannya mampu menunjukkan sebagai polisi yang :
1. profesional yang dapat diartikan ahli berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi
2. cerdas yaitu mampu kreatif dan inovatif serta dinamis sehingga dapat melampaui dan mengatasi perubahan yang begitu cepat
3. Bermoral menunjukkan kinerja polisi berbasis kesadaran tanggungjawab dan di siplin yang mampu menunjukkan keutamaanya sebagai polisi penjaga kehidupan pembangun peradaban sekaligus pejuang kemanusiaan
4. Modern berbasis pad IT sehingga pelayanan virtual dan aktual dapat diberikan secara prima. [Chrysnanda Dwilaksana]

Related posts

Juru Bicara “Alam”

Peluang Kesehatan Apple Bisa Menjadi Pasar Smartphone Tiga Kali Lipat

transindonesia.co

Amplop

transindonesia.co

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.