TransIndonesia
TRANSSPORTS

Sepak Bola Putri AS Menuntut Kesetaraan Gaji

Pesepak bola putri AS, Megan Rapinoe, mengacungkan trofi setelah memenangkan laga final Piala Dunia Putri FIFA antara AS dan Belanda di Stade de Lyon, di Decines, di luar Kota Lyon, Perancis, 7 Juli 2019.[AP]

TRANSINDONESIA.CO – Tim sepak bola putri AS menjuarai Piala Dunia Putri FIFA setelah mengalahkan Belanda dalam laga final di Lyon, Perancis. Ini adalah gelar juara dunia keempat dan untuk pertama kali memenangkan setiap turnamen. Meski lebih berprestasi daripada timnas putra, mereka menerima bayaran lebih kecil

Tim putri Amerika mengalahkan empat tim Eropa lainnya, yaitu Swedia, Spanyol, Prancis dan Inggris, dalam laga penyisihan menuju final, dan pada 7 Juli lalu mengalahkan Belanda, yang juga juara Eropa.

Bintang tim Amerika Megan Rapinoe, yang menerima Sepatu Emas sebagai pencetak gol terbanyak dalam pertandingan itu, mencetak gol pembuka untuk tim AS dengan tendangan penalti pada menit ke-61. Rekan satu timnya Rose Lavelle menambahkan satu gol pada menit ke-69 untuk memastikan kemenangan mereka.

“Benar-benar suatu warisan sejarah yang berlanjut terus bagi tim sepakbola perempuan Amerika. Hebat, saya bangga dengan Amerika dan menjadi perempuan,” kata Leslie Taylor, penggemar timnas putri AS dari North Carolina yang mengunjungi Perancis.

Presiden Donald Trump yang berada di Washington, DC mengucapkan selamat kepada tim AS itu melalui cuitan di Twitter. Tetapi sebelumnya, pada turnamen yang berlangsung sebulan itu, Trump membalas ejekan Rapinoe yang mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mau datang ke Gedung Putih, meskipun ia dan timnya diundang untuk merayakan pasca-turnamen. Hal itu diucapan Rapinoe sebagai protes terhadap pemerintahan Trump.

Tim kesebelasan putri AS juga memenangkan gelar dunia pada 1991, 1999 dan 2015, dan meraih medali emas Olimpiade pada 1996, 2004, 2008 dan 2012.

Jerman adalah satu-satunya negara lain yang tim kesebelasan putrinya memenangi beberapa Piala Dunia, pada 2003 dan 2007.

Walaupun keberhasilannya dalam turnamen itu mendapat sambutan luar biasa di negeri sendiri, tim putri AS itu menuntut federasi sepak bola negaranya agar memberi bayaran yang setara dengan anggota tim nasional putra yang kesuksesannya jauh di bawah tim putri.

“Tim kesebelasan perempuan Amerika ini sudah selayaknya mendapat gaji yang jauh lebih besar daripada yang gaji diperoleh oleh tim pria, karena mereka lebih sukses daripada tim kesebelasan laki-laki,” kata Jasiz Kovak, seorang penggemar tim putri AS yang berusia 23 tahun.

Cameron Kreidman, penggemar yang berusia 13 tahun, juga setuju.

“Kalau dalam cabang olahraga yang sama dan prestasi perempuan benar-benar bagus, mereka seharusnya memperoleh penghasilan yang sama dengan laki-laki,” ujar Cameron Kreidman, yang berusia 13 tahun.

Gaji pokok setahun pemain sepak bola putri sekitar AS$30.000 atau sekitar Rp 417,6 juta, lebih rendah dari yang diterima rekan-rekan tim putra. Pemain setuju untuk mengajukan tuntutan setelah turnamen berakhir.

Federasi sepak bola memberi tim putra bonus AS$5,4 juta atau Rp 75,16 miliar setelah tim itu kalah pada babak ke-16 Piala Dunia 2014, sementara tim putri hanya mendapat AS$1,7 juta atau Rp 23,67 miliar ketika memenangi Piala Dunia 2015.[ps/ka]

 

Sumber : VOAIndonesia

Related posts

Muhammadiyah Gelar Olimpiade Quran, Seni dan Teknologi

transindonesia.co

Seks, Pemerasan dan Sepakbola

transindonesia.co

Ruud Gullit Sudah Dihubungi untuk Latih Timnas, PSSI Tunggu Respon

transindonesia.co

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.