TransIndonesia
TRANSTEKNO

Ilmuwan Temukan Fosil Penguin Seukuran Manusia Dewasa

Ilustrasi.Foto: dok BBC

TRANSINDONESIA.CO – Para ilmuwan di Selandia Baru menemukan fosil seekor penguin raksasa. Penguin seukuran tubuh orang dewasa itu diperkirakan hidup di lautan 60 juta tahun lalu. Para ilmuwan mengatakan spesies penguin itu diperkirakan memiliki tinggi 1,6 meter dan berat mencapai 80 kilogram.

Mereka meyakini spesies penguin raksasa itu berkembang biak dengan pesat setelah punahnya dinosaurus. Penemuan itu pun diterbitkan dalam sebuah jurnal paleontologi Alcheringa: An Australian Journal of Paleontology.

Penulis sekaligus kurator Museum Centerbury, Paul Scofield mengatakan penemuan itu sangat penting, terlebih spesies penguin raksasa yang ditemukan mirip dengan spesies penguin lain yang pernah ditemukan di Antartika pada tahun 2000. Menurut Scofield hal itu membantu dalam menunjukkan adanya hubungan antara kedua wilayah itu selama zaman paleocene.

Menurutnya setelah punahnya dinosaurus, reptil laut, hingga ikan raksasa, terdata adanya peluang evolusi penguin untuk berkembang dan tumbuh dalam ukuran besar.

“Dengan tak adanya predator besar, (isi) lautan matang untuk diambil. Sepertinya apa yang terjadi adalah penguin mulai mengeksploitasi itu,” kata Scofield dikutip dari Daily Sabah, Kamis (15/8/2019).

Meski demikian, Scofield mengatakan penguin raksasa itu punah 30 juta tahun lalu saat mamalia laut besar mulai menguasai perairan. Penguin raksasa bernama Crossvallia Waiparensis itu dua kali lebih berat dan 30 sentimeter lebih tinggi dari jenis penguin terbesar yang masih hidup sampai saat ini yakni penguin kaisar.

Scofield juga mengungkapkan tulang kaki penguin Crossvallia Waiparensis menunjukan kaki penguin itu mempunyai peran yang lebih besar untuk berenang dibandingkan dengan penguin saat ini.

Tulang belulang penguin raksasa itu mulanya ditemukan oleh seorang pegiat arkeologi Leigh Love sekitar 18 bulan lalu di dasar Sungai Waipara dekat kota Pulau Selatan, Christchurch. Love mengatakan melihat pecahan-pecahan  yang terkikis.

“Baru setelah  saya mendapatkan fosil di rumah dan melakukan sedikit persiapan saya menyadari bahwa saya memiliki sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang telah ditemukan sebelumnya,” katanya.

Love mengatakan bahwa hasratnya untuk mengumpulkan fosil dimulai sekitar 14 tahun yang lalu setelah sindrom kelelahan kronis mencegahnya bekerja selama beberapa tahun.“Hal itu mengilhami saya untuk keluar dan mencari lebih banyak,” katanya.

Profesor Universitas Massey John Cockrem mengatakan penemuan itu penting dalam menambah pengetahuan tentang penguin raksasa dan memperkuat Selandia Baru sebagai pusat penguin di dunia.

Sedangkan seorang profesor paleontologi dari Universitas Otago, Ewan Fordyce yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan penguin Crossvallia Waiparensis termasuk yang tertua yang pernah ditemukan.

Tulang belulang  penguin raksasa itu tengah dianalisis oleh kurator Museum Centerbury, Scofield dan Vanesa De Pietri bersama dengan ahli paleontologi Jerman, Gerald Mayr. Para ilmuwan mengatakan mereka telah menemukan spesies penguin baru di situs yang luar biasa, yang belum selesai mereka selidiki.

Sementara itu Selandia Baru juga diyakini menjadi tempat burung-burung raksasa yang punah, termasuk burung beo terbesar di dunia, elang raksasa dan burung mirip emu yang disebut moa. Para ilmuwan mengatakan kurangnya predator memungkinkan burung-burung seperti itu untuk berkembang.[ROL]

Related posts

Toyota Siap Bangun Rover untuk Jelajah Bulan

transindonesia.co

Aktivis Perempuan Puji “27 Steps of May”

transindonesia.co

Mudik Happy

transindonesia.co

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.