TRANSDUNIA

Nasib Jurnalis Perempuan di Nikaragua Direndahkan Pemerintah

Wartawati Nikaragua Lucia Pineda Ubau dan rekannya, Miguel More, direktur 100% Noticias, yang ditangkap Desember 2018 atas tuduhan menghasut kebencian pada pemerintahan Ortega, berbicara kepada wartawan setelah bebas dari penjara di Managua, Nikaragua.[Reuters]

TRANSINDONESIA.CO – Sejak konfrontasi dimulai 14 bulan lalu antara pasukan pemerintah dan demonstran oposisi, lebih dari 300 wartawan mengatakan mereka pernah mengalami agresi, intimidasi dan opresi.

“Perempuan lebih rentan, orang-orang menggunakan media sosial untuk mengancam perempuan lewat facebook. Kami mendapat telepon dari orang-orang yang menyebut kami teroris, menyumpahi kami supaya mati, dan mencela kami,” kata Geraldine Dominguez, yang juga reporter untuk “Acción 10” di Nikaragua.

Dikutip dari voaindonesia.com, Senin (15/7/2019), sebuah laporan baru-baru ini oleh “Yayasan Violeta Chamorro” Nikaragua mengatakan semakin banyak jurnalis perempuan yang menjadi sasaran agresi dan ancaman oleh para pejabat negara. Studi itu juga mengatakan pihak berwenang memfitnah mereka untuk mendiskreditkan hasil pekerjaan mereka.

“Kita tetap harus berkata jujur, karena orang-orang tidak bodoh. Orang-orang tahu apa yang terjadi. Kita tidak bisa menutup sebelah mata karena itu artinya tidak bertanggungjawab sebagai reporter dan organisasi berita independen,” kata Geraldine.

Pakar sosiologi María Teresa Blandón menjelaskan bahwa sejak krisis sosio-politik dimulai di Nikaragua, sebagian pejabat pemerintah memperlakukan jurnalis secara tidak pantas, terutama jurnalis perempuan.

“Para pejabat pemerintah seringkali merendahkan para jurnalis perempuan, lewat bahasa tubuh dan komentar yang seksis,” kata Maria.

Misalnya, ada seorang reporter perempuan yang mengajukan beberapa pertanyaan sulit kepada politisi Lumberto Campbell… Campbell memegang bahu reporter itu, membelai rambutnya dan tidak menjawab pertanyaannya.

Namun, sebagian jurnalis seperti Tirsa Sáenz, direktur stasiun radio milik pemerintah “La Primerisima”, yakin tidak ada perbedaan perlakuan terhadap jurnalis laki-laki dan perempuan di negara itu.

“Para jurnalis di Nikaragua harus meninjau pekerjaan yang mereka lakukan tahun lalu. Para wartawan lebih bias dan itu memicu kekerasan,” ujar Tirsa.

Sejak krisis politik dimulai, laporan yayasan itu mengatakan 67 jurnalis telah meninggalkan Nikaragua karena khawatir akan masalah keamanan, 25 diantaranya adalah perempuan. [vm/my]

Related posts

Wali Kota di Meksiko Ditangkap Terlibat Kartel Narkoba

transindonesia.co

Polisi London Tangkap Politisi Pakistan

transindonesia.co

Tiga Lagi Korban Meninggal Akibat MERS

transindonesia.co

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.